Raqaiq

PELAJARAN TAUHID DARI IBADAH HAJI

Haji adalah ibadah mulia yang sarat dengan nilai-nilai tauhid. Kesan tauhid itu akan muncul dan semakin mendalam jika kita mau menghayati prosesi ibadah Haji dari awal hingga akhir.

Berikut ini pelajaran tauhid yang terkandung dalam sebagian rangkaian ibadah Haji.

Pertama: Ka’bah sebagai simbol tauhid

Sebelum melangkah jauh tentang proses ibadah Haji, keberadaan Ka’bah sendiri adalah simbol yang melambangkan tauhid. Sebab, visi pembangunan Ka’bah didasari atas landasan tauhid.

Nabi Ibrahim dan putranya Ismail ‘alaihimas salam, Allah memerintahkan mereka berdua untuk membangun Ka’bah atas nama Allah semata, tersucikan dari kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذۡ بَوَّأۡنَا لِإِبۡرَٰهِيمَ مَكَانَ ٱلۡبَيۡتِ أَن لَّا تُشۡرِكۡ بِي شَيۡـٔٗا وَطَهِّرۡ بَيۡتِيَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلۡقَآئِمِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

” Dan (ingatlah) ketika Kami menyiapkan tempat rumah Allah (Ka’bah) kepada Ibrahim, (dengan mengatakan): Janganlah kamu berbuat syirik kepada-Ku sedikitpun dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, serta orang-orang yang rukuk dan sujud.” (QS. Al-Hajj: 26).

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menafsirkan, ” Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan Ibrahim dan Ismail untuk membangun Ka’bah atas nama Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, untuk orang-orang yang thawaf, beritikaf dan shalat di sana.” (Tafsir al-Quran al-‘Azhim).

Kedua: talbiyah syiar ahli tauhid

Ibadah haji dimulai dengan ihlal , yaitu berniat untuk memulai proses manasik haji. Setelah itu, disyariatkan untuk mengucapkan talbiyah yang merupakan syiar tauhid bagi orang-orang yang menunaikan haji dan umrah.

Lafal talbiyah, sebagaimana riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu adalah, ” labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulka laa syarika laka.”

Artinya: ” Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi tanpa ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian, nikmat dan kepemilikan hanyalah bagi-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Nampak jelas, bahwa makna yang terkandung dalam talbiyah ini adalah seruan untuk beribadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya.

Ketiga: Pengagungan Ka’bah adalah pengagungan terhadap Allah

Sebab, mengagungkan Ka’bah adalah sikap mengagungkan syiar-syiar Allah dan merupakan tanda ketakwaan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى القُلُوب

Demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj : 32).

Ada berbagai amal perbuatan yang Allah khususkan untuk memuliakan Ka’bah, antara lain thawaf dan mencium Hajar Aswad padanya. Amalan tersebut tidak boleh diberikan kepada bangunan-bangunan manapun selain Ka’bah.

Oleh karena itu Umar bin Khathab pernah berujar Ketika mencium Hajar Aswad, “Sungguh aku tahu, kamu hanyalah sekadar batu, tidak bisa memberi manfaat atau memberi mudharat. Kalau sekiranya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu , tentu aku tidak akan menciummu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Bukan karena kesakralan Ka’bah kita mengagungkannya, akan tetapi karena ketauhidan kepada Allah yang telah memerintahkannya.

Keempat: setiap rangkaian manasik haji mengandung nilai tauhid

Tujuan mendasar dari pelaksanaan manasik haji adalah melaksanakan perintah Allah. Tak jarang, pada sebagian amalan haji dirasa berat oleh sebagian jamaah.

Ada amalan yang membutuhkan kebugaran fisik, seperti thawaf, sa’i, lempar jumrah, ditambah lagi dengan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain dalam kondisi berjubel dengan jutaan orang.

Ada pula amalan yang membutuhkan harta, seperti menyembelih hewan hadyu, membayar kafarah, dan lainnya, di samping biaya dasar perjalanan ibadah haji.

Tentu, semua itu tidak mungkin dilakukan seorang mukmin kecuali atas dasar tauhid kepada Allah. Keyakinan bahwa hanya Allah satu-satunya ilah yang berhak diibadahi dan ditaati secarat mutlak, itulah yang menggerakkan jutaan umat untuk melaksanakan rangkaian manasik haji.

Masih banyak lagi momen ibadah haji yang mencerminkan tauhid. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi inspirasi untuk menggali lebih dalam makna tauhid pada ibadah haji. (UFHR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga
Close
Back to top button