Edisi Ramadhan

Kisah Inspiratif Para Shahabat dalam Melatih Anak-Anak Berpuasa

Salah satu kewajiban besar orang tua adalah mempersiapkan anak-anak agar mampu menjalankan syariat Islam dengan baik. Di antara bentuk persiapan itu adalah melatih mereka untuk berpuasa, sejak usia dini, sesuai kemampuan mereka. Harapannya, latihan ini akan memberikan manfaat besar bagi anak, baik dari sisi iman, akhlak, maupun kedisiplinan.

Ramadhan adalah bulan yang dirindukan oleh setiap hamba beriman. Di bulan penuh berkah ini, semoga Allah menganugerahkan pahala yang berlipat ganda atas setiap kebaikan yang kita lakukan, termasuk dalam mendidik anak-anak agar mencintai ibadah.

Lalu, bagaimana para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melatih anak-anak mereka berpuasa, khususnya yang belum baligh?

 

Teladan Para Shahabat dalam Melatih Anak Berpuasa

Dikisahkan oleh shahabiyah yang mulia, ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha, bahwa ketika datang perintah puasa Asyura —sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan— Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَرْسَلَ النَّبِيُّ ﷺ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ:

مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ،

وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ.

قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ، حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang pada pagi hari Asyura ke kampung-kampung Anshar untuk mengumumkan:

‘Barang siapa yang pagi hari itu belum berpuasa, hendaklah ia menyempurnakan sisa harinya dengan berpuasa. Dan barang siapa yang pagi itu sudah berpuasa, hendaklah ia melanjutkan puasanya.’

Kami pun berpuasa pada hari itu, dan kami juga menyuruh anak-anak kami berpuasa. Kami membuatkan mainan dari wol untuk mereka. Jika salah seorang dari mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan tersebut sampai tiba waktu berbuka.”

(HR. al-Bukhari no. 1961 dan Muslim no. 1136).

Hadits ini menunjukkan bagaimana para shahabat melatih anak-anak mereka berpuasa dengan cara yang bijak, penuh kesabaran, dan memperhatikan kondisi anak.

 

Penjelasan Para Ulama

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya melatih anak-anak berpuasa, meskipun mereka belum mukallaf (belum terkena kewajiban syariat). Perintah puasa tersebut bukan kewajiban, melainkan latihan dan pembiasaan.(Fathul Bari, 4/257).

Imam an-Nawawi rahimahullah juga menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya membiasakan anak-anak melakukan ketaatan dan ibadah, walaupun mereka belum wajib secara syariat.

Beliau membantah pendapat yang menyatakan bahwa anak yang sudah mampu berpuasa menjadi wajib baginya, karena pendapat tersebut bertentangan dengan hadits sahih:

:رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ

عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Pena (pencatatan dosa dan kewajiban) diangkat dari tiga golongan, di antaranya dari anak kecil sampai ia bermimpi (baligh).” (HR. Abu Dawud no. 4403 dan lainnya). (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/13).

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

“Anak kecil yang belum baligh tidak wajib berpuasa. Namun jika dia sudah bisa puasa dengan tanpa kesulitan; maka saat itu dia mulai diperintah. Dan dahulu para shahabat, mereka biasa melatih anak-anaknya puasa saat masih kecil. Bahkan di antara anak-anak mereka ada yang sampai menangis, lalu diberi mainan (agar pikirannya teralihkan). Tapi jika dilatih puasa itu bakal membahayakan kondisi anak maka jangan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, XIX/83).

 

Penutup

Melatih anak berpuasa sejak dini adalah bagian dari pendidikan iman yang sangat berharga. Dilakukan dengan penuh kasih sayang, tanpa paksaan, dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Inilah teladan mulia dari para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bimbingan para ulama.

 

Wallahu a’lam.(UMNR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button