KIAT AGAR ISTIQAMAH SETELAH RAMADHAN

Istiqamah dalam beribadah kepada Allah merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian istiqamah, niscaya akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” [QS. Fushilat: 30].
Dari shahabat yang mulia Sufyan bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.”
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ
“Katakanlah: aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim no. 38).
Pengertian istiqamah adalah seseorang bersikap pertengahan dalam beragama, tidak berlebihan dan tidak meremehkan.
Makna lain dari istiqamah adalah seseorang menaati Allah sampai dia meninggal.
Adapun seseorang yang mengerjakan ketaatan di suatu waktu, namun melalaikan di waktu lainnya, maka dia bukanlah orang yang istiqamah.
Semisal orang yang mengerjakan berbagai ketaatan di bulan Ramadhan, namun melalaikan bulan lainnya, maka dia bukanlah orang yang istiqamah.
Atau seseorang mengerjakan ketaatan ketika bersama orang-orang shalih, namun bermaksiat ketika bersama orang-orang yang lalai, maka dia bukanlah orang yang istiqamah.
Seseorang walaupun telah berupaya untuk istiqamah namun kadang terjadi padanya kekurangan dan kelalaian serta terjatuh kepada kemaksiatan maka Allah memerintahkannya untuk memohon ampun kepada-Nya (beristighfar) yang mengandung taubat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ
“karena itu tetaplah kalian (beribadah kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya.” [QS. Fushilat: 6].
Ini merupakan dalil bahwa seseorang yang istiqamah dalam beribadah kepada Allah tetap butuh untuk terus beristighfar
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang beristighfar dan bertaubat.
Adapun seseorang yang senantiasa di atas kelalaian, kemudian berdalil bahwa Allah Maha Pengampun, maka ia berdalil bukan pada tempatnya. Karena ampunan Allah itu bagi hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya.
Ketahuilah bahwa penghalang-penghalang seseorang untuk istiqamah di zaman ini sangatlah banyak dan bermacam-macam. Fitnah mengintainya ketika ia di perjalanan, di rumahnya, dan di setiap tempat.
Janganlah membuka pintu fitnah untuk dirimu sendiri dengan merasa aman atau merasa bahwa dirimu adalah orang yang paham atau sudah belajar agama. Engkau bukanlah orang yang maksum (terjaga dari fitnah).
Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada. Jagalah amalan-amalan wajib maupun sunnah, sebagaimana engkau menjaganya di bulan Ramadhan.
Sesungguhnya beramal itu tidak berhenti dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Hanyalah amalan terhenti ketika datangnya kematian. (UAIA).
Referensi :
Ringkasan khutbah jumat Syaikh Shalih al-Fauzan.






