Raqaiq

AGAR SHALAT MENCEGAH DARI PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR

Shalat adalah rukun Islam paling agung setelah dua kalimat syahadat. Shalat bukan sekadar rangkaian gerakan lahiriah semata. Namun shalat adalah shilah, tali penghubung antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Mengapa Disebut “Shalat”?

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam kitab Riyadhus Shalihin:

Kata shalat berasal dari akar kata shilah yang bermakna hubungan atau penyambung.

Ketika seseorang berdiri melaksanakan shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya — berdialog, saling memberi dan menerima jawaban —.

Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits qudsi shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.”

Ketika seorang hamba membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Allah menjawab, “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Ketika ia membaca Ar-Rahmanir Rahim, Allah menjawab, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Ketika ia membaca Maliki yaumid din, Allah menjawab, “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Adapun ketika ia membaca Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allah berfirman, “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Lalu ketika ia membaca Ihdinash shiratal mustaqim hingga akhir surat, Allah menjawab, “Ini untuk hamba-Ku, dan baginya apa yang ia minta.”

Renungkanlah — ini adalah bentuk saling memberi dan menerima, sebuah dialog dan munajat antara manusia dengan Rabb-nya.

Hati yang Lalai di Tengah Munajat

Sungguh disayangkan, kebanyakan dari kita justru berpaling hatinya di tengah munajat yang agung ini. Pikiran mengembara ke sana kemari, padahal kita sedang bermunajat kepada Dzat yang mengetahui segala isi hati. Ini adalah bentuk kelalaian kita.

Karena itu, kewajiban kita — dan kita memohon pertolongan Allah untuk itu — adalah menghadirkan hati dalam shalat, agar shalat itu menjadi sebab terhapusnya dosa dan agar kita benar-benar mendapatkan manfaatnya.

Kita semua membaca firman Allah:

وَأَقِمِ الصَّلَاة إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut:45).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas:

“Adapun bentuk bagaimana shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, bahwasanya seorang hamba yang mendirikan shalat, yaitu yang menyempurnakan rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, serta kekhusyukannya, maka akan bercahaya hatinya, suci jiwanya, bertambah imannya, dan makin kuat keinginannya terhadap kebaikan, serta makin berkurang atau bahkan hilang sama sekali keinginannya terhadap keburukan.” (Tafsir As-Sa’di halaman 632).

Empat Keistimewaan yang Menunjukkan Keagungan Shalat

Di Dalam kitabnya yang lain yaitu kitab Fathul Dzil Jalali wal Ikram bi Syarhul Bulughil Maram, Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan empat hal yang membedakan pensyariatan shalat dari ibadah lainnya:

1. Allah mewajibkannya secara langsung.

Allah mewajibkan shalat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung tanpa perantara. Berbeda dengan zakat, puasa, dan haji yang melalui perantara malaikat Jibril.

2. Allah mewajibkannya di tempat yang paling tinggi.

Shalat tidak diwajibkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di bumi, melainkan ketika beliau berada di langit, melewati tujuh lapis langit — tempat tertinggi yang pernah dicapai manusia.

3. Allah mewajibkannya pada waktu paling mulia.

Shalat diwajibkan pada malam yang paling mulia bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu malam Isra’ Mi’raj — tidak diwajibkan pada waktu sembarang.

4. Allah mewajibkan shalat pertama kalinya 50 shalat.

Shalat tidak diwajibkan hanya satu kali, melainkan lima puluh kali shalat dalam sehari semalam — menunjukkan betapa Allah mencintai ibadah ini dan ingin hamba-Nya senantiasa sibuk dengannya.

Kisah Peringanan: Dari Lima Puluh Menjadi Lima

Allah menetapkan sebab bagi segala sesuatu. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari langit dalam keadaan pasrah dan ridha dengan kewajiban dari Allah, beliau bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam.

Musa bertanya apa yang diwajibkan Allah atas umatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: lima puluh shalat dalam sehari semalam.

Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku telah menguji manusia sebelummu dan telah berusaha keras menangani Bani Israil. Kembalilah kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan untuk umatmu.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali menghadap Allah, dan terjadilah dialog berulang antara beliau dan Musa hingga Allah menjadikannya lima waktu.

Namun dengan karunia dan kemurahan-Nya, Allah berfirman:

“Itu adalah lima (secara pelaksanaan), namun (pahalanya setara) lima puluh dalam timbangan.”

Bukan Sekadar Kelipatan Pahala Biasa

Ini bukan seperti kaidah umum “satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” Jika demikian, tidak akan ada keistimewaan khusus bagi shalat dibanding amalan lain. Namun ini adalah kekhususan tersendiri: shalat lima waktu yang dikerjakan setara pahalanya dengan lima puluh shalat. Allah berfirman, “Itu lima secara perbuatan, namun lima puluh dalam timbangan.” Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat ini.

Penutup

Karena itulah Allah Subhanahu wa ta’ala mewajibkan shalat atas hamba-hamba-Nya lima kali dalam sehari semalam — lima waktu yang tidak boleh ditinggalkan, harus senantiasa bersama Allah, bermunajat kepada-Nya lima kali dalam sehari semalam. Lima waktu yang wajib ditunaikan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Al Ustadz Muammar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga
Close
Back to top button