Intisari

Audio: Keutamaan Asmaul Husna.

 

Di antara pokok keimanan seorang mukmin kepada Allah adalah bahwa Allah memiliki nama-nama Allah yang mulia (Asmaul Husna).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

( إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ )

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama seratus kurang satu. Barangsiapa menjaganya (ahshaahaa) ia akan masuk ke dalam al-Jannah (surga).” (HR. al-Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677).

Para ulama menjelaskan makna “أحصاها” pada hadits di atas sebagai berikut;

Pertama, menghafal lafazh-lafazhnya.

Kedua, memahami maknanya.

Ketiga, mengimaninya.

Keempat, beribadah kepada Allah dengan konsekuensi dari nama tersebut.

Allah memberikan pahala besar bagi hamba yang menjaga nama-nama Allah tersebut. Tentunya, menjaga nama-nama Allah tidak sekedar menghafalnya saja. Akan tetapi, menjaga nama-nama Allah itu disertai dengan memahami makna dan mengamalkan segala konsekuensi dari nama tersebut.

Untuk bisa menjaga nama-nama Allah tersebut kita perlu memiliki ilmu tentangnya. Asma Allah tidak terbatas dalam jumlah tertentu. Satu hal yang harus diyakini bersama, bahwa nama-nama Allah tidak terbatas pada bilangan tertentu.

Nama Allah tidak terbatas pada sembilan puluh sembilan saja. Bahkan nama-nama Allah itu lebih daripada itu. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah saja.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya), “Aku meminta kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang telah Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu hamba-Mu (Rasul), atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu.” (HR. Ahmad).

Penggalan hadits (artinya), “atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu,”

menunjukkan bahwa nama-nama Allah itu tidak terbatas.

Lalu bagaimana dengan hadits yang berisi bahwa nama Allah ada sembilan puluh sembilan? Apakah dua hadits tersebut bertentangan?

Perlu diyakini bahwa dalam agama Islam tidak ada dalil shahih yang bertentangan/kontradiksi. Mungkin sekilas memang terlihat bertentangan, namun jika dipahami seksama ternyata tidak.

Dijelaskan oleh para ulama, ternyata hadits pertama (yang berisi tentang sembilan puluh sembilan nama) menunjukkan keutamaan sembilan puluh sembilan nama tersebut. Yaitu, barangsiapa menjaganya dia akan masuk ke dalam al-Jannah. Sedangkan hadits kedua, berbicara tentang semua nama Allah.

Hal ini seperti seseorang yang memiliki banyak uang. Kemudian ia berkata, “Saya memiliki seratus ribu rupiah untuk sedekah dan infak.” Ucapan tersebut tidak berarti uangnya hanya seratus ribu saja. Bisa jadi, uang yang dimilikinya lebih daripada itu. Hanya saja, yang seratus ribu ia gunakan untuk sedekah.

Bahkan Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafii berkata (artinya), “Para Ulama bersepakat bahwasanya hadits ini (hadits yang berisi bahwa Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama) tidak terkandung di dalamnya pembatasan terhadap nama-nama Allah. Maka maknanya bukan berarti bahwa Allah tidak memiliki nama selain yang 99 nama ini. Hanya saja maksud hadits ini adalah bahwasanya barangsiapa yang menjaganya maka dia akan masuk al-Jannah.

Sehingga yang dimaksud adalah pengabaran tentang masuknya ke dalam al-Jannah dengan menjaganya bukan pengabaran tentang batasan al asmaul husna.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim 17/5).

Demikian halnya dengan dua hadits di atas. Keduanya tidak bertentangan, karena konteksnya berbeda. Bahkan, kedua hadits tersebut justru saling melengkapi.

Barakallahu fikum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button