Hadits

TATA CARA SHALAT ISTISQA’ (Shalat Meminta Hujan)

Sebuah Pertanyaan pernah diajukan kepada Mufti Kerajaan Saudi Arabia Asy Syaikh al ‘Allamah Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah

 

Pertanyaan:

Saudara kita juga bertanya tentang bagaimana tata cara pelaksanaan shalat istisqa (shalat meminta hujan)?

Beliau Menjawab,

Hendaklah Ia bertakbiratul ihram, kemudian bertakbir enam kali setelahnya. Lalu membaca doa istiftah, kemudian membaca surah Al-Fatihah dan surah lain yang mudah baginya.

Setelah itu, ia rukuk, kemudian bangkit dari rukuk, lalu sujud dua kali.

Kemudian ia berdiri untuk rakaat kedua dan mengerjakannya seperti shalat Id. Ia bertakbir lima kali ketika telah berdiri tegak, kemudian membaca surah Al-Fatihah dan surah lain yang mudah baginya.

Setelah itu, ia membaca tasyahud dan bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ia berdoa, lalu mengucapkan salam.

Shalat Istisqa dikerjakan seperti shalat Id. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakannya sebagaimana beliau biasa melaksanakan shalat Id.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau.

Ia memperingatkan mereka dari sebab-sebab terjadinya kekeringan, yaitu memperingatkan mereka dari berbagai kemaksiatan, karena kemaksiatan merupakan sebab terjadinya kekeringan, tertahannya hujan, dan turunnya berbagai hukuman.

Maka, ia memperingatkan orang-orang dari sebab-sebab datangnya hukuman, seperti kemaksiatan, berbagai keburukan, memakan harta orang lain dengan cara yang batil, kezaliman, dan kemaksiatan lainnya.

Ia juga mendorong mereka agar bertobat dan memohon ampun kepada Allah, serta membacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang berkaitan dengan hal tersebut.

Kemudian imam berdoa kepada Rabb-nya dengan mengangkat kedua tangannya. Orang-orang pun mengangkat tangan mereka seraya berdoa.

Imam memohon pertolongan dan turunnya hujan kepada Rabb-nya. Di antara doa yang dibaca adalah:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami.”

Sebanyak tiga kali.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، غَدَقًا مُجَلًّا، سَحًّا طَبَقًا، عَامًّا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، تُحْيِي بِهِ الْبِلَادَ، وَتُغِيثُ بِهِ الْعِبَادَ، وَتَجْعَلُهُ يَا رَبِّ بَلَاغًا لِلْحَاضِرِ وَالْبَادِ

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, yang menyenangkan dan baik akibatnya, yang lebat, yang menyeluruh, yang tercurah dengan deras, yang merata, bermanfaat dan tidak membahayakan. Dengan hujan itu, Engkau menghidupkan negeri-negeri, menolong hamba-hamba-Mu, dan menjadikannya, wahai Rabb, sebagai bekal kecukupan bagi orang-orang yang hadir maupun yang berada di pedalaman.”

Doa ini termasuk doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرْ لَنَا الضَّرْعَ، وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ

“Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami, limpahkanlah susu ternak untuk kami, dan curahkanlah kepada kami dari keberkahan-Mu.”

Ia bersungguh-sungguh dan terus-menerus dalam berdoa, serta mengulang-ulang doa:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.”

Demikianlah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Kemudian, di tengah-tengah doa, imam menghadap kiblat. Ia menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangannya. Ia menyempurnakan doanya antara dirinya dan Rabb-nya dalam keadaan mengangkat kedua tangannya.

Setelah itu, ia menurunkan kedua tangannya.

Orang-orang pun demikian, mereka mengangkat kedua tangan dan berdoa bersama imam mereka.

Ketika imam menghadap kiblat, mereka juga berdoa bersamanya, masing-masing berdoa kepada Allah untuk dirinya sendiri dan mengangkat kedua tangan mereka.

Para ulama mengatakan bahwa hal ini dilakukan sebagai bentuk tafa’ul (mengharapkan pertanda baik), yaitu berharap agar Allah mengubah kekeringan menjadi keadaan yang subur dan mengubah kesulitan menjadi kelapangan.

Sebab, disebutkan dalam sebuah hadis mursal dari Muhammad bin Ali Al-Baqir bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalik pakaian luarnya agar kekeringan berubah.

Maksudnya, hal itu dilakukan sebagai bentuk harapan baik kepada Allah agar mengubah keadaan yang sulit menjadi keadaan yang lebih baik.

Telah shahih dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadis Abdullah bin Zaid, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam membalik pakaian luarnya ketika beliau melaksanakan shalat Istisqa bersama mereka. Demikian pula, hal itu termasuk sunah bagi kaum muslimin.

Adapun dalam khutbah Jumat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membalik pakaian luarnya.

Beliau berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah ketika menyampaikan khutbah Jumat, sebagai bagian dari doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Memohon pertolongan kepada Allah agar diturunkan hujan dapat dilakukan dalam khutbah Jumat, dalam khutbah Id, dan dalam kesempatan lainnya.

Seseorang boleh memohon hujan kepada Allah meskipun ia sedang duduk di rumah atau di pasar. Tidak mengapa melakukan hal tersebut.

Doa istisqa dianjurkan bagi setiap individu maupun secara berjamaah.

Khutbah setelah shalat dilakukan seperti pada salat Id, sedangkan khutbah sebelum shalat seperti pada shalat Jumat.

Semua tata cara ini pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melakukan kedua cara tersebut.

Tujuan utamanya adalah berdoa, merendahkan diri dengan penuh ketundukan kepada Allah, serta menyampaikan keluh kesah kepada-Nya Yang Mahamulia dan Mahatinggi agar menghilangkan kekeringan dan kesulitan, serta menurunkan hujan dan pertolongan dari-Nya, Mahasuci dan Mahatinggi Dia.

Namun, pendapat yang lebih shahih dan lebih kuat menurut para ulama ahli tahqiq adalah bahwa beliau melaksanakan salat dua rakaat dengan dua kali rukuk saja, dua kali rukuk, dua kali bacaan, dan dua kali sujud. Inilah pendapat yang lebih sahih dan riwayat paling kuat mengenai hal ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Beliau melaksanakan salat dua rakaat, kemudian membaca tasyahud, bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berdoa.

Setelah mengucapkan salam, beliau menyampaikan khutbah kepada orang-orang dan memberikan nasihat kepada mereka. Beliau menjelaskan hukum-hukum shalat Istisqa, serta menjelaskan hukuman akibat dosa dan memperingatkan mereka agar menjauhinya.

Beliau juga menjelaskan bahwa mereka hendaknya memperbanyak sedekah, berbuat baik, memperbanyak zikir kepada Allah, dan memohon ampun kepada-Nya.

Demikian pula, para imam salat dan para khatib hendaknya mengingatkan dan memberikan nasihat kepada masyarakat, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Abu Urwah Abdullah Muntilan)

 

Sumber :

صفة صلاة الاستسقاء https://share.google/2LjybT6KSYjAlVQ0S

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button