Fiqih

Metode Para Nabi dalam Mendidik Keluarga

Para pembaca rahimakumullah, merupakan suatu kewajiban kita sebagai kepala rumah tangga untuk mendidik keluarga kita agar mereka selamat dari siksa api neraka. Keluarga yang dimaksud adalah istri dan anak, serta orang-orang yang dibawah tanggung jawab kita.

Hal ini sebagaimana perintah Allah dalam Al Quran,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6).

Apa saja yang wajib kita ajarkan kepada keluarga kita agar mereka selamat dari siksa api neraka?

Al ‘Allamah As Sa’dy rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan,
“Menjaga diri (dari siksa api neraka) yaitu dengan menetapi perintah Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dengan penuh ketundukan dan menjauhi larangan-Nya sejauh-jauhnya, serta bertaubat dari perbuatan yang dimurkai Allah yang mengharuskan balasan adzab.

Adapun menjaga istri dan anak-anak (dari siksa api neraka) yaitu dengan mendidik dan mengajari mereka, dan memaksa mereka untuk melaksanakan perintah Allah.

Maka seorang hamba tidak akan selamat kecuali telah melaksanakan perintah Allah pada dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya dari istri, anak-anak, dan selain mereka yang dibawah tanggung jawabnya.”

Pendidikan yang sangat ditekankan setelah tauhid (mentauhidkan Allah) adalah pendidikan shalat dan yang terkait dengannya seperti tata cara bersuci dan sebagainya. Yaitu mengajari mereka cara bersuci yang benar sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajari mereka tata cara shalat yang benar sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Pembaca rahimakumullah,
Allah mengisahkan tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam bahwa beliau memerintahkan keluarganya umtuk menunaikan shalat dan zakat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا.

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di dalam kitab (Al Qur`an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Rab-nya.” (QS. Maryam : 54-55).

Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau memerintahkan keluarganya untuk menegakkan shalat, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik (di akhirat) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Tha-ha : 132).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar kaum muslimin mengajari anak-anak mereka shalat untuk melaksanakannya sejak usia tujuh tahun dan agar memukulnya jika pada usia 10 tahun masih meninggalkan shalat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya),
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat dalam usia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika masih meninggalkannya) dalam usia 10 tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud : 495).

Mengapa ibadah shalat sangat ditekankan?

Karena ibadah shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab kelak pada hari Kiamat, hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ،

“Sesungguhnya pertama kali yang akan dihisab dari amalan seorang hamba adalah shalatnya, jika shalatnya baik maka sungguh dia telah beruntung dan berhasil dan jika shalatnya rusak maka sungguh dia telah gagal dan merugi.” (HR. At Tirmidzi : 413).

Oleh karena itu kita harus punya perhatian khusus terhadap amal ibadah shalat, baik pada diri kita maupun keluarga dan anak-anak kita. Karena ibadah shalat adalah tolok ukur terhadap amalan-amalan ibadah yang lainnya. Jika shalatnya baik maka baik pula seluruh amalan ibadah yang lain dan sebaliknya, jika shalatnya rusak maka akan rusak pula seluruh amalannya.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah bersabda (artinya),

“Pertama kali amalan seorang hamba yang akan dihisab pada hari Kiamat adalah shalatnya, maka jika shalatnya baik maka baik pula seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak maka akan rusak pula seluruh amalannya.” (Ash-Shahihah: 1358, dari shahabat Anas bin Malik).

Begitu banyaknya dalil-dalil yang mengandung perintah dan anjuran untuk melaksanakan shalat dan mengajarkannya kepada keluarga, ini menunjukkan begitu pentingnya ibadah yang satu ini yaitu ibadah shalat.

Maka dari itu kita harus punya perhatian lebih terhadap ibadah shalat ini baik perhatian terhadap diri kita sendiri maupun terhadap keluarga.

Karena jika shalat seseorang sudah benar sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dilaksanakan dengan khusu’ maka akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Allah ta’ala berfirman,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون

“Bacalah (Nabi Muhammad) kitab (al Qur`an) yang diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al ‘Ankabut : 45).

Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga bermanfaat. (UYSR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga
Close
Back to top button