Sebentar Lagi Tiba Hari Perhitungan Amal Masihkah Kita Lalai?

Edisi: 13 || 1441H
Tema: Akidah

بسم الله الرّحمان الرّحيم

Allah ta’ala berfirman,

اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ ۚ

“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan amal mereka, sedangkan mereka dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (al-Anbiya’: 1)

Dalam ayat ini, Allah ta’ala mengingatkan akan dekatnya hari kiamat. Sementara manusia dalam keadaan lalai darinya. Lalai dalam arti mereka tidak mau beramal untuk bersiap menghadapinya. (Tafsir Inbu Katsir, [3/239])

Inilah kondisi manusia yang cukup memprihatinkan, tidak mudah menerima nasehat dan tidak takut akan peringatan. Telah dekat waktu perhitungan serta pembalasan atas amal baik dan buruk yang mereka lakukan, namun masih saja mereka lalai dan berpaling.

Lalai dari tujuan mereka diciptakan dan berpaling dari peringatan. Seolah-olah mereka diciptakan dan dilahirkan untuk bersenang-senang dengan kehidupan dunia saja.

Sungguh Allah ta’ala senantiasa memberikan peringatan dan nasehat berulang, namun kenyataannya manusia terus-menerus berada dalam kelalaian dan ketidakpedulian. (Tafsir as-Sa’di, hal. 518)

Tulisan ini hanyalah sebagai nasehat dan peringatan, terutama untuk penulis sendiri, dan tentu juga untuk saudara-saudara seiman.

Allah ta’ala berfirman,

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (adz-Dzariyat: 55)

Bumi digoncang hebat. Langit terbelah. Gunung-gunung dihancurkan menjadi debu dan dihamburkan seperti bulu. Air laut meluap. Matahari digulung. Bintang-bintang jatuh berserakan. Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran. Wanita menyusui pun lalai dan tidak peduli lagi dengan bayi yang disusuinya.

Itulah hari kiamat. Kedatangannya semakin dekat. Kapan waktu persisnya, itu rahasia Allah ta’ala, hanya Dia sajalah yang mengetahuinya. Tidak ada seorang manusia pun yang mampu meramal dan memprediksi, apalagi memastikan kapan kiamat itu terjadi.

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam pernah ditanya oleh malaikat Jibril, kapan hari kiamat tiba? Beliau shalallahu’alaihi wasallam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Artinya, malaikat Jibril (penanya) dan Rasulullah (yang ditanya) sama-sama tidak tahu kapan saatnya dunia ini berakhir.

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam juga ditanya kapan terjadinya kiamat. Beliau pun menegaskan bahwa Allah sajalah yang mengetahuinya. Rasulullah hanyalah mengabarkan bahwa kiamat itu sudah dekat berdasakan wahyu.

Allah ta’ala berfirman,

يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari kebangkitan. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kebangkitan itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu (wahai Muhammad), boleh jadi hari kebangkitan itu sudah dekat waktunya.” (al-Ahzab: 63)

Barangsiapa yang mengklaim bahwa kiamat akan terjadi satu juta tahun lagi, atau seribu tahun lagi kurang lebih, maka wajib bagi kita untuk mendustakannya, karena orang tersebut telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya. (Tafsir al-Qur’an lil ‘Utsaimin, [11/40])

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

بعثت أنا والسّاعة كها تين

“(Saat) aku diutus sebagai Rasul dan tibanya hari kiamat seperti dua jari ini.” Beliau mengatakan ini sambil menggandengkan jari telunjuk dengan jari tengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 4889, Muslim no. 1435)

Makna hadits ini adalah bahwa waktu diutusnya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dengan datangnya kiamat itu sangat dekat, sebagaimana dekatnya jarak antara jari telunjuk dengan jari tengah. (Syarh Shahih Muslim, [6/155])

Ini menunjukkan bahwa ajal dunia ini sudah dekat. (Syarh Shahih Muslim, [1/196])

Dunia Berakhir, tapi Perjalanan Hidup Manusia Belum Berakhir

Ketika kiamat telah ditegakkan. Seluruh manusia menemui ajalnya. Apakah dengan demikian, tamatlah riwayat mereka? jawabannya tentu tidak.

Setelah mati, manusia akan dihidupkan kembali. Allah ta’ala Mahakuasa melakukan segalanya. Termasuk menghidupkan kembali jasad yang telah hancur dan menyatukan lagi tulang-benulang yang berserakan. Manusia pertama hingga terakhir akan dibangkitkan dari kuburnya.

Lantas mereka dikumpulkan di padang mahsyar guna menhadapi hari perhitungan amal. Hari mempertanggungjawabkan segala yang mereka perbuat selama hidup di dunia.

Sekali lagi, datangnya hari kiamat itu sudah dekat, sebentar lagi. Sebagaimana Allah kabarkan dalam kitab suci-Nya.

Hari perhitungan amal adalah hari ketika para hamba dihadapkan dan diingatkan akan seluruh amalannya di dunia, baik amal kebajikan maupun amal keburukan.

Setiap hamba menerima berita perihal apa saja yang mereka amalkan selama di dunia.

Allah ta’ala berfirman,

قُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْۗ

“Katakanlah, ‘Memang, demi Rabbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (at-Taghabun: 7)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah benar-benar akan diberitakan kepada kalian tentang seluruh amalan kalian, baik amalan yang mulia maupun yang hina, yang kecil maupun yang besar. (Tafsir Ibnu Katsir, [4/495])

Tiada seorangpun yang bisa mengingkari apa yang telah ia perbuat. Semua mengakui bahwa ia pernah melakukan itu semua.

Di akhirat, setiap orang melihat buah amalannya selama hidup di dunia, meskipun amalannya terhitung sedikit dan kecil. Amal baik dibalas kebaikan, amal buruk dibalas keburukan.

Allah ta’ala berfirman (artinya), “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (az-Zalzalah: 7-8)

Masihkah Lalai?

Kebanyakan manusia lalai dari akhirat. Mereka tidak beramal untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Tidaklah mereka merasa bahwa setiap amal kebaikan akan dihitung? Tidakkah mereka merasa bahwa setiap perbuatan jelek akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban?

Mari koreksi bersma, kita termasuk golongan yang mana? Semoga Allah ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk menjadi golongan hamba-hamba-Nya yang senantiasa ingat akan akhirat. Entah kapan kiamat itu terjadi, kita mesti bersiap menghadapinya.

Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah menasehatkan, “Yang penting sekarang, apa yang anda persiapkan untuk menyambut kedatangan kiamat? Sudahkah Anda beramal? Sudahkah Anda kembali kepada Rabb Anda? Sudahkah Anda bertaubat dari dosa-dosa Anda? Inilah yang penting. (Syarh Riyadhush Shalihin, [1/428]).

Allah ta’ala berfirman,

اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian siksa yang dekat.” (an-Naba’: 40)

Siksa yang Allah ta’ala peringatkan kepada kita sangat dekat. Tidak ada jarak antara seseorang dengan siksa tersebut kecuali hanyalah kematian.

Seseorang tidak tahu kapan ia akan mati. Terkadang dia masih hidup di pagi hari, tapi ternyata di sore hari sudah tiada. Atau masih hidup di sore hari, namun esok pagi sudah berpisah dengan dunia ini.

Oleh sebab itulah, wajib bagi kita untuk benar-benar serius dalam amalan kita. Manfaatkan waktu hidup ini untuk beramal sebelum hilangnya kesempatan yang berharga ini. (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 37)

Pelaku kejelekan pasti menyesal. Kalau tidak di dunia, pasti penyesalan itu datang di akhirat nanti.

Allah ta’ala berfirman,

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا ۛوَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh.” (Ali Imran: 30)

Setiap jiwa menginginkan amal kebaikannya terbalas dengan sempurna, tidak ada sedikitpun yang berkurang. Adapun ketika dihadapkan dengan amalan kejelekannya, ia menghendaki agar hari perhitungan amalan itu masih jauh masanya. Yang demikian itu karena betapa dahsyatnya penyesalan dan kesedihan akibat dari perbuatan buruk.

Oleh sebab itulah, hendaknya setiap hamba berhati-hati dari amal buruk yang sudah pasti membuahkan penyesalan dan kesedihan akibat dari perbuatan buruk.

Oleh sebab itulah, hendaknya setiap hamba berhati-hati dari amal buruk yang sudah pasti membuahkan penyesalan dan kesedihan yang luar biasa. Semestinya setiap hamba berusaha meninggalkan amal jelek sebelum datang penyesalan. (Tafsir as-Sa’di, hal. 128)

Wallahu a’lam bishshawab.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah hafizhahullah

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.