Raqaiq

Tips Ampuh Menyemai Kecintaan Isteri

Menjalani kehidupan rumah tangga bahagia, tentu dambaan setiap insan. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan hadirnya rasa saling mencintai antara pasangan suami istri.

Di antara tips mendapatkan kecintaan sang istri adalah sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Ala,

وعَاشِرُوْهُنَّ بِالمَعْرُوْف

“Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisaa’ : 19).

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat di atas: “Yakni indahkanlah ucapan kalian kepada istri-istri kalian. Begitupula hiasilah perbuatan dan penampilan kalian sesuai kadar kemampuan kalian, sebagaimana dicintai yang demikian itu darinya (istri).”

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلَهٌنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْف

“Dan hak mereka (para istri) semisal kewajiban mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah : 228).

Shahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menafsirkan ayat ini dengan perkataannya:

إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ ، كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ

“Sungguh, aku akan berhias untuk istriku sebagaimana aku menyukai dia berhias untukku.” (Tafsir Ibnu Katsir surat al-Baqarah ayat 228).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah sebaik-baik kalian kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 3895).

Termasuk akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah baik pergaulannya, menyenangkan lagi berseri-seri wajahnya, bercumbu rayu dengan keluarganya, lemah lembut, melapangkan nafkah, tertawa bersama istri-istrinya sampai beliau berlomba lari dengan Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘Anha.

Hal itu untuk memperlihatkan cinta kasih sayangnya kepada istrinya.

Aisyah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berlomba lari denganku, kemudian aku mendahuluinya. Hal itu sebelum badanku gemuk.

Kemudian aku berlomba (di kesempatan lain) setelah badanku gemuk, namun beliau mengalahkanku. Lalu beliau bersabda: “Ini balasan atas kekalahan waktu itu.”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu mengumpulkan istri-istrinya setiap malam di rumah istri yang beliau bermalam padanya.

Terkadang beliau makan malam bersama istri-istrinya, setelah itu istri-istri beliau pulang ke rumahnya masing-masing.

Dahulu beliau tidur bersama istrinya dalam satu kain selimut, beliau meletakkan jubah yang ada di kedua pundaknya dan tidur dengan izar (sarung).

Apabila beliau telah menunaikan shalat Isya, beliau masuk ke rumahnya lalu berbincang bersama keluarganya sejenak sebelum tidur.

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata :

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُوْنَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُوْلُ اللهِ  ﷺ  مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ

“Aku menginap di rumah bibiku Maimunah (salah satu istri Nabi), maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbincang-bincang dengan istrinya (Maimunah) sejenak kemudian beliau tidur.” (HR. Al-Bukhari no. 4293).

Sungguh benar firman Allah Ta’ala,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh telah ada bagi kalian tauladan yang baik pada diri Rasulullah.” (QS. Al-Ahzab : 21).

Maka sudah sepantasnya bagi para suami yang ingin menuai kecintaan istri-istrinya untuk meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menjalani bahtera rumah tangganya.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir Rahimahullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button