Fiqih

Puasa Syawal Sebelum Mengqadha’ Puasa Ramadhan, Boleh atau Tidak? Simak Penjelasannya!

Di antara keindahan syariat Islam adalah kelapangan dan kemudahannya. Allah ‘Azza wa jalla tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan, bahkan memberikan ruang dan waktu yang luas dalam menunaikan kewajiban, serta peluang besar untuk meraih pahala dari amalan-amalan sunnah.

Dalam hal ibadah puasa pun demikian, terdapat keseimbangan antara kewajiban yang harus ditunaikan dan amalan tambahan yang dianjurkan, yang semuanya mengandung hikmah dan rahmat.

Terkait ibadah sunnah di bulan Syawal, Apakah boleh berpuasa enam hari di bulan Syawal sebelum mengqadha’ (mengganti) hari-hari yang ditinggalkan di bulan Ramadan?

Pertanyaan ini telah diajukan kepada al-‘Allamah Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, beliau menjawab:

“Jika seseorang mampu mengqadha’ (mengganti) hari-hari yang ia tinggalkan di bulan Ramadan terlebih dahulu, kemudian berpuasa enam hari (di bulan Syawal), maka itu adalah hal yang baik.

Namun jika ia tidak mampu melakukan keduanya, maka boleh baginya untuk berpuasa enam hari tersebut, yang disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam (artinya) :

“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.”

Mengapa kita mengatakan demikian? Karena waktu untuk mengqadha itu luas (ada waktu 11 bulan lamanya), berbeda dengan puasa enam hari Syawal yang waktunya hanya ada di bulan Syawal saja.

Adapun waktu untuk mengqadha, maka telah diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata:
“Aku tidak mengqadha’ (puasa Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban,”
yaitu karena beliau sibuk melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(https://share.google/XjFJ7ED86uDf6J3PT ).

Fatwa beliau ini sejalan pula dengan fatwa jumhur ulama (mayoritas para ulama) termasuk ulama dari kalangan Mazhab Syafi’i sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Zakaria Al-Anshari asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab Asnal Mathalib jilid 1 hlm. 431.

Semoga Allah membantu kita untuk meraih pahala besar di setiap kesempatan yang Dia berikan.
Wallahu waliyyut taufiq. (UAJFR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga
Close
Back to top button