PERKARA YANG DIBENCI RASULULLAH TAPI SERING KITA LAKUKAN

Dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ، وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا.
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai tidur sebelum shalat Isya dan berbincang-bincang setelahnya.” (HR. Bukhari : 468).
Hadits yang singkat ini mengandung sebuah pelajaran besar tentang bagaimana seorang Muslim mengatur waktunya, khususnya waktu malam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai tidur sebelum Isya karena dikhawatirkan seseorang tertidur sehingga shalat Isya terlewat atau dikerjakan di luar waktunya. Beliau juga tidak menyukai berbincang-bincang setelah Isya, apabila pembicaraan tersebut tidak memiliki kebutuhan dan menyebabkan seseorang menghabiskan malam tanpa manfaat.
Bagaimana dengan handphone pada zaman sekarang?
Jika dahulu yang membuat seseorang larut malam adalah duduk mengobrol, maka pada zaman kita, salah satu penyebab terbesar adalah handphone.
Awalnya hanya ingin membuka sebentar.
“Cuma lima menit.”
Kemudian melihat WhatsApp, berpindah ke Facebook, membuka Instagram, menonton YouTube, melihat TikTok, kemudian berpindah lagi ke video berikutnya.
Tanpa terasa satu jam berlalu.
Lalu berkata, “Sebentar lagi tidur.”
Ternyata bertambah satu jam lagi.
Akhirnya seseorang tidur dalam keadaan sangat larut, kemudian bangun dalam keadaan berat untuk melaksanakan shalat Shubuh, apalagi shalat Tahajjud.
Inilah yang perlu kita renungkan.
Malam bukanlah waktu untuk dihabiskan tanpa tujuan.
Allah menjadikan malam sebagai waktu untuk beristirahat.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا
“Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian.” (QS. An-Naba’: 9–10).
Seorang Muslim hendaknya memahami bahwa waktu adalah nikmat yang akan dipertanggungjawabkan.
Jangan sampai sebagian besar waktu malam habis untuk melihat sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan.
Lebih menyedihkan lagi jika seseorang mampu berjam-jam menatap layar handphone, tetapi merasa berat membaca Al-Qur’an beberapa halaman saja.
Mampu mengikuti puluhan video dan berbagai informasi di media sosial, tetapi tidak mampu meluangkan beberapa menit untuk berzikir kepada Allah.
Mampu begadang demi pertandingan, hiburan, atau percakapan yang tidak ada habisnya, tetapi mengantuk ketika mendengar adzan Shubuh.
Ini bukan sekadar masalah handphone. Ini adalah masalah bagaimana kita menggunakan waktu dan menjaga prioritas dalam kehidupan.
Bukan berarti setiap pembicaraan setelah Isya dilarang
Hadits tersebut bukan berarti setiap pembicaraan setelah shalat Isya adalah tercela.
Para ulama menjelaskan bahwa pembicaraan setelah Isya diperbolehkan apabila terdapat kebutuhan atau maslahat, seperti berbicara dengan keluarga, membahas ilmu, bermusyawarah, menyelesaikan pekerjaan yang penting, atau perkara lain yang dibenarkan syariat.
Yang tercela adalah menjadikan malam sebagai waktu untuk percakapan dan aktivitas yang tidak bermanfaat sehingga seseorang kehilangan waktu tidur dan akhirnya mengganggu ibadahnya. Tidak mampu bangun untuk melaksanakan shalat malam bahkan tidak mampu melaksanakan shalat Shubuh.
Semoga tulisan singkat ini menjadi nasehat bagi kita semua, agar kita bisa menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.
Wallahu a’lamu bish-shawab
(Al Ustadz Abu Ammar Yasir).




