Faedah Ringkas

Audio: Petaka Hoaks

 

Hoaks dalam istilah agama disebut dengan al-Kadzib, artinya kebohongan atau kedustaan.

Kebohongan dan kedustaan adalah prilaku dan tindakan yang tercela di dalam agama dan merupakan ciri khas orang-orang munafik, dan pelakunya di ancam oleh Allah ‘Azza wa Jalla dengan ancaman yang keras,

Allah Ta’ala berfirman,

{ وَیۡلࣱ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِیمࣲ }

“Celakalah bagi setiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa.” (QS. Al-Jatsiyah: 7).

Di antara dampak buruk dari prilaku hoaks adalah sebagaimana yang di sabdakan Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan kepada surga. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa jujur, hingga ia akan di catat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan akan mengantarkan kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan akan mengantarkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga ia akan di catat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata di sela-sela pembahasan beliau terhadap hadits di atas,

“Kedustaan termasuk perkara yang diharamkan, bahkan sebagian ulama berkata bahwa ia termasuk dosa besar, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi ancaman bahwa pelakunya akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang PENDUSTA. (Syarah Riyadhus Shalihin 1/168).

Sungguh betapa banyak manusia yang terjatuh ke dalam sikap tergesa-gesa dalam menyebarkan berita tanpa bertatsabbut (memastikan terlebih dahulu kebenaran) berita yang ia sebarkan sehingga menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah manusia dan mencabik-cabik kehormatan manusia di sebabkan hoaks yang ia sebarkan.

Simaklah pemaparan al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berikut ini :

“Apabila seorang mukmin tidak bertatsabbut (memastikan kebenaran berita) atas perkara yang ia ceritakan, maka ia akan menjerumuskan manusia ke dalam kesalahan (dalam menilai dan menghukumi), dan ini bukan termasuk kategori nasehat sedikitpun.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingkari orang-orang yang tidak mau memastikan kebenaran sebuah berita dan tidak mengembalikannya kepada ahlinya sebagaimana firman-Nya yang artinya,

Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan (kemenangan) atau ketakutan (kekalahan), mereka menyebarluaskannya. Padahal, seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulul amri (pemegang kekuasaan) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ulul amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah engkau mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu).
(QS. An-Nisā’ : 83).

Dan firman-Nya yang artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat 6).

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya,

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim dalam shahihnya).
(Majmu’ al-Fatawa Ibnu Baz 7/251-252).

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba yang selalu jujur dalam setiap sikap dan ucapan, dan menjauhkan kita dari kedustaan dalam sikap dan ucapan, sesungguhnya Allah adalah pemilik karunia. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga
Close
Back to top button