Siroh

Kisah Kejahatan Pandangan Mata: Pelajaran dari Shahabat yang Terkena ‘Ain

Pandangan mata yang disertai rasa kagum, iri, atau dengki sering dianggap sepele. Padahal dalam syariat Islam ada perkara yang disebut ‘ain, yaitu pengaruh buruk yang terjadi dengan izin Allah akibat pandangan mata.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa ‘ain (pandangan mata hasad) adalah perkara yang benar adanya. Beliau bersabda:

الْعَيْنُ حَقٌّ

“‘Ain itu benar adanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa ‘ain bukan sekadar cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu kisah yang menggambarkan bahayanya adalah kisah seorang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jatuh sakit setelah dipuji karena keindahan kulitnya.

Hadits tentang Kisah Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu (artinya) ;

“Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunayf, ia berkata: Amir bin Rabi’ah pernah berjalan melewati Sahl bin Hunaif yang sedang mandi. Amir kemudian berkata:

“Aku tidak pernah melihat kulit yang indah dan bersih seperti yang kulihat hari ini, bahkan tidak pada kulit gadis pingitan sekalipun.”

Tidak lama setelah ucapan itu, Sahl tiba-tiba pingsan dan tersungkur ke tanah.

Orang-orang kemudian mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dilaporkan kepada beliau: “Tolonglah Sahl, dia sedang terbaring pingsan!”

Nabi bertanya: “Siapa yang kalian curigai (sebab penyakitnya)?”

Mereka menjawab: “Amir bin Rabi’ah.”

Nabi lalu bersabda: “Atas dasar apa salah seorang dari kalian hendak membunuh saudaranya? Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang mengagumkan pada saudaranya, hendaklah ia mendoakan keberkahan baginya (seperti mengucapkan Barakallahu fiik, pen).”

Kemudian Nabi meminta air dan memerintahkan Amir untuk berwudhu: mendoakan dan membasuh wajahnya, kedua tangannya hingga siku, kedua lututnya, serta bagian dalam kain sarungnya, lalu memerintahkan agar air bekas basuhan tersebut disiramkan ke tubuh Sahl.

Sumber: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 16023 dan an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 7619 dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah.

 

Penjelasan Hadits

Hadits ini menceritakan tentang Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif bahwa Amir bin Rabi’ah melihat Sahl bin Hunaif saat sedang mandi, lalu ia mengucapkan kalimat: “Aku tidak pernah melihat seperti hari ini, bahkan kulit gadis pingitan sekalipun.” Kalimat ini merujuk pada keindahan tubuh, kebersihan, serta keelokan warna kulitnya.

Istilah makhba’ah bermakna gadis yang dipingit di dalam kamar-kamar yang tersembunyi. Mereka dikenal memiliki kulit yang sangat halus, lembut, dan indah dipandang. Akibat ucapan tersebut, dengan izin Allah Subhanahu wa ta’ala, Sahl langsung terjatuh dan terkapar di tanah sesaat setelah kalimat itu diucapkan.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikabari mengenai kejadian tersebut, beliau bertanya, “Siapa yang kalian curigai?” Mereka menyebutkan nama seseorang (Amir bin Rabi’ah) yang telah mengucapkan kalimat tadi. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagaimana bisa salah seorang dari kalian membunuh saudaranya?”

Beliau kemudian memerintahkan pelaku tersebut untuk berwudhu, yaitu membasuh wajahnya, kedua tangan hingga siku, kedua lututnya, serta bagian dalam sarungnya. Air bekas wudhu dari orang yang menyebabkan ‘ain (pandangan jahat/kagum tanpa mendoakan berkah) tersebut kemudian disiramkan ke tubuh korban dari arah belakang. Inilah prosedur yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pelajaran dari Hadits:

1. Pengaruh Ain Itu Nyata

Pandangan mata yang disertai rasa takjub atau kedengkian (ain) benar-benar ada dan nyata. Pengaruhnya sangat kuat, bahkan terkadang bisa menyebabkan sakit parah hingga berujung pada kematian.

Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata:

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Mengapa salah seorang di antara kalian membunuh saudaranya?” adalah dalil bahwa pengaruh ain itu benar-benar nyata, dan terkadang ia bisa membunuh atau menjadi salah satu penyebab kematian.

2. Anjuran dan Kewajiban Mendoakan Keberkahan

Sabda beliau: “Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan?” adalah dalil bahwa ain tidak akan mendatangkan bahaya dan tidak akan melampaui batas jika orang yang memandang mendoakan keberkahan. Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang yang takjub melihat sesuatu untuk mendoakan keberkahan. Apabila seseorang mendoakan keberkahan, maka hal itu pasti akan menghindarkan dari bahaya. Cara mendoakan keberkahan adalah dengan mengucapkan: “Tabarakallah ahsanul khaliqin, Allahumma barik fihi“. (At-Tamhid 6/237-241).

3. Pujian bisa membawa mudarat bila tanpa doa. Amir bin Rabi’ah adalah sahabat yang mulia, namun ucapan kagumnya tetap berdampak karena tidak disertai doa keberkahan.

4. Islam memberi solusi. Syariat tidak hanya menyebutkan bahaya ‘ain, tetapi juga mengajarkan cara mengobatinya.

Wallahu a’lam bish shawab.

(Al Ustadz Muammar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button