Raqaiq

Malam Nishfu Sya’ban Menurut Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan yang memiliki keutamaan dalam Islam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian khusus terhadap bulan ini, terutama dengan memperbanyak amal shalih sebagai persiapan menyambut Ramadhan.

 

Di sebagian masyarakat, khususnya ketika memasuki malam Nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban/tanggal 15 Sya’ban), tersebar berbagai amalan yang dianggap memiliki keutamaan khusus. Namun, tidak semua amalan tersebut memiliki dasar yang shahih dari Al-Qur’an, Sunnah, atau praktik para salafus shalih.

 

Oleh karena itu, penting bagi kaum muslimin untuk membedakan antara amalan yang disyariatkan dan amalan yang tidak memiliki landasan syar’i.

 

Amalan-Amalan yang disyariatkan pada bulan Sya’ban dan nishfu Sya’ban antara lain :

1. Memperbanyak Puasa Sunnah

Amalan yang paling jelas dan paling kuat dalilnya di bulan Sya’ban adalah memperbanyak puasa sunnah.

 

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156).

 

Dalam riwayat lain, Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.”

Beliau bersabda:

“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amalan-amalan kepada Rabb semesta alam, dan aku suka jika amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. an-Nasa’i, dinilai hasan).

 

Hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan puasa di bulan Sya’ban secara umum, termasuk di pertengahannya, tanpa mengkhususkan puasa pada tanggal tertentu.

 

2. Memperbanyak Amal Shalih Secara Umum

Bulan Sya’ban merupakan salah satu waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Amalan yang disyariatkan antara lain:

  • Membaca Al-Qur’an
  • Berdzikir dan beristighfar
  • Shalat sunnah (rawatib, dhuha, qiyamul lail)
  • Bersedekah
  • Memperbaiki niat dan juga taubat.

 

Disebutkan dalam kitab Lathaif Ma’arif bahwa

Salamah bin Kahil menyatakan, “Bulan Sya’ban adalah bulannya para pembaca al-Quran.” Diceritakan bahwa Amer bin Qois al-Mula’i ketika sudah masuk bulan Sya’ban, ia menutup tokonya dan meluangkan waktunya untuk membaca al-Quran.

 

Ibnu Rajab berkata dalam Lathā’if al-Ma‘ārif:

“Ketika bulan Sya‘ban menjadi semacam pendahuluan bagi bulan Ramadhan, maka disyariatkan di dalamnya amalan-amalan yang juga disyariatkan di bulan Ramadhan, seperti berpuasa dan membaca Al-Qur’an, agar terwujud kesiapan dalam menyambut Ramadhan, dan agar jiwa-jiwa terlatih dengan hal itu untuk benar-benar menyempurnakan ketaatan kepada Allah Yang Maha Pengasih.”

 

3. Membersihkan hati dari noda-noda dosa dan kemaksiatan

 

Al Imam Ibnul Mibrad rahimahullah mengatakan,

“Bulan Rajab adalah pembuka kebaikan dan berkah; bulan Rajab adalah masa menanam; bulan Sya’ban adalah masa menyiram; dan bulan Ramadhan adalah masa memanen.”

 

Ucapan beliau ini mengisyaratkan bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memanen amalan-amalan di bulan Ramadhan.

 

Tentu hal utama yang perlu dipersiapkan adalah hati yang selamat dipenuhi iman dan jauh dari noda-noda  kemaksiatan, terlebih kesyirikan.

 

Karena baiknya amalan anggota tubuh bergantung dengan baiknya kondisi hati.

 

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata (artinya),

” Ketahuilah bahwa pada jasad ini ada segumpal daging, yang jika segumpal daging tersebut baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuhnya, namun jika ia rusak, maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya, ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah hati.” (Muttafaqun alaihi).

 

Amalan-Amalan yang Tidak Disyariatkan dan Telah Menyebar di Masyarakat :

 

1. Mengkhususkan shalat tertentu pada malam nishfu Sya’ban.

Seperti shalat nishfu Sya’ban dengan jumlah rakaat tertentu (misalnya 100 rakaat) dan bacaan khusus padanya.

 

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

“Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib dan shalat nishfu Sya’ban adalah bid’ah yang mungkar.” (al-Majmu’).

 

Tidak ada hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan shalat khusus pada malam Nishfu Sya’ban.

 

2. Mengkhususkan puasa tanggal 15 Sya’ban.

Menganggap puasa pada tanggal 15 Sya’ban saja memiliki keutamaan khusus tanpa dalil yang shahih.

 

Para ulama menjelaskan bahwa:

Puasa di pertengahan Sya’ban boleh jika termasuk kebiasaan puasa sunnah seseorang.

Namun, mengkhususkan tanggal 15 dengan keyakinan keutamaan tertentu adalah tidak berdasar.

 

Asy-Syaikh Ibn Baz rahimahullah berkata:

“Tidak ada dalil yang shahih tentang pengkhususan puasa pada hari Nishfu Sya’ban.” (Majmu’ Fatawa).

 

3. Membaca surat Yasin tiga kali dengan niat-niat tertentu.

Tradisi membaca Surah Yasin tiga kali dengan niat panjang umur, banyak rezeki, dan husnul khatimah tidak memiliki dasar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para shahabat.

Kaidah penting dalam ibadah:

“Asal dalam ibadah adalah terlarang sampai ada dalil.” (Kaidah ushul fiqh).

Niat dan tata cara ibadah tidak boleh ditentukan kecuali dengan dalil.

 

4. Keyakinan penentuan takdir tahunan pada nishfu Sya’ban.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa takdir tahunan ditetapkan pada malam Nishfu Sya’ban.

Padahal, Al-Qur’an menegaskan:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. ad-Dukhan: 3).

 

Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa malam yang dimaksud adalah Lailatul Qadar, bukan Nishfu Sya’ban.

 

Bulan Sya’ban, termasuk malam nishfu Sya’ban, adalah momentum untuk meningkatkan kualitas iman dan amal sebagai persiapan menuju Ramadhan.

 

Islam mengajarkan agar kita beribadah berdasarkan dalil yang shahih, mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

 

Amalan yang disyariatkan adalah amalan yang umum dan memiliki landasan yang jelas, seperti puasa sunnah, dzikir, doa, taubat, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

 

Adapun amalan-amalan khusus yang tidak memiliki dalil, meskipun sudah menjadi tradisi di masyarakat, hendaknya ditinggalkan demi menjaga kemurnian ibadah.

 

“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahualaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan.” (HR. Muslim).

 

Semoga Allah memberi kita taufik untuk menghidupkan sunnah dan menjauhi bid’ah, serta mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut bulan Ramadhan. Aamiin. (UAP).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga
Close
Back to top button