MELIHAT KEINDAHAN ALAM, DOA APA YANG DIBACA?

Keindahan alam, mulai dari tingginya gunung-gunung yang menjulang, eloknya bentangan samudra, warna-warni langit saat matahari terbit dan terbenam, hingga indahnya kerlap-kerlip bintang di langit di malam hari, bukanlah sekadar penorama yang memanjakan mata.
Dalam pandangan Islam, alam semesta termasuk salah satu ayat kauniyah yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala yang ada di alam semesta. Merenungi dan mentadabburinya akan menjadikan kita tahu dan yakin betapa besar dan agungnya Dzat yang menciptakannya.
Setiap detail keindahan yang ada di alam merupakan manifestasi atau bukti langsung dari sifat Allah Yang Maha Indah (Al-Jamil) dan Maha Pencipta (Al-Khaliq).
Segala bentuk harmoni keindahan alam ini seharusnya mengantarkan kita pada kesadaran terhadap keindahan dan keagungan yang tidak terbatas dari Sang Penciptanya.
Jika mahakarya-Nya saja begitu memukau, maka Dzat yang menciptakannya tentu jauh lebih agung, Maha Indah, dan Maha Kuasa. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an,
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ
‘’ Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan, …” (QS. As-Sajdah : 7).
Dalam salah satu ayat-Nya, Allah mengajak manusia untuk meneliti alam agar sampai pada kesimpulan akan keagungan-Nya,
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran :191).
Ketika seorang muslim menyaksikan pemandangan alam yang mempesona, lisannya diajarkan untuk tidak sekadar berdecak kagum secara lahiriah, melainkan juga berdzikir menisbatkan keindahan tersebut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan mengucap kalimat tasbih (Subhanallah) yang mengandung makna menyucikan Allah Subhanahu wa ta’ala dari segala kekurangan.
Hal ini juga lah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita agar senantiasa bertasbih ketika melihat sesuatu yang menakjubkan.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menceritakan:
“Suatu malam aku bermalam di rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menjelang akhir malam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun, lalu keluar rumah. Beliau memandang ke langit, kemudian membaca ayat dalam Surah Ali ‘Imran (artinya):
‘Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang…’ hingga sampai pada firman-Nya: ‘…maka peliharalah kami dari azab neraka.’ (QS. Ali ‘Imran : 190–191).
Kemudian beliau kembali ke dalam rumah, lalu bersiwak dan berwudhu. Setelah itu beliau berdiri melaksanakan shalat. Kemudian beliau berbaring. Lalu beliau bangun lagi, keluar rumah, memandang ke langit, dan membaca ayat tersebut. Setelah itu beliau kembali, bersiwak, berwudhu, kemudian berdiri melaksanakan shalat.” (HR. Muslim : 256).
Kesimpulannya, tadabbur alam bukan sekadar kegiatan rekreasi atau melepas penat, melainkan juga sebuah ibadah hati (ibadah qalbiyah) yang akan meningkatkan keimanan setiap muslim. Ketika mata memandang alam yang indah, lisan membasahinya dengan doa dan tasbih, serta hati menyadari betapa kerdilnya diri manusia di hadapan kekuasaan Allah.
Semoga setiap jengkal keindahan alam yang kita saksikan senantiasa menambah keimanan dan ketaatan kita kepada Allah ‘Azza wa jalla.
(Al Ustadz Abdullah Probolinggo).





