Adab

Keutamaan Berdzikir

Edisi: 06 || 1441 H
Tema: Adab

بسم الله الرّحمان الرّحيم

Dzikrullah menyebut nama-nama Allah ta’ala yang mulia dan sifat-sifat Nya yang tinggi merupakan suatu ibadah agung yang tak ternilai balasannya. Lisan yang selalu basah dengan dzikrullah, mengucapkan tasbih, tahmid, takbir atau tahlil, yang disertai dengan hati yang khusyu’ akan membuahkan hasil yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata dan tak terbetik pula oleh bayangan manusia.

Hatinya semakin thuma’ninah (tenang dan lapang), dipenuhi rahmat dan taufiq dari Allah ta’ala. Sehingga ia mampu menghadapi semua problematika hidup ini dengan dada yang lapang dan hati yang sabar sambil mengharap keridhaan Allah. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman (artinya),

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (ar-Ra’ad: 28)

Kajian kita kali ini, tentang urgensi dzikrullah berdasarkan al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.

Kebutuhan Kita terhadap Dzikrullah

Para pembaca rahimahullah, kebutuhan seorang hamba kepada dzikrullah bagaikan tubuhnya yang selalu butuh kepada makan dan minum. Apabila ia lupa dari dzikrullah, maka pada hakekatnya ia dalam keadaan mati. Hatinya mati untuk mengagungkan kebesaran Penciptanya dan mensucikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia.

Penglihatan dan pendengarannya tidak berfungsi (mati) untuk merenungi ayat-ayat kauniyah (kesempurnaan penciptaan alam semesta) dan memperhatikan ayat-ayat syar’iyah (kesempurnaan hukum-hukum Allah ta’ala). Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menegaskan di dalam sabdanya,

مثل الّذي يذ كر ربّه والّذي لايذ كر ربّه مثل الحيّ و الميّت

“Permisalan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. al-Bukhari no. 6407, dari shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiallahuanhu)

Bahkan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menegaskan pula, bahwa rumah yang kosong dari dzikrullah ibarat rumah yang dihuni oleh orang mati. Sebagaimana beliau shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

مثل البيت الّذي يذ كر الله فيه والبيت الّذي لايذ كر الله فيه مثل الحيّ والميّت

“Permisalan rumah yang digunakan berdzikir kepada Allah di dalamnya dan rumah yang tidak digunakan berdzikir kepada Allah di dalamnya, seperti orang hidup dan orang yang mati.” (HR. Muslim no. 779, dari shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahuanhu)

Kewajiban Dzikrullah

Para pembaca rahimakumullah, demikianlah kebutuhan seorang hamba terhadap dzikrullah. Atas dasar itulah Allah ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk senantiasa berdzikir kepada-Nya. Di dalam al-Qur’anul Karim, sangatlah banyak ayat-ayat yang memerintahkan untuk berdzikir kepada Allah ta’ala.

Di antaranya perintah untuk berdzikir secara mutlaq, di manapun (tentu di tempat yang layak), kapanpun dan bagaimanapun keadaannya. Sebagaimana firman Allah (artinya),

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kalian kepada Allah dengan dzikir yang banyak dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan sore hari, Dia-lah yang memberi rahmat kepada kalian. Dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untuk kalian) supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang).” (al-Ahzab: 41-43)

Di dalamnya ayat-ayat al-Qur’an yang lain, Allah ta’ala juga memerintahkan untuk dzikrullah yang dikaitkan dengan ibadah-ibadah tertentu, di antaranya ayat-ayat berikut ini:

1. Perintah untuk berdzikir setelah menunaikan shalat.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Selanjutnya apabila kalian telah menyesaikan shalat (kalian), berdzikirlah kepada Allah ketika kalian berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring.” (an-Nisa’: 103)

2. Perintah untuk berdzikir setelah menunaikan shaum (puasa).

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Dan sempurnakanlah hitungan puasa kalian dan bertakbirlah kepada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, agar kalian bersyukur.” (al-Baqarah: 185)

3. Perintah untuk berdzikir setelah menunaikan ibadah haji.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka berdzikirlah kepada Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut nenek moyang kalian, bahkan berdzikirlah lebih dari itu.” (al-Baqarah: 200)

4. Perintah untuk berdzikir di saat berjihad fii sabilillah.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berdzikir dan berdoa) agar kalian beruntung.” (al-Anfal: 45)

5. Perintah untuk berdzikir di dalam beraktivitas termasuk ketika mendari nafkah.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Apabila shalat (Jum’at) telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kalian di bumi; carilah karunia Allah dan berdzikirlah kepada Allah banyak-banyak agar kalian beruntung.” (al-Jumu’ah: 10)

Hakekat Dzikrullah

Para pembaca rahimakumulah, hakekat dzikrullah adalah kesiapan untuk tunduk dan pasrah dalam menerima (melaksanakan) syari’at-syari’at-Nya serta selalu berupaya untuk mencari al-Haq (kebenaran).

Apabila ada seseorang yang lisannya senantiasa basah dengan dzikrullah tetapi perbuatannya malah banyak melanggar syari’at Allah dan enggan untuk mencari kebenaran, maka sesungguhnya ia masih belum memahami arti dzikrullah dengan sebenar-benarnya.

Padahal Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Dan ingatlah Rabbmu pada dirimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 205)

Di dalam ayat di atas, Allah ta’ala memerintahkan untuk berdzikir dengan disertai raja’ (penuh harap) akan surga-Nya dah khauf (penuh rasa takut) akan siksa-Nya. Bagaimana ia berharap akan masuk al-Jannah (surga), sementara ia masih melalaikan/meninggalkan amalan-amalan yang diwajibkan kepadanya?

Bagaimana pula ia takut dari siksa-Nya yang amat pedih, sementara ia masih melakukan perbuatan-perbuatan keji yang justru akan memasukkannya ke dalam an-Naar (neraka)? Kita memohon perlindungan kepada Allah dari siksa api neraka.

Buah dari Berdzikir

Dzikrullah memiliki keutamaan yang sangat banyak sekali. Bahkan al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya Ighatsatul Lahafan menyatakan bahwa keutamaan dari dzikrullah bisa mencapai seratus lebih.

Di antara keutamaan berdzikir, adalah sebagai berikut:

1. Menenangkan jiwa dan menguatkan hati.

2. Meraih keberuntungan di dunia dan akhirat.

3. Mengusir syaithan dan mangenyahkannya.

4. Mendapatkan ampunan dan balasan yang besar dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Dan laki-laki maupun para wanita yang banyak berdzikir kepada Allah, sungguh Allah sediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Maukah kalian bila aku kabarkan tentang sebaik-baiknya amalan yang paling suci di sisi Penguasa Kalian (Allah ta’ala), yang paling meninggikan derajat kalian, lebih baik daripada infaq emas maupun perak, bahkan lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh kemudian kalian menebas leher-leher mereka atau mereka yang menebas leher-leher kalian? Para shahabat seraya menjawab, ‘Tentu, Wahai Rasulullah’, kemudian Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Dzikrullah’ (berdzikir kepada Allah).” (HR. at-Trirmidzi no. 3377, dari shahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiallahuanhu, lihat Shahih at-Tirmidzi [3/139])

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam juga bersabda, “Barangsiapa mengucapkan,

لا إله إلاّ الله وه حده لا شريك له, له الملك و له الحمد وهو على كلّ شيئ قدير

sebanyak 100 kali dalam sehari, maka dia mendapat pahala seperti pahala membebaskan budak, ditetapkan baginya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus keburukan, perlindungan dari gangguan syaithan pada hari itu hingga petang, dan tidak ada seseorang yang membawa sesuatu yang lebih utama daripada yang dibawa orang ini, kecuali orang yang melakukan lebih banyak lagi.

Dalam hadits lain Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam juga bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan,

سبحان الله و بحمده

sebanyak 100 kali dalam sehari, maka akan dihapuskan dosa-dosanya sekalipun dosa-dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim no. 2691, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Dan masih banyak lagi keutamaan dzikir-dzikir lainnya yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.

5. Senantiasa diingat oleh Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian.” (al-Baqarah: 152)

Peringatan dari Lalai Berdzikir kepada Allah ta’ala.

Allah ta’ala memperingatkan kita dari lalai berdzikir kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya),

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan sampai harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari berdzikir kepada Allah. Dan barangsiapa yang melakukan hal itu, maka mereka adalah orang-orang yang merugi.” (al-Munafiqun: 9)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

من قعد مقعدا لم يذ كر الله فيه كا نت عليه من الله ترة ومن اضطجع مضطجعا لم يذ كر الله فيه كا نت عليه من الله ترة

“Barangsiapa duduk pada suatu majelis dalam keadaan tidak berdzikir kepada Allah, maka hal itu menjadi pengurang dan kerugian dari Allah terhadapnya. Dan barangsiapa yang berbaring di atas pembaringan dalam keadaan tidak berdzikir kepada-Nya, maka hal itu menjadi pengurang dan kerugian dari Allah terhadapnya.” (HR. Abu Dawud no. 4856, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahunahu, lihat Shahihul Jami’ [5/342])

Akhir kata, mudah-mudahan tulisan yang singkat ini dapat menolong kita untuk terus berdzikir kepada Allah ta’ala agar kita termasuk orang-orang yang beruntung. Amin.

Wabillahi at-taufiq

Penulis: Tim Al-Ilmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga
Close
Back to top button