Apa Itu Fitnah? Dan Bagaimana Cara Menyikapinya?

Secara terminologi Bahasa Arab, kata fitnah bisa memuat banyak makna.
Ibnu Hajar memaparkan, sejumlah ulama berpendapat bahwa akar kata ‘fitnah’ (dalam Bahasa Arab) adalah bermakna ujian. Kemudian kata tersebut digunakan untuk segala efek dari ujian dan cobaan yang membawa kepada hal yang tidak disenangi. Kemudian, kata fitnah juga digunakan untuk semua hal yang tidak disenangi atau membawa kepadanya, seperti perbuatan kufur, dosa, hasutan, skandal, fujur dan lainnya. (Fathul Bari).
Melalui wahyu dari Allah, jauh-jauh hari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memberitakan kemunculan fitnah di tengah umat dan akan semakin merebak sampai menjelang hari kiamat. Saking banyaknya fitnah, sampai diibaratkan seperti potongan-potongan malam yang gelap.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya), “Segeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap. Sseeorang di pagi hari beriman, sore harinya sudah menjadi kafir; atau di sore hari beriman, pagi harinya sudah menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan secuil dari dunia.” (HR. Muslim).
Berbagai fitnah tersebut memang telah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah) yang tak terelakkan. Akan tetapi kita tetap diperintahkan untuk mawas diri darinya, bukan pasrah menunggu fitnah datang. Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
“Waspadalah dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja.” (QS. Al-Anfal: 25).
Artinya, kita diperintahkan untuk mengambil tindakan preventif, supaya tidak hanyut dalam fitnah bersama orang-orang yang zhalim.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberi arahan kepada umatnya supaya terhindar dari fitnah. Berikut ini beberapa tips untuk menghadapi fitnah:
Pertama, segera beramal shalih dan fokus beribadah.
Hal ini sebagaimana hadis yang kami muat di awal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya), “Segeralah beramal sebelum datang fitnah…”. Kesibukan ibadah dan amal shalih akan mengalihkan seseorang dari kubangan fitnah.
Kedua, tidak berkecimpung dalam fitnah dan berlindung darinya.
Ketika mengetahui sebuah fitnah muncul, jangan terburu-buru mendekat, apalagi ikut ambil peran di dalamnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi peringatan untuk jaga jarak, sebagaimana sabda beliau (artinya): “Nanti akan terjadi berbagai fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan (mendekat), orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari (mengejar). Barangsiapa berupaya ikut campur dalam fitnah, maka fitnah itu akan menyeretnya. Maka, barangsiapa mendapati tempat berlindung, hendaknya ia berlindung padanya.” (HR. Al-Bukhari).
Ketiga, tetap bersama jamaah dan arahan imam.
Menjaga kesolidan dan mengikuti bimbingan orang terpercaya adalah solusi di tengah terpaan badai fitnah. Seringnya, yang termakan fitnah adalah orang yang menyendiri, sebagaimana ungkapan: serigala itu akan menerkam domba yang sendiri, jauh dari kawanannya.
Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya), apa langkah yang harus diambil ketika mendapati fitnah? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Berpegang teguh dengan jamaah kaum muslimin dan imam mereka”.
Hudzaifah bertanya kembali, “Jika tidak ada jamaah dan tidak ada imam?”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jauhilah segala kelompok yang menyempal, meskipun dengan menggigit pokok pohon kurma, tetap demikian sampai ajal menjemput.” (HR. Al-Bukhari).
Dan fitnah terbesar yang akan muncul di akhir zaman adalah fitnah Dajjal, yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya (artinya), “Barangsiapa mendengar keberadaan Dajjal maka menjauhlah darinya. Sebab, seorang yang datang kepadanya dan mengira bahwa dia seorang yang jujur, karena tipu daya yang ada padanya sampai ia pun mengikutinya.” (HR. Ahmad).






