Intisari

Contoh Amalan Puasa yang Sia-sia

Alhamdulillah, Segala puji hanya untuk Allah, inilah kalimat yang tepat untuk diucapkan saat kita dimudahkan oleh Allah bersua kembali dengan bulan Ramadhan, bulan yang mulia nan penuh rahmat, barokah dan ampunan. Kalimat pujian sebagai bentuk syukur kita kepada Sang Pencipta yang senantiasa memberikan taufik-Nya sehingga kita dapat menjalankan berbagai macam amalan ibadah di bulan Ramadhan kali ini. Betapa banyak manusia yang belum diberikan ‘peluang besar’ ini, bisa jadi karena dia telah meninggal dunia, sakit, atau belum mendapatkan hidayah dan taufik untuk mendekat kepada-Nya.

Berusaha untuk mencontoh dan mencocoki sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menjalankan berbagai ibadah di bulan Ramadhan merupakan cara terbaik dalam memaksimalkan momen berharga ini.

Namun ada beberapa contoh amalan di bulan Ramadhan yang dilakukan sebagian kaum muslimin, yang ternyata merupakan perbuatan sia –sia dan dapat mengurangi kesempurnaan bahkan keabsahan ibadah puasa. Diantaranya adalah :

1. Niat yang tidak benar
Pertama kali yang semestinya diperhatikan bagi yang akan berpuasa adalah permasalahan niat. Di antara kaum muslimin mungkin masih ada yang masih menganggap bahwa puasa Ramadhan hanyalah sekedar kebiasaan dan rutinitas tahunan yang harus dijalani. Padahal sejatinya puasa Ramadhan adalah sebuah ibadah besar yang menuntut dari pelakunya untuk meniatkannya sebagai ibadah kepada Allah. Adapula sebagian orang yang niat puasanya adalah untuk menjaga kesehatan. Sebagian dari mereka menyandarkan hal itu pada sebuah hadits, *صُومُوْا تَصِحُّوْا** “Berpuasalah kalian niscaya akan sehat”. Namun hadits ini dihukumi lemah oleh para ulama.

2. Melalaikan shalat lima waktu
Perkara penting pula yang harus diperhatikan adalah shalat fardhu yang merupakan rukun Islam kedua setelah kalimat syahadat. Suatu kewajiban yang sangat besar dan merupakan amalan anggota tubuh yang paling mulia. Oleh karena itu maka hendaklah kita melaksanakannya sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu dengan memenuhi syarat-syaratnya, menunaikan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya dan sunnah-sunnahnya serta dilaksanakan dengan cara berjama’ah di masjid-masjid.
Shalat merupakan syiar agama Islam yang agung dan mengagungkannya termasuk ketakwaan hati. Dimana ketakwaan ini merupakan tujuan disyari’atkannya ibadah puasa Ramadhan. Masih kita dapati sebagian dari kaum muslimin yang sudah mengerjakan shalat, namun belum mengerjakannya secara berjama’ah di masjid, terkhusus bagi kaum pria. Sebagian yang lain sengaja menunda-nunda pelaksanaan shalat hingga waktu berakhir. Akhirnya shalatpun dilaksanakan di luar waktu yang telah ditentukan. Yang demikian tidak selayaknya terjadi, apalagi sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa shalat yang sengaja dilakukan di luar waktunya maka shalat tersebut tidak teranggap.
Kemudian berikutnya yang amat sangat disayangkan adalah masih ditemui sebagian yang berpuasa justru meninggalkan shalat lima waktu. Yang demikian ini sangat mengkhawatirkan akan keabsahan puasa yang sedang dikerjakan.

3. Tidak menjaga lisan saat berpuasa
Perkataan dan perbuatan jelek; dusta, ghibah, namimah (adu domba), menipu ataupun perbuatan-perbuatan yang keji, sia-sia dan melalaikan adalah di antara sekian perkara yang wajib untuk dijauhi baik saat tidak berpuasa terlebih saat berpuasa, karena perbuatan-perbuatan tersebut dapat mengurangi kesempurnaan dan bahkan bisa menghilangkan pahala puasa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya), “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kejahilan maka Allah tidak butuh darinya perbuatan meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa maka janganlah berkata kotor (keji) dan janganlah berbuat keributan. Jika ada seseorang menyakitinya atau mencelanya maka katakanlah, ‘Saya sedang berpuasa’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu berkata (yang artinya), “Jika engkau sedang berpuasa maka puasakan pula pendengaran, penglihatan dan lisanmu dari dusta dan sesuatu yang haram, janganlah mengganggu tetangga dan bersikaplah tenang. Jangan engkau jadikan hari puasamu sama dengan hari berbukamu (ketika tidak berpuasa).” (Lathaif al Ma’arif karya Ibnu Rajab).

Ada beberapa contoh amalan sia- sia lainnya di bulan Ramadhan, seperti :
tidak menahan pendengaran, penglihatanan, lisannya dari perkara yang haram, tidak mengerjakan shalat tarawih, menghabiskan waktu malamnya dengan begadang tidak mengerjakan shalat tarawih, menonton film, menonton pertandingan sepakbola dan bermain game dan lain lain. Sebaliknya, pagi harinya dihabiskan untuk tidur (dari pagi hingga menjelang berbuka), atau untuk bermain hal-hal lainnya yang sia-sia, bahkan kemaksiatan.

Akhirul kalam, semoga Allah Ta’ala membantu kita semua agar dapat mengoptimalkan segenap waktu di hari-hari bulan Ramadhan untuk beramal shalih.

Simak dan baca selengkapnya di www.buletin-alilmu.net pada link berikut ini :
https://buletin-alilmu.net/2019/05/27/istimewakan-hari-berpuasamu/
https://buletin-alilmu.net/2018/05/17/memaksimalkan-moment-berharga/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button