JANGAN BIARKAN HATIMU MENGERAS SEPERTI BATU

Segenap pembaca rahimakumullah,
Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba adalah hati yang lembut, hati yang mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, mudah menangis karena takut kepada-Nya, mudah menerima nasihat, dan ringan untuk bertaubat.
Sebaliknya, di antara musibah terbesar yang menimpa seorang hamba adalah saat hatinya mulai keras. Sebab hati yang keras akan menjauhkan seorang hamba dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
Allah Ta’ala memberi gambaran betapa buruknya hati yang keras.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah air darinya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 74).
Ayat ini menunjukkan bahwa hati manusia terkadang bisa lebih keras daripada batu. Padahal sebagian batu terkadang keluar darinya mata air, bahkan ada yang menggelinding dan meluncur jatuh karena tunduk dan takut kepada Allah.
Namun hati yang keras, tidak merasa luluh oleh nasihat, tidak bergetar oleh ayat-ayat Al-Qur’an, dan tidak tersentuh oleh peringatan kematian.
Allah juga berfirman:
أَلَمۡ یَأۡنِ لِلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا یَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِیرࣱ مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk dan khusyuk hati mereka mengingat Allah dan tunduk terhadap kebenaran yang telah diturunkan (Al-Qur’an)? Dan Janganlah mereka seperti orang-orang yang telah diberi Kitab sebelumnya. Lalu berlalu waktu yang panjang atas mereka, sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Ḥadīd : 16).
Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas, beliau berkata:
“Tatkala Allah menyebutkan tentang keadaan kaum mukminin laki-laki dan perempuan, serta kaum munafik laki-laki dan perempuan di negeri akhirat, maka hal itu seharusnya menjadi sesuatu yang mendorong hati untuk tunduk khusyu’ kepada Rabb-nya, merendahkan diri di hadapan keagungan-Nya. Maka Allah menegur orang-orang beriman karena belum terwujudnya hal tersebut. Allah berfirman:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk dan khusyu’ hati mereka mengingat Allah dan tunduk terhadap kebenaran yang telah diturunkan (Al-Qur’an)? (QS. Al-Hadid : 16).
Maksudnya, belumkah datang saatnya hati mereka menjadi lembut dan khusyu’ berdzikir mengingat Allah, yaitu (dengan membaca dan mentadabburi) Al-Qur’an, tunduk kepada perintah-perintah Al-Qur’an, dan menjauhi larangan-larangannya serta tunduk kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ayat ini mengandung dorongan agar bersungguh-sungguh menghadirkan kekhusyu’an hati kepada Allah Ta’ala, dan kepada Al Quran serta hikmah yang telah Dia turunkan.
Orang-orang beriman hendaknya senantiasa mengingat nasihat-nasihat ilahi dan (menjalankan) hukum-hukum syariat pada setiap waktu, serta mengintrospeksi diri mereka terhadap hal itu.
Kemudian Allah berfirman:
“Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah diberi Kitab sebelumnya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka…”
Maksudnya, janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang Allah turunkan al-Kitab kepada mereka yang seharusnya menjadikan hati mereka khusyu’ dan tunduk dengan ketundukan yang sempurna. Akan tetapi mereka tidak Istiqomah dalam berpegang teguh kepadanya dan tidak kokoh dalam memegangnya.
Waktu pun berlalu begitu lama, sementara mereka terus berada dalam kelalaian. Akibatnya, iman mereka semakin hilang dan keyakinan mereka pun lenyap.
Lalu Allah berfirman:
“Maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Karena itu, hati senantiasa membutuhkan peringatan terhadap wahyu yang telah Allah turunkan dan nasihat yang penuh hikmah, pada setiap waktu. Tidak sepantasnya seseorang lalai dari hal tersebut. Sebab, kelalaian merupakan penyebab hati menjadi keras, dan mata menjadi beku, sehingga tidak lagi mudah meneteskan air mata karena takut kepada Allah. (Tafsir as-Sa’di, QS. A-Hadid : 16).
Maka, jangan biarkan hatimu mengeras seperti batu, bahkan lebih keras. Wallahul Muwaffiq.
(Al Ustadz Abu Ja’far).





