Intisari

AUDIO: Bertauhid dengan Makna Sesungguhnya

 

Tauhid merupakan landasan terpenting dalam agama para rasul dan poros utama dakwah mereka.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (segala sesuatu yg diibadahi selain Allah dalam keadaan dia ridha).” ( An Nahl : 36).

Maka dari itu, tauhid merupakan kewajiban pertama atas setiap hamba, pembeda antara muslim dan kafir, dan dengannya jiwa , harta dan kehormatan seorang hamba diharamkan (wajib dijaga dan dilindungi).

Tauhid adalah meyakini bahwa :

1. Allahlah satu-satunya Pencipta, Penguasa dan Pengatur seluruh alam.

2. Allah sebagai satu-satunya yg berhak dan pantas diibadahi.

3. Hanya Allah saja yg memiliki nama-nama yang indah dan sesuai dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna. Tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk-Nya yg penuh kekurangan dan kelemahan.

Ringkasnya, tauhid adalah meyakini keesaan Allah Ta’ala dalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya, serta asma’ dan sifat-sifat-Nya.

Konsep tauhid dengan 3 (tiga) jenisnya diatas telah sempurna sejak pertama kali Islam diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yg terdapat dalam Al Qur’anul Karim dan As sunnah An Nabawiyah.

Oleh karena itu Al Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-‘Ukbari dalam karya besar beliau yg berjudul Al-Ibanah al- Kubra, mengatakan :

“Dasar iman kepada Allah yg wajib atas makhluk (manusia dan jin) untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya, ada tiga hal:

Pertama :
Seorang hamba harus meyakini Rububiyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan atheis yang tidak menetapkan adanya pencipta.

Kedua :
Seorang hamba harus meyakini Wahdaniyyah-Nya (Uluhiyyah-Nya), yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan orang-orang musyrik yang mengakui Allah sebagai Pencipta namun menyekutukan-Nya dengan mempersembahkan ibadah kepada selain-Nya.

Ketiga :
Meyakini bahwa Dia (Allah) bersifat dengan sifat-sifat (kesempurnaan) yang Dia pasti bersifat dengannya, berupa sifat Ilmu, Qudrah, Hikmah dan semua sifat yang Dia menyifati diri-Nya sendiri dengannya dalam kitab-Nya.”

Demikianlah sekelumit sajian tentang urgensi memahami dan menerapkan tauhid dengan makna seutuhnya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan jiwa kita di atas tauhid yang seutuhnya dan menjauhkan kita dari kesyirikan dan segala cabangnya.

Aamiin …

Baca selengkapnya di Buletin Al ilmu Edisi 38/X/XII/1435 H

Bertauhid dengan Makna yang Seutuhnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Baca Juga
Close
Back to top button