Akhlaq

Yang Tak Bertulang Sering Membawa Petaka Malang

Di era modern, zaman semakin berkembang dan serba mudah. Teknologi kian maju, dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak dapat terpisahkan. Namun dibalik kemudahan itu, terbuka pula pintu besar bagi dosa lisan atau lebih tepatnya dosa jari dan tulisan. Dahulu orang berbicara dengan lisannya, namun kini dengan berkembangnya zaman, manusia sangat mudah berbicara dengan jemarinya di layar ponsel.

Padahal Islam telah mengajarkan kita untuk menjaga lisan dari segala ucapan yang sia-sia, dan buruk. Karena setiap kata yang keluar dari lisan, begitupula setiap tulisan yang kita ketik di media sosial akan dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak dihadapan Allah, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf :18).

Hendaknya seorang Mukmin benar-benar memperhatikan setiap kata yang keluar dari lisannya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

“مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ “

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47 ).

Hadits ini menunjukkan ukuran iman seseorang tampak dari bagaimana ia menjaga lisannya. Termasuk di zaman ini, seharusnya seorang mukmin menjaga postingan, komentar, dan status di media sosial agar tidak menyakiti orang lain, menjelekkan, menyebarkan keburukan, serta tidak berbuat kegaduhan dan menyulut api fitnah.

Sebab dari lisanlah kebaikan dapat tumbuh, dan dari lisan pula keburukan bisa muncul. Karena dengan sebab lisan, seorang hamba dapat terangkat derajatnya disisi Allah ‘Azza wa jalla, dan sebaliknya ia dapat tersungkur ke jurang Jahannam dengan sebab lisannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

“إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ”

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh ada seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhari no. 6478).

Maka, wahai saudara-saudara seiman di era digital ini hendaknya kita menjaga lisan, begitu pula menjaga jari-jari kita dari menulis yang tidak bermanfaat. Hal ini sebagai realisasi dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ ”

maka hendaklah ia ucapkan yang baik atau diam.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu menjaga lisan, hati, dan jari dari keburukan, serta menjadikan setiap ucapan kita sebagai sumber pahala dan kebaikan yang akan mengantarkan kita menggapai keridhaan serta meraih Jannah-Nya. Amiin. (UFDHL).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga
Close
Back to top button