MASIH ADA YANG RAGU KALAU ALLAH DI ATAS LANGIT?

Mempertanyakan keberadaan Allah Ta’ala sebenarnya bukan perkara baru dalam umat Islam yang perlu diingkari. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang melontarkan pertanyaan itu kepada salah seorang budak Wanita milik Mu’awiyah bin al-Hakam.
“Di manakah Allah?”, demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melempar pertanyaan.
“Ada di atas langit.” Jawab budak tersebut tanpa ragu. (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasai dan lainnya).
Imam Syamsuddin adz-Dzahabi (W. 748 H) berkomentar, “Demikianlah, setiap orang yang ditanya ‘Di manakah Allah?’ maka pasti bisa segera menjawab dengan fitrahnya bahwa Allah di atas langit.” (Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghaffar, hlm. 28).
Kemudian beliau menjelaskan, bahwa hadits di atas mengandung dua perkara:
Pertama, boleh seorang muslim bertanya tentang keberadaan Allah, bahkan ini perkara yang disyariatkan.
Kedua, disyariatkan menjawab pertanyaan di atas, bahwa Allah di atas langit.
Maka, barangsiapa mengingkari dua perkara ini, artinya ia telah mengingkari perbuatan Nabi (. (disadur dari Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghaffar, hlm. 28).
Keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala berada di atas hamba-hamba-Nya adalah insting manusiawi. Sebagai contoh, tanpa diajari oleh siapapun, seorang manusia yang lurus fitrahnya pasti akan mendongakkan wajahnya ke langit, menengadahkan tangannya dan memohon kepada Sang Pencipta ketika dalam keadaan butuh kepada-Nya.
Secara naluri, jiwanya akan membisikkan bahwa penguasa jagad raya ini adalah Yang Maha Tinggi di atas langit.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berharap agar Allah mengalihkan kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis kepada Baitullah Ka’bah, beliau senantiasa mendongakkan wajahnya ke atas langit. Berharap-harap agar Allah mengabulkan keinginannya.
Maka Allah Subhanahu wa ta’ala pun mengabulkannya, dan berfirman:
قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي ٱلسَّمَآءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ
“Sungguh kami telah melihat bolak-baliknya wajahmu mendongak ke atas langit, maka Kami akan mengalihkanmu kepada kiblat yang kamu sukai.” (QS. Al-Baqarah: 144).
Pada momen yang lainnya, di saat prosesi khutbah Haji di Padang Arafah, di akhir khutbahnya beliau menutup dengan ucapan “Ya Allah, persaksikanlah.. Ya Allah, persaksikanlah..” sembari mengacungkan jarinya ke arah langit. Sebagai isyarat, bahwa Allah ( berada tinggi di atas langit. (HR. Muslim).
Ada kisah yang menarik dari Imam al-Haramain (dua kota suci, Makkah dan Madinah), Abul Ma’ali Al-Juwaini (w. 478 H), salah satu imam besar bermazhab Syafi’i. Ketika itu, beliau enggan meyakini keberadaan Allah di atas langit. Maka datanglah seorang alim yang bernama Abu Ja’far al-Hamadzani (w. 531 H) dan mengkonfrontasinya tentang perkara ini.
Dia menyatakan, “Tidak ada seorang pun yang bedoa, memanggil Yaa Rabbi.., sebelum lisannya berucap, kecuali hatinya pasti tertuju ke arah atas, bukan ke kanan atau ke kiri. Maka bagaimana Anda bisa menolak fitrah ini?”
Mendengar pernyataan itu, Abul Ma’ali kebingungan, sembari berteriak, “Duhai bingungnya. Al-Hamadzani ini telah membuatku bingung!”
Demikian setiap manusia, tidak akan kuasa mengingkari fitrahnya yang lurus, bahwa Allah Sang Penguasa itu tinggi di atas para makhluk-Nya.
Bahkan, sudah ada bukti historis yang menunjukkan keberadaan Allah di atas langit. Yaitu, diangkatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke atas langit bersama malaikat Jibril dalam rangkaian peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik menyusuri langit satu per satu, sampai pada puncaknya tiba di Sidratul Muntaha di langit yang ketujuh. Di sanalah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomunikasi dengan Allah secara langsung, kemudian mendapatkan syariat shalat lima waktu.
Bagi orang yang beriman, ini jelas bukti yang tidak bisa disangkal. Sebab, sudah menjadi keyakinan seorang mukmin bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah kejadian yang wajib dibenarkan, berseberangan dengan orang-orang kafir Quraisy yang mendustakannya.
Jika kita mau menilik dalil-dalil syar’i, itu terlampau sangat banyak. Al-Qur’an dan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam penuh dengan pernyataan-pernyataan yang mendukung keyakinan tersebut.
Bagi pembaca yang ingin menelaah dalil-dalil tersebut, silakan menelaah kitab al-‘Uluw karya Imam adz-Dzahabi. Di dalamnya, beliau menghimpun puluhan dalil dari al-Qur’an dan ratusan dalil dari hadits Nabi , serta ribuan pernyataan ulama dari masa ke masa tentang permasalahan ini.
Semoga Allah yang Maha Tinggi mengaruniakan kepada kita kejernihan hati dan kecerahan pikiran serta fitrah yang lurus untuk mengimani segala sifat-sifat keagungan-Nya.
(Al Ustadz Fahri).


