Inilah Cara Mensyukuri Kemerdekaan

Nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala amatlah banyak, jika kita mencoba untuk menghitungnya niscaya kita tidak akan sanggup. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menentukan jumlahnya.” (QS. an-Nahl : 18).
Sehingga yang tersisa hanyalah kewajiban untuk terus mesyukuri nikmat-nikmat-Nya dengan sebaik mungkin agar nikmat tersebut terjaga dan terus bertambah, bukan malah hilang atau bahkan diganti dengan musibah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) untuk kalian, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sungguh adzab-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim : 7).
Di antara nikmat besar yang Allah Subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada kita adalah nikmat kemerdekaan. Tepatnya pada 80 tahun yang lalu di bulan ini yaitu bulan Agustus, Allah Subhanahu wa ta’ala memerdekakan bangsa Indonesia dari jajahan bangsa kafir, yang dengan sebab kemerdekaan inilah kita merasakan berbagai bentuk keamanan di negeri ini. Begitu aman dan nyaman bagi kita untuk beribadah, mencari rezeki, menuntut ilmu dan lain sebagainya.
Di sisi lain kita dapati banyak saudara-saudara kita di luar sana yang tidak merasakan nikmat keamanan seperti ini, sebut saja saudara semuslim kita di negeri Palestina yang hingga saat ini senantiasa dihantui rasa takut di setiap detik dalam berbagai aktivitasnya, baik saat beribadah, mencari rezeki dan lain sebagainya karena ancaman teror dari bangsa penjajah benar-benar nyata adanya.
Hal ini patut menjadi cambuk bagi kita untuk terus mengoreksi bentuk syukur kita terhadap nikmat kemerdekaan ini. Jangan sampai Allah Subhanahu wa ta’ala ganti nikmat ini dengan musibah karena kurangnya rasa syukur atau bahkan kufurnya kita terhadap nikmat yang agung ini, sebagaimana yang pernah terjadi pada umat terdahulu yang kisahnya abadi dalam al-Quran (artinya),
“Dan Allah telah membuat perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulu kala aman lagi tentram, rezeki berdatangan melimpah ruah dari segala tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah , karena itu Allah membuat mereka merasakan diliputi rasa kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. an-Nahl: 112).
Selain meyakini dengan hati bahwa nikmat kemerdekaan ini datangnya dari Allah Subhanahu wa ta’ala, senantiasa menyebut-nyebut besarnya nikmat ini dengan lisan kita agar tidak melupakannya, bentuk syukur lainnya adalah dengan memanfaatkan sebaik mungkin nikmat kemerdekaan ini untuk memperbanyak ibadah, memperbanyak amalan-amalan ketaatan serta berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan terus menuntut ilmu sebelum kesempatan seperti ini hilang sebagaimana yang terjadi di beberapa negeri di luar sana.
Tak lupa pula tentunya juga berupaya untuk memiliki andil dalam menjaga nikmat kemerdekaan ini dengan berkhidmat pada negeri sesuai dengan porsi masing-masing.
Bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan yang sering terlupakan oleh kita adalah bersyukur atau berterima kasih kepada pihak-pihak yang terdepan dalam menjaga kemerdekaan ini, mereka adalah pemerintah kita. Karena seseorang tidak akan pernah bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala jika ia tidak pernah bersyukur kepada manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya),
“Tidak akan bersyukur kepada Allah, orang yang tidak pernah bersyukur kepada manusia.” (HR. Ahmad No. 21838).
Sepantasnya bagi kita untuk memuliakan dan menghormati pemerintah kita dengan berbagai kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki, bukan malah membeci mereka; tidaklah menyebut tentang pemerintah melainkan hanya cacian dan hinaan saja.
Adapun berkaitan dengan kekurangan yang ada pada pemerintah karena mereka juga manusia biasa, maka islam telah membimbing cara untuk menasehatinya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya),
“Barang siapa yang ingin menasehati penguasa, janganlah dilakukan secara terang-terangan. Hendaknya ia pegang tanganya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau menerima nasehat tersebut, maka itu yang diharapkan dan bila sang penguasa tidak menerima, maka sungguh orang tersebut telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ibnu Abi Ashim hlm. 508).
Sehingga demonstrasi yang dilakukan sebagian orang dengan dalih menasehati pemerintah dengan cara turun ke jalan-jalan, bukanlah langkah yang tepat, terlebih seringkali demonstrasi mengakibatkan banyak mudarat semisal ketidak tertiban, pengrusakan sarana-sarana umum yang tentunya membuat banyak orang merasa takut, bahkan dalam prosesnya tidak jarang harus menelan korban jiwa.
Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga nikmat kemerdekaan ini dan juga memerdekakan kita dari pemikiran atau sikap yang salah terhadap pemerintah. (UAPLG).





