Tafsir

Tidak Akan Sesat dan Tidak Akan Celaka

Edisi : 04 || 1441 H
Tema : Tafsir

بسم الله الرّحمان الرّحيم

Allah ta’ala berfirman,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدٰيَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى

“Barangsiapa yang mengikuti petnjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Para pembaca rahimakumullah, di antara doa yang sering dipanjatkan oleh setiap muslim adalah doa memohon kepada Allah ta’ala agar diberi hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus. Ihdinash Shiraathal mustaqiim. Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus. Doa yang merupakan bagian dari surat al-Fatihah ini selalu dipanjatkan dalam setiap rakaat shalat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Setiap hamba terus-menerus sangat butuh terhadap maksud dan tujuan doa ini, yaitu doa mohon hidayah ke jalan yang lurus. Karena tidak ada jalan keselamatan dari adzab dan jalan menuju kebahagiaan hidup melainkan dengan hidayah ini.” (Majmu’ al-Fatawa [22/399])

Setiap hamba yang berhasil meniti jalan yang lurus ini, pasti ia akan selamat. Tidak akan tersesat serta tidak pula celaka dan sengsara dalam menjalani kehidupannya. Sehingga barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah ta’ala, sungguh ia benar-benar telah mendapatkan anugerah yang besar.

Menurut al Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah, hidayah merupakan nikmat terbesar yang Allah ta’ala karuniakan untuk hamba-Nya. Oleh sebab itulah, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa memohon kepada-Nya hidayah ke jalan yang lurus disetiap shalat lima waktu kita siang dan malam. (Miftah Dar as-Sa’adah [1/83])

Kebutuhan seseorang terhadap hidayah itu jauh lebih besar daripada kebutuhan seseorang terhadap rezeki yang bersifat materi, bahkan antara dua jenis kebutuhan tersebut tidak bisa dibandingkan. Hal itu karena ketika seseorang diberi hidayah, maka tentu dia termasuk orang yang betakwa. Barangsiapa bertakwa kepada Allah ta’ala, nicaya Dia akan memberi baginya jalan keluar atas setiap problem yang dia hadapi, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Demikan yang diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa.

Berpacu Menggapai Hidayah

Setelah mengetahui betapa mahalnya nikmat hidayah ini, sudah selayaknya bagi kita untuk berusaha menggapainya. Menggapai hidayah kepada jalan yang lurus dan istiqamah diatasnya.

Untuk menggapai hidayah, di samping berdoa kepada Allah ta’ala jangan lupa melakukan langkah nyata yang menjadi sebab-sebab datangnya hidayah. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahuanhu bahwa beliau mengatakan, “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya, niscaya Allah ta’ala akan memberikan hidayah kepadanya di dunia dari kesesatan, dan Allah akan menjaganya pada hari kiamat nanti dari kejelekan hisab (perhitungan amalan).” (Tafsir al-Baghawi, [5/300])

Dengan demikan, membaca kitab suci al-Qur’an disertai dengan mengamalkan bimbingan serta petunjuk di dalamnya merupakan salah satu sebab turunnya hidayah. Seseorang yang berhasil mendapatkan hidayah ini, pasti dia tidak akan tersesat di dunia ini dan tidak akan celaka di akhirat nanti.

Selain dari itu, ada beberapa hal yang juga menjadi sebab datangnya hidayah, di antaranya:

1. Beriman kepada Allah ta’ala dengan keimanan yang benar.

Keimanan yang benar adalah keimanan yang diisyaratkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya (artinya), “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 137)

Ayat di atas menunjukkan bahwa keimanan yang benar adalah keimanan kepada apa saja yang diimani oleh kaum mukminin yang jujur imannya, yaitu beriman kepada seluruh kitab-kitab yang Allah ta’ala turunkan dan beriman kepada seluruh rasul, tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir, [1/268]). Seseorang yang berupaya meningkatkan dan mengkokohkan imannya, maka hidayah akan semakin dekat dengannya. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Semakin kuat keimanan seorang hamba, maka ia lebih dekat untuk mencocoki kebenaran, berdasarkan firman Allah ta’ala (artinya), “Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tetang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.” (al-Baqarah: 213).

Dalam ayat ini, Allah ta’ala mengaitkan hidayah dengan sifat keimanan.” (Tafsir surat al-Baqarah, [3/35])

Hidayah juga akan Allah ta’ala berikan kepada orang-orang beriman yang tidak mencampuradukkan keimanannya dengan perbuatan syirik (menyekutukkan Allah ta’ala), sebagaimana dalam friman-Nya,

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

“Orang-orang yang beriman san tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)

Orang-orang yang mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu (tandingan) bagi-Nya, serta tidak berbuat syirik (menyekutukan Allah ta’ala) dengan sesuatu pun, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan pada hari kiamat serta mendapatkan hidayah di dunia dan akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir, [2/210])

2. Berpegang Teguh dengan Agama Allah.

Sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 101)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Berpegang teguh dengan (agama) Allah dan bertawakal kepada-Nya merupakan landasan untuk menggapai hidayah. Bekal untuk menjauhi kesesatan, serta sarana untuk mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus, dan tercapainya hal-hal yang diinginkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, [1/532])

3. Mengikuti dan Menaati Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Sebagaimana firman Allah ta’ala (artinya), “Dan ikutilah dia (Rasulullah), supaya kalian mendapat petunjuk.” (al-A’raf: 158)

Jika kalian tidak mau mengikuti beliau, pasti kalian akan tersesat dengan kesesatan yang jauh. Demikian ditegaskan oelh al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya.

Allah ta’ala juga berfirman (artinya), “Dan jika kalian taat kepadanya (Rasulullah), niscaya kalian mendapat petunjuk.” (an-Nur: 54)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam kitab Tafsir-nya, “Tidak ada jalan bagi kalian untuk meraih hidayah kecuali dengan menaati beliau shalallahu’alaihi wasallam. Selain dari itu, maka tidak mungkin, bahkan mustahil untuk meraih hidayah.” (Taisirul Karimir Rahman, hlm. 573)

4. Sabar Menghadapi Musibah.

Musibah merupakan sebuah kemestian. Sabar menghadapinya adalah sebab turunnya hidayah. Sebagaimana firman Allah ta’ala ketika menjanjikan balasan untuk orang yang sabar (artinya), “Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 157)

Allah ta’ala berfirman dalam ayat yang lain (artinya), “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (at-Taghabun: 11)

Barangsiapa yang ditimpa musibah, kemudian dia mengetahui bahwa musibah itu merupakan takdir dari Allah, sehingga diapun bersabar, mengharap pahala dan pasrah terhadap ketentuan Allah tersebut, niscaya Allah ta’ala akan memberi hidayah kepada hatinya. (Tafsir Ibnu Katsir, [4/496])

5. Bersungguh-Sungguh dalam Berjihad di Jalan Allah dan Menjalankan Ketaatan kepada-Nya, termasuk menuntut ilmu syar’i.

Allah ta’ala berfirman (artinya), “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-Ankabut: 69)

Ayat ini menunjukkan beberapa hal, yaitu:

⦁ Orang yang paling pantas untuk mencocoki kebenaran adalah orang yang berjihad.

⦁ Barangsiapa yang berbuat baik dengan menjalankan perintah Allah ta’ala, maka Allah akan menolongnya dan memberikan kemudahan baginya untuk menempuh sebab-sebab datangnya hidayah.

⦁ Barangsiapa yang bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i, maka dia akan mendapatkan hidayah dan pertolongan Allah ta’ala untuk meraih apa yang ia inginkan. (Taisirul Karimir Rahman, hlm. 636)

6. Menerima Setiap Dalil dan Tidak Berupaya Menentangnya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Bila ada dalil di hadapan Anda, maka jangan sekali-kali Anda menentangnya, namun katakan, ‘Kami mendengar dan kami taat’. Bila Anda berupaya menentang dalil, bisa jadi Anda akan diharamkan mendapat hidayah di masa mendatang.” (Syarh al-Kafiyah asy-Syafiyah, [2/445])

Yang dimaksud dengan dalil yaitu ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.

Penutup

Demikianlah beberapa hal yang menjadi sebab datangnya hidayah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah ta’ala untuk mengamalkannya.

Akhir kata, mari kita panjatkan doa kepada-Nya agar diberi keistiqamahan setelah datangnya hidayah kepada kita.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)

Amin ya Mujibas Sailin.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah hafizhahullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button