WABAH CORONA – Antara Ujian dan Hukuman –

Edisi: 17 || 1441H
Tema: Khusus

بسم الله الرّحمان الرّحيم

Dalam beberapa bulan terakhir, publik internasional dikejutkan dengan tersebernya penyakit yang disebabkan oleh virus Corona (COVID-19). Bermula dari beberapa negara di belahan dunia lainnya juga melaporkan kejadian serupa. Semua kasus ada riwayat perjalanan dari Wuhan, Cina!

Info terbaru (per 26/02/2020), dilaporkan 80.970 orang terkonfirmasi telah terinfeksi virus Corona di seluruh dunia, 2.760 orang di antaranya meninggal dunia. Pada akhirnya lembega kesehatan dunia mengumumkan Darurat Global Wabah virus Corona. Laa haula walaa quwwata illa billah. Peristiwa apakah ini? Cobaan/Ujian? Ataukah Hukuman?

Segala peristiwa di alam ini terjadi berdasarkan ketentuan takdir Allah ta’ala. Tak ada satu pun peritiwa di alam in yang terjadi tanpa kehendak-Nya, termasuk sehat dan sakit, senang dan susah, musibah dan bencana.

Dalam al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)

Wabah Penyakit Terjadi dengan Takdir Allah

Termasuk bagian dari takdir Allah ta’ala adalah terjadinya wabah penyakit. Peristiwa mewabahnya suatu penyakit dengan pesat, seperti yang terjadi baru-baru ini yaitu wabah virus Corona yang mengejutkan dunia, merupakan salah satu musibah yang telah ditakdirkan oleh Allah ta’ala.

Di Balik Musibah yang Menimpa

Musibah yang menimpa, bisa merupakan ujian dan cobaan dari Allah ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman. Agar mereka bersabar dan tetap istiqamah di atas keimanan kepada-Nya. Musibah juga bisa merupakan hukuman dari Allah ta’ala terhadap sebagian manusia, akibat dosa dan kemaksiatan yang mereka perbuat. Allah ta’ala berfirman,

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Segala musibah yang menimpa kalian maka disebabkan oelh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (asy-Syura: 30)

Pakar dan imam ahli tafsir terkemuka, al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah (w. 310H) menjelaskan tentang tafsir ayat di atas, “Wahai umat manusia, tidaklah musibah yang menimpa kalian di dunia ini, baik musibah yang mengenai diri kalian sendiri, keluarga kalian, atau pun harta kalian, tidaklah musibah itu menimpa kalian kecuali sebagai hukuman dari Allah akibat dosa-dosa yang kalian perbuat, baik perbuatan dosa antara sesama kalian, maupun perbuatan dosa kalian terhadap Sang Pencipta. Itu pun Allah memaafkan banyak dari dosa-dosa kalian, sehingga kalian tidak dihukum karenanya.” (Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an [21/538])

Sejarah juga mencatat, bahwa berapa banyak dari bangsa-bangsa besar pada masa lalu, yang memiliki kebudayaan dan peradaban besar, berujung kepada kehancuran akibat perbuatan mereka sendiri yang berani melawan Allah ta’ala, tidak mau tunduk terhadap agama-Nya, dan menentang para rasul-Nya.

Ada yang ditimpa musibah banjir bandang, ada yang ditimpa gempa bumi dan berbagai musibah lainnya yang terjadi dengan kehendak Allah ta’ala. Dalam al-Qur’anul Karim Allah ta’ala berfirman,

فَكُلًّا اَخَذْنَا بِذَنْۢبِهٖۙ فَمِنْهُمْ مَّنْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ اَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْاَرْضَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اَغْرَقْنَاۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan (di lautan). Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menaniaya diri mereka sendiri.” (al-‘Ankabut: 40)

Nabi shalallahu’alaihi wasallam juga bersabda (artinya), “Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima perkara apabila kalian ditimpa ujian karenanya, dan aku minta perlindungan kepada Allah agar lima hal tersebut jangan sampai menimpa kalian:

⦁ tidaklah perbuatan keji tampak terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka (yakni wabah) penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.

⦁ tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan mengalami paceklik, kehabisan bahan pangan, dan akan datang penguasa yang zhalim yang memimpin mereka.

⦁ tidaklah sebuah kaum menolak membayar zakat hartanya, kecuali akan terhalangi hujan dari langit, kalau bukan karena keberadaan hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan sama sekali.

⦁ tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh-musuh mereka dari selain mereka akan menguasai mereka, sehingga musuh-musuh itu pun akan mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka.

⦁ apabila para pimpinan mereka tidak berhukum dengan Kitabullah, dan tidak mau mencari kebaikan dari agama yang Allah turunkan, kecuali akan Allah jadikan kejelekan diri mereka menimpa mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah no. 4019, lihat ash-Shahihah no. 106) Dalam hadits tersebut, dengan jelas Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam memberitakan bahwa berbagai musibah dan bencana, baik berupa wabah penyakit, kelaparan, kekeringan, kehabisan bahan pangan, bahkan sampai kezhaliman penguasa dan penjajahan, itu semua terjadi sebagai akibat perbuatan dosa-dosa mereka sendiri.

Allah ta’ala timpakan bencana-bencana tersebut sebagai hukuman dari-Nya.

Jangan Sombong dan Takabbur

Beberapa waktu lalu seorang kepala negara, dengan ponggahnya menyatakan bahwa tidak ada kekuatan apapun yang bisa menggoncangkan negaranya. Laa haula wal quwwata illa billah. Ucapan ini didengar oleh masyarakat internasional. Betapa sombong dan takabbur dia! Sungguh kehancuran dan kehinaan menantinya.

Hal ini mengingatkan kita dengan kesombongan bangsa ‘Ad, yang Allah kisahkan dalam al-Qur’an,

“Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.” (Fushshilat: 15-16)

Sikap Muslim Terhadap Wabah Corona

1. Apabila terjadi wabah penyakit di suatu wilayah atau negara, maka sebagaimana sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam,

إذاسمعتم به بأرض فلاتقدموا عليه,وإذاوقع بأرض وأنتم بها,فلاتخرجوافرارامنه

“Apabila kalian mendengar tentangnya (wabah) terjadi di suatu wilayah maka janganlah kalian mendatanginya. Apabila terjadi di suatu wilayah yang kalian berada padanya, maka janganlah kalian keluar darinya karena lari darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5730, Muslim no. 2219, dari shahabat Abdurrahman bin Auf radhiallahuanhu)

Hikmahnya adalah agar orang yang belum terkena, bisa tercegah dari penyakit tersebut. Sebaliknya, orang yang berada di daerah wabah, tidak keluar supaya tidak membawa penyakit tersebut keluar derahnya. Sehingga persebaran wabah tidak semakin meluas.

2. Wabah penyakit bisa mengenai siapa saja. Terdapat sebab-sebab menularnya sebuah penyakit, namun penularan itu tidaklah terjadi kecuali dengan izin Allah ta’ala. Seorang mukmin harus yakin bahwa semua terjadi di alam ini adalah dengan takdir Allah. Termasuk hidup dan mati, selamat atau celaka, sehat dan sakit, semuanya dengan izin Allah.

Namun demikian, seorang mukmin tetap berikhtiyar, dengan melakukan sebab-sebab yang bisa mencegah terjadinya penyakit dan menghindari sebab-sebab yang bisa membuat sakit atau tertulari penyakit. Adapun hasilnya, maka serahkan kepada Allah ta’ala, jangan bersandar kepada sebab. Inilah sikap tawakkal kepada Allah ta’ala.

3. Seorang muslim ketika melihat terjadi musibah menimpa orang lain, maka segera dia berdo’a kepada Allah ta’ala,

الحمد لله الّذي عافاني ممّا ابتلاك به,وفضّلني على كثير ممّن جلق تفضيلا

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjagaku dari musibah yang menimpamu, dan mengutamakanku di atas kebanyakan makhluk yang Dia ciptakan dengan keutamaan yang besar.”

Nabi shalallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa barangsiapa melihat seorang tertimpa musibah, kemudian dia mengucapkan doa di atas, maka pasti dia dijaga oleh Allah dari musibah tersebut selama hidupnya. (HR. at-Tirmidzi no. 3431)

4. Segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah ta’ala atas berbagai dosa. Segera tinggalkan segala kemaksiatan dan segera minta ampun kepada Allah. Di samping memperbanyak doa memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dan memohon keselamatan dan kesehatan. Baik untuk diri sendiri, maupun untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Wabillahi at-taufiq.

Penulis: Ustadz Abu Amr Alfian hafizhahullah

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.