Panduan Hidup yang Selalu Relevan dengan Kemajuan Zaman

Segenap pembaca rahimakumullah,
Zaman modern sering dipuji dan dibanggakan sebagai era kemajuan dan keterbukaan. Teknologi berkembang pesat, informasi menyebar dalam hitungan detik, dan gaya hidup manusia berubah drastis. Namun di balik gemerlap kemajuan itu, banyak hati yang gersang, keluarga yang rapuh, dan manusia yang kehilangan arah dan tujuan hidup. Stres, kecemasan, kesepian, dekadensi moral, individualistik, menjadi penyakit umum yang menjangkiti manusia di abad ini.
Di tengah kerumitan tersebut, sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir bukan sekedar sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai panduan dan pedoman hidup yang relevan dengan kemajuan dan perkembangan zaman dan menjadi solusi terbaik atas semua problematika yang dihadapi umat manusia sepanjang masa, sebab Ia adalah syariat yang datang dari Rabb semesta alam yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Perhatikanlah kandungan makna dalam ayat berikut ini, Allah ‘Azza wa jalla berfirman,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
“Dan kami turunkan kepadamu Alkitab sebagai penjelasan bagi segala sesuatu.” (QS An-Nahl: 89).
Atas dasar itu, segala problematika yang dihadapi umat manusia maka di dalam Alkitab dan as-Sunnah pasti ada solusinya.
Sebagaimana pula yang dipersaksikan shahabat Salman Al Farisi ketika ditanya apakah Nabi kalian mengajarkan segala sesuatu? beliau menjawab: tentu, beliau mengajari kami segala sesuatu.
Sunnah Nabi, Jalan Hidup yang Selaras dengan Fitrah
Allah Ta‘ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntun manusia untuk hidup sesuai fitrah. Disaat dunia modern mengajarkan kebebasan tanpa batas, maka sunnah mengajarkan keseimbangan. Setiap yang memiliki hak ditunaikan haknya sesuai porsinya, antara hak Allah, hak Rasulullah, hak diri, dan hak sesama.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak gaya hidup ekstrem (ghuluw) baik yang terlalu ekstrem dalam ibadah maupun yang berlebihan dalam kenikmatan dunia.
Perhatikanlah dengan seksama tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari tiga orang yang berjanji akan puasa terus menerus dan tidak akan berbuka, akan shalat malam terus-menerus dan tidak akan tidur, dan tidak ingin menikahi wanita, lalu beliau memberi arahan bahwa beliau adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa, bersamaan dengan itu beliau berbuka, tidur dan menikahi wanita.
Itulah tuntunan sunnah yang sesuai dengan fitrah dan akal sehat.
Sunnah Nabi dalam Menghadapi Stres, Kegelisahan dan tekanan hidup
Tekanan hidup modern, persaingan ekonomi, dan tuntutan sosial membuat banyak orang kehilangan ketenangan batin, dan mengalami stres. Tidak jarang manusia sampai menempuh jalan pintas dengan cara bunuh diri karena tidak sanggup menahan beban hidup.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan resep jitu dalam menghadapi kemelut dan kekalutan hidup, yaitu syukur dan sabar, serta melihat orang yang di bawah, agar tidak terjebak dalam kecemburuan sosial, dan agar terhindar dari penyakit hasad dan dengki.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh mengagumkan urusan orang beriman. Sesungguhnya seluruh urusannya baik baginya, dan hal tersebut tidak terjadi bagi seorang pun kecuali bagi orang beriman. Bila Ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka hal tersebut menjadi kebaikan baginya. Dan bila dia mendapatkan kesulitan ia bersabar maka hal tersebut menjadi kebaikan baginya.”
(HR. Muslim).
Sunnah sebagai Solusi Krisis Sosial
Salah satu problem besar dunia modern ialah pudarnya nilai kekeluargaan dan lemahnya hubungan sosial. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan sistem sosial berbasis kasih sayang, keadilan, kejujuran, keikhlasan dan penuh tanggung jawab.
Konsep ukhuwah islamiyyah, ta‘awun (tolong-menolong), dan rahmah (kasih sayang) dalam sunnah adalah obat bagi masyarakat yang individualistik.
Sunnah mengajarkan agar manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi rahmat bagi sesama.
Lihatlah gambaran nyata dalam sabda Rasulullah berikut ini :
“Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling dicintai Allah adalah rasa senang yang engkau masukkan dalam hati seorang muslim, atau engkau hilangkan darinya suatu kesulitan, atau engkau bayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan rasa laparnya. Aku berjalan bersama seorang saudara Muslim membantu suatu kebutuhannya lebih aku sukai daripada beritikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama 1 bulan.” (HR. Thabrani, di hasankan Asy-Syaikh al-Albani).
Semoga kita semua diberi Taufik oleh Allah untuk kembali kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah, dan diberi kesadaran bahwa Al-Quran dan as-Sunnah adalah sumber hidayah, sumber kebaikan, sumber kebahagiaan dan sumber solusi bagi setiap problematika hidup manusia, termasuk di zaman yang semakin modern ini.
Allah lah tempat memohon pertolongan.
Wallahu a’lam.





