Bergegas Memenuhi Panggilan Ilahi

Edisi: 09 || 1441H
Tema: Fikih

بسم الله الرّحمان الرّحيم

Kumandang adzan terdengar dari sudut-sudut jalan. Memanggil segenap kaum muslimin, sudah saatnya berbagi waktu untuk Sang Penguasa jagat raya. Saatnya menyudahi segala aktivitas. Sudah saatnya mempersiapkan diri menunaikan shalat berjama’ah di masjid.

Saudaraku kaum muslimin, Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Beratasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (an-Nur: 36-38)

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Dianjurkan bagi seorang pedagang untuk tidak lalai dengan perniagaanya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya, maka ketika tiba waktu shalat fardhu hendaknya dia (segera) meninggalkan perniagaannya (untuk menunaikan shalat), agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang (yang dipuji Allah ta’ala) dalam ayat ini.” (Tafsir al-Qurthubi [5/156])

Jangan Terlambat!

Saudaraku, jangan terlambat menghadiri shalat berjama’ah di masjid, karena yang memerintahkan kita adalah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Dzat yang menghidupkan dan mematikan kita. Mari bersegera datang ke masjid, berlomba-lomba untuk meraih shaf pertama dan mendapati takbiratul ihram bersama imam.

Kenapa demikian? Karena yang demikian ini terdapat keutamaan yang besar. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam telah mengabarkan,

ولو يعلمون ما في التّهجير لا ستبقوا إليه

“Kalau seandainya manusia mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid (untuk shalat berjama’ah) di awal waktunya niscaya mereka akan berlomba-lomba.” (HR. Muslim no. 437 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Beberapa keutamaan bersegera datang ke masjid, di antaranya:

1. Keutamaan di atas keutamaan.

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

لو يعلم النّاس ما في النّداء والصّف الأوّل, ثمّ لم يجدوا إلّا أن يستهموا عليه لا ستهموا

“Kalau seandainya manusia mengetahui keutamaan beradzan dan menempati shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan jalan lain untuk memperolehnya kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan mengundinya.” (HR. Muslim no. 437 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Tidak disebutkannya keutamaan tertentu dalam hadits di atas melainkan dalam rangka untuk menunjukkan bahwa keutamaannya sangatlah besar dan tidak terbatas.

2. Mendapatkan doa dari malaikat.

إنّ الله وملائكته يصلّون على الصّفّ الأوّل

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mengucapkan shalawat (untuk orang-orang yang berada) di shaf pertama.” (HR. Ibnu Majah no. 997, dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Banyak amalam mulia yang bisa kita amalkan saat kita datang ke masjid lebih awal, di antaranya:

a. Shalat tahiyyatul masjid dua raka’at.

b. Shalat sunnah qabliyah (2-4 rala’at sesuai ketentuan yang telah diatur dalam sunnah Nabi shalallahu’alaihi wasallam)

c. Berdoa di antara adzan dan iqamat, karena termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

الدّعاء لايردّ بين الأذان والإقامة

“Doa (yang dipanjatkan) di antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak.” (HR. at-Tirmidzi no. 212, dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah).

d. Berdzikir dan membaca al-Qur’an. Menunggu merupakan suatu pekerjaan yang membosankan. Akan tetapi bisa menjadi menyenangkan jika yang ditunggu itu sesuatu yang ia cintai. Dalam pandangan orang yang bertakwa, shalat itu penyejuk hati. Oleh karenanya bagi kaum salaf menunggu shalat adalah sebuah kerinduan karena Allah ta’ala.
Shahabat Adi bin Hatim radhiallahuanhu menuturkan,

مادخل وقت صلاة قطّ حتّى اشتاق إليها

“Tidaklah datang waktu shalat melainkan dalam keadaan aku merindukannya.” (az-Zuhud wa ar-Raqa’iq li Ibni al-Mubarok hal. 460)

Meraih Pahala Shalat tanpa Shalat

Kapan hal ini bisa diraih? Di saat kita duduk di masjid menunggu shalat selama dalam keadaan tidak berhadats.

لايزال العبد في صلاة ما كان في المسجد ينتظر الصّلاة ما لم يحدث

“Senantiasa seorang hamba terhitung dalam keadaan shalat, manakala dia berada di masjid menunggu shalat selama dia tidak berhadats (suci).” (HR. al-Bukhari no. 176 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Dekatkan Tempat Shalatmu Dekat dengan Imam

Banyak manfaat dari mendekatkan posisi shalat dengan posisi imam. Terdengar dengan jelas suara imam. Hal ini lebih bisa membantu kekhusyukan shalat, karena dapat mendengarkan bacaan imam. Bisa langsung melihat gerakan imam, sehingga bisa membantu mengatur gerakan imam dan tidak terlambat mengikuti gerakannya.

Dari shahabat Jundub radhiallahuanhu berkata,

احضروا الذّكر,وادنوا من الإمام, فإنّ الرّجل لا يزال يتباعد حتّى يؤخّر في الجنّة,وإن دخلها

“Hadirilah adz-dzikr (shalat jum’at) dan mendekatlah ke posisi imam (untuk mendengarkan khutbah). Tidaklah seseorang yang seringkali mengakhirkan diri dari meraih kebaikan hingga dia diakhirkan masuk ke dalam surga walaupun dia termasuk orang yang berhak memasukinya. (HR. Abu Dawud no. 1015, dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Jangan Tertinggal dari Takbiratul Ihram Bersama Imam

Saudaraku, jika kita mendengar adzan telah dikumandangkan maka segeralah lakukan persiapan, jangan sampai tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Karena bertakbiratul ihram bersama imam memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam berkata,

من صلّى الله أربعين يوما في جماعة يدرك التّكبيرة الأولى كتب له براءتان:براءة من النّار,وبراءة من النّفاق

“Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari dengan berjama’ah mendapati takbir yang pertama (takbiratul ihram) niscaya akan ditetapkan baginya dua jaminan keselamatan: jaminan keselamatan dari neraka dan kemunafikan.” (HR. at-Tirmidzi no. 241, dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab ash-Shahihah no. 1979)

Al-Imam Ibrahim bin Yazid at-Taimi rahimahullah (wafat tahun 92 H) berkata, “Jika kamu melihat seorang laki-laki yang meremehkan takbit pertama (bersama Imam dalam shalat berjama’ah), maka cucilah tanganmu (tinggalkanlah meriwayatkan hadits) darinya”. (as-Siyar, karya al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah [5/62])

Bersegera ke masjid bukti keterikatan hati dengan masjid. Yang demikian ini sebab mendapat naungan dari Allah ta’ala pada hari kiamat. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam berkata,

سبعة يظلّهم الله في ظلّه يوم لاظلّ إلّاظلّه …. ورجل قلبه معلّق في المساجد

“Ada tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka dengan naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya. … (di antaranya) seseorang yang hatinya selalu terikat dengan masjid. (Muttafaqun ‘alaihi dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Salah satu sebab yang akan mendatangkan khusyu’ dalam shalat adalah persiapan lebih awal. Berjalan ke masjid lebih tenang sehingga saat shalat lebih mudah menghadirkan hati. Beda halnya jika terlambat, maka berjalan menjadi tergesa-gesa. Selain hal ini menyelisihi tuntunan adab yang benar saat berjalan ke masjid, berakibat pula sulit menghadirkan hati dalam shalat. Padahal khusyu’ itulah inti dari ibadah shalat.

Permata Salaf dalam Bergegas Menuju Shalat

Said bin al-Musayyib rahimahullah berkata, “Tidaklah terlewatkan bagiku takbiratul ihram selama lima puluh tahun, dan tidaklah aku melihat punggung seseorang yang shalat (yaitu beliau selalu di shaf pertama) selama lima puluh tahun.” (Wafiyat al-A’yan [2/375])

Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah menceritakan tentang syaikhnya (al-A’masy rahimahullah), bahwa hampir tujuh puluh tahun beliau tidak pernah terlewatkan dari takbiratul ihram. (Tadzkratul Huffazh [1/157])

Rabi’ah bin Yazid rahimahullah menuturkan, “Tidaklah muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat zhuhur melainkan aku sudah berada di masjid selama 40 tahun, kecuali bila aku sakit atau safar.” (as-Siyar [5/240])

Permata Salaf dam Kesiapan Shalat

Adi bin Hatim radhiallahuanhu berkata, “Tidaklah datang waktu shalat kecuali aku dalam keadaan merindukannya, tidaklah tiba waktu shalat kecuali aku sudah dalam kondisi siap.” (az-Zuhud, hal. 249)

Beliau radhiallahuanhu juga berkata, “Tidaklah ditegakkan suatu shalat semenjak aku baligh kecuali aku sudah berwudhu.” (as-Siyar [3/164])

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata, “Sesunnguhnya di antara bentuk memuliakan ibadah shalat adalah engkau mendatanginya sebelum iqamah.” (Shifatush Shafwah [2/235])

Wabillahi at-taufiq

Penulis: Ustadz Abu Abdirahman Arif hafizhahullah

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.