Raqaiq

SYUKURAN SEPULANG SAFAR: TRADISI ATAU SUNNAH NABI?

Undangan jamuan makan yang disiapkan oleh seseorang yang baru pulang dari safar, bepergian jauh, seperti jamaah haji adalah adab bertetangga dan bermasyarakat yang sangat indah. Di tanah air kita, hal ini sangat kental terlihat tatkala umat Islam menggelar tasyakuran setelah pulang usai menunaikan ibadah haji.

Perjamuan sebagai bentuk syukur atas keselamatan seorang musafir yang baru tiba di kampung halamannya ini, di dalam literatur keislaman dikenal dengan sebutan _Walimatun Naqi’ah_. Tidak hanya dikhususkan bagi jamaah haji, jamuan ini sejatinya berlaku umum bagi siapa saja yang baru pulang dari safar. Menghidangkan makanan dalam momen ini menjadi sarana yang sangat baik untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan berbagi kebahagiaan.

Bagaimana Syariat Islam Menilai Tradisi ini?

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shahih” no. 2923 disebutkan dari shahabat mulia Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala tiba di Madinah, beliau menyembelih seekor unta (jazur) atau sapi.

Dalam riwayat yang lainnya disebutkan dari Muharib, ia mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli seekor unta dariku seharga dua uqiyah dan satu atau dua dirham. Maka tatkala beliau tiba di Shirar¹, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyembelih seekor sapi. Sapi itu pun disembelih, lalu mereka memakan dagingnya. Kemudian ketika beliau telah tiba di Madinah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku: “Datangilah masjid lalu shalatlah dua rakaat.”

Dan beliau menimbang (membayar tunai) harga unta tersebut untukku.

Hadits di atas disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam bab Ath-Tha’am ‘Inda Al-Qudum wa Kana Ibnu Umar Yufthiru Liman Yaghsyah (Bab Membuat Makanan Ketika Sepulang Safar dan Ibnu Umar dahulu Selalu Menunda Puasanya untuk Menyambut Tamu-tamunya). Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan komentar: “Makanan (Ath-Tha’am) yang dimaksud di sini disebut sebagai An-Naqi’ah”.²

Pada judul di atas disebutkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits di atas.

Dahulu Ibnu Umar terbiasa puasa ketika sedang tidak bepergian, entah puasa wajib ataukah sunnah. Sebaliknya, beliau terbiasa untuk tidak berpuasa ketika safar, entah puasa sunnah maupun puasa wajib. Namun, ketika sepulang safar, beliau tidak terburu-buru melanjutkan puasanya. Tetapi beliau menunda, dan sengaja membuatkan makanan demi menyambut siapapun yang bertamu kepada beliau sepulang safar untuk mengucapkan salam dan tahniah (selamat) atas kepulangannya, setelah itu barulah beliau berpuasa.³

Di sini kita bisa mengetahui bahwa Walimatun Naqi’ah merupakan perkara yang disunnahkan, juga dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam disaksikan, serta diikuti oleh para shahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga amalan ini adalah termasuk bagian dari sunnah yang diajarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya dan semoga Allah menerima ibadah haji kaum muslimin. Amiin. (UMBRJ).

 

————————-

¹ Nama sebuah tempat di dekat Madinah.

² Fathul Bari Jilid 7 hal. 340 cet. Daar Thaybah.

³ Disadur dari Fathul Bari Jilid 7 hal. 340-341 cet. Daar Thaybah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga
Close
Back to top button