Intisari

SUKA DUKA PASTI MENYAPA

Kehidupan setiap orang itu seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Ada saatnya datang kemudahan, kelapangan dan kesuksesan. Di saat lainnya datang kesulitan, kesempitan dan kegagalan. Dua perkara yang datang silih berganti.

Keduanya datang dari Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagai ujian bagi para hamba-Nya untuk mengetahui kejujuran mereka dalam beriman. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Ankabut ayat : 2,

{ أ حسب الناس ان يتركوا ان يقول ءامنا و هم لا يفتنون }

Artinya : ” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji?

Namun apabila seorang mukmin mampu menyikapi ujian tersebut dengan benar, niscaya 2 perkara yang senantiasa bertentangan tersebut justru akan menjadi sumber kebaikan baginya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 عجبا لأمر المؤمن إن أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Benar-benar menakjubkan urusan dan keadaan seorang mukmin itu, hal ini karena sungguh seluruh keadaannya baik. dan kondisi ini tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali yang benar-benar beriman. Ketika diberikan kepadanya kesenangan dan kelapangan hidup, ia bersyukur dan ini baik baginya. Ketika ditimpa musibah dan kesempitan hidup, ia bersabar dan ini baik baginya.” (HR. Muslim no. 5318).

Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki setiap mukmin dalam menjalani kehidupannya, termasuk dalam kehidupan berumah tangga. Setiap pasangan pasti mendambakan kehidupan yang bahagia di dunia ini. Senantiasa diliputi kesenangan dan kesuksesan tanpa adanya onak dan duri yang menghadang.

Namun dalam kenyataannya, terkadang datang di kehidupan rumah tangganya kesulitan, kesempitan dan ketidakberhasilan. Maka kesenangan dan kesusahan, kesuksesan dan kegagalan, kelapangan dan kesempitan akan senantiasa menemani setiap keluarga.

Kunci menghadapi keduanya adalah dengan menjalankan apa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti dalam hadits diatas, yaitu bersyukur tatkala sesuatu yang menyenangkan hati itu datang dan bersabar saat ditimpa musibah dan kenyataan hidup yang tidak disukai.

MAKNA SYUKUR

Syukur yang benar haruslah padanya terpenuhi 3 hal.

Pertama, menanamkan sebuah keyakinan bahwa hanya Allah Subhanahu wa ta’ala sajalah yang berkuasa untuk memberikan kenikmatan tersebut, jadi bukan karena kerja keras dan usahanya semata.

Kedua, dengan lisannya ia memuji Allah Subhanahu wa ta’ala Sang Pemberi nikmat, seperti ucapan alhamdulillah.

Ketiga, memanfaatkan dan membelanjakan nikmat yang ia dapatkan untuk kebaikan dan ketakwaan.

MAKNA SABAR

Sabar adalah menahan diri dari sikap yang tidak terpuji, menahan lisan dari berkeluh kesah dan menahan anggota badan dari tindakan yang tercela seperti menampar wajah, merobek wajah, dan semisalnya.

Maka sudah selayaknya bagi setiap pasangan, baik suami maupun istri dalam menghadapi setiap kondisi perjalanan rumah tangganya dengan sikap syukur dan sabar.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan kepada kita sifat syukur dan sabar dalam setiap langkah kehidupan ini.

(Intisari Pak Abdul Malik).

 

Link intisari https://buletin-alilmu.net/intisari-suka-duka-pasti-menyapa/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga
Close
Back to top button