Hisab atau Ru’yatul Hilal, Mana yang Lebih Utama?

Telah diajukan pertanyaan kepada Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah tentang penentuan masuknya bulan Ramadhan dengan menggunakan ilmu hisab, berikut ini pertanyaan dan jawabannya.
Pertanyaan :
Di sebagian negara kaum muslimin, manusia memulai puasa tanpa bergantung kepada ru’yatul hilal (pengamatan/melihat hilal), mereka hanya mencukupkan dengan kalender. Bagaimana hukumnya?
Jawaban:
Tidak boleh memulai puasa bulan Ramadhan kecuali dengan ru’yatul hilal. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ
“Berpuasalah kalian berdasarkan ru’yatul hilal dan beridul fitrilah (berhari rayalah) kalian berdasarkan ru’yatul hilal. Jika (hilal) terhalangi atas kalian, maka perkirakanlah.” (HR. Al-Bukhari dalam sahihnya).
Tidak boleh bergantung kepada hisab, dikarenakan menyelisihi yang disyariatkan dan sering kali tidak akurat.
Akan tetapi bagi orang yang tinggal di negara kafir dan tidak ada perkumpulan kaum muslimin yang memiliki perhatian terhadap ru’yatul hilal, maka dia mengikuti negara Islam yang paling dekat dengannya dan paling dipercaya dalam mengamati hilal.
Jika berita yang ia bersandar dengannya tidak sampai, maka tidak mengapa untuk bergantung pada kalender.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka Bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16).
Saat ini, alhamdulillah sarana komunikasi telah tersedia dan kedutaan besar negara-negara Islam tersebar di seluruh dunia, demikian pula tempat belajar Islam dapat ditemukan di sebagian besar negara di dunia.
Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin saling mengenal tentang perkara ini dan perkara lain dari urusan agama mereka.(UAIA).
Sumber: https://alfawzan.af.org.sa/ar/node/7441






