Bekerja Adalah Kemuliaan Meminta-Minta Adalah Kehinaan

Edisi: 19 || Tahun 1439 H

Tema: HADITS

Rasulullah bersabda,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari apa yang diusahakan oleh tangannya sendiri dan sesungguhnya nabiyullah Dawud, beliau makan dari usahanya sendiri.” (HR. al-Bukhari no. 1930 dari shahabat al-Miqdam bin Ma’di Karib).

Para pembaca yang berbahagia.

Tidak sepantasnya bagi seorang muslim memiliki sifat ketergantungan kepada harta orang lain. Karena sifat yang demikian ini akan menjerumuskan dirinya kepada perbuatan yang hina yaitu suka meminta-minta kepada orang lain. Namun sebaliknya, apabila seseorang diberi harta dengan tanpa meminta-minta maka terimalah. Apabila tidak diberi maka janganlah meminta-minta.

Shahabat Abdullah Ibnu Umar tidak pernah meminta-minta harta sedikitpun kepada orang lain. Apabila ada orang yang datang memberikan sesuatu kepada beliau maka beliau pun menerimanya. Demikianlah akhlak luhur dan perilaku terpuji yang diajarkan oleh agama Islam. Maka jangan sampai seorang muslim merendahkan harga dirinya dengan mengharap dan meminta-minta apa yang dimiliki oleh orang lain.

Demikian pula sebaliknya, tatkala kita diberi sesuatu oleh seseorang maka terimalah pemberian tersebut. Karena menolak pemberian atau hadiah terkadang membuat sang pemberi menjadi sakit hati kepada kita dan menganggap bahwa diri kita adalah orang yang sombong dan angkuh.

Dalam hadits di atas, Rasulullah menjelaskan kepada kita tentang keutamaan orang yang mencari harta dari hasil jerih payahnya sendiri. Beliau memberi contoh dengan keadaan nabi Dawud yang mencari nafkah dengan bekerja. Adapun profesi nabi Dawud ketika itu adalah sebagai tukang besi. Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah (artinya), “Dan Kami telah ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kalian, guna memelihara kalian dalam peperangan kalian. Maka hendaklah kalian bersyukur (kepada Allah).” (al-Anbiya: 80)

أَنَّ دَاوُدَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Sesungguhnya Nabi Dawud tidaklah makan melainkan (makan) dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR. al-Bukhari no. 1931 dari shahabat Abu Hurairah)

Demikian pula dengan keadaan para nabi yang lain seperti nabi Zakariya yang berprofesi sebagai tukang kayu. Sebagaimana diterangkan olehRasulullah,

كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّارًا

“Nabi Zakariya berprofesi sebagai tukang kayu.” (HR. Muslim no. 169 dari shahabat Abu Hurairah)

Rasulullah sendiri ketika di masa mudanya – sebelum diangkat sebagai nabi dan rasul – pernah berdagang sampai ke negeri Syam yaitu menjualkan barang dagangan milik Khadijah yang ketika itu adalah seorang saudagar wanita.

Allah berfirman (artinya), “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (al-Furqan: 20)
Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “berjalan di pasar-pasar” adalah bahwa para rasul juga pergi ke pasar-pasar dalam rangka untuk berjualan atau berdagang dan yang demikian ini tidaklah merendahkan kedudukan mereka. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6 hal. 100)

Demikian pula telah dikenal di masa para shahabat banyak di antara mereka menjadi orang-orang yang sukses dalam perdagangan, semisal: Abu Bakr ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, Shakr bin Wada’ah al-Ghamidi, al-Barra bin Azib, Zaid bin Arqam dan lain-lain.

Maka hal itu menunjukkan bahwa suatu profesi atau keahlian dalam suatu pekerjaan merupakan suatu kemuliaan karena para nabi dan para shahabat juga memiliki macam-macam profesi dalam berbagai bidang. Mereka semua telah mencontohkan kepada kita untuk mencari nafkah melalui tangan sendiri dengan bekerja dan tidak meminta-minta kepada orang lain.

Rasulullah pun menganjurkan kepada umatnya untuk mencari pekerjaan yang halal sekalipun dengan berjualan kayu bakar dan melarang dari meminta-minta (mengemis). Rasulullah pernah bersabda,

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

“Salah seorang dari kalian mengambil tali kemudian membawa satu ikat kayu bakar yang dibawa di atas punggungnya kemudian dia jual, yang dengannya Allah cukupkan dia dari meminta-minta maka itu lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia, bisa jadi mereka memberi atau tidak.” (HR. al-Bukhari no. 1378 dari shahabat Zubair bin al-Awwam)

Menahan Diri Dari Meminta-minta

Di antara upaya agar terhindar dari kehinaan, maka kita harus berupaya menahan diri dari meminta-minta kepada orang lain.

Allah memuji orang-orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta. Mereka tidak mau meminta-minta kepada manusia, hingga manusia mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya berikut ini (artinya), “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat berusaha (bekerja) di muka bumi, orang yang tidak tahu akan menyangka bahwa mereka adalah orang kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.”(al-Baqarah: 273)

Rasulullah bersabda,

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

“Barangsiapa yang sedang mengalami kesusahan (kesulitan ekonomi) kemudian dia mengadukan kesulitan tersebut kepada manusia maka dia tidak akan ditutup dari kesulitannya tersebut. Barangsiapa yang mengadukan kesulitan tersebut kepada Allah maka tidak lama setelah itu Allah akan memberikan kecukupan kepadanya, bisa jadi dengan bentuk kematian dalam waktu dekat atau kecukupan dalam waktu dekat.” (HR. Abu Dawud no. 1402 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud)

Kehinaan Para Peminta-minta

Di samping penjelasan di atas, masih terdapat banyak hadits yang menyebutkan tentang keburukan para peminta-minta. Di antaranya adalah sebagai berikut.Rasulullah bersabda,

لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Salah seorang dari kalian akan terus meminta-minta (kepada manusia) hingga kelak dia akan bertemu Allah dalam keadaan tidak ada daging sedikitpun di wajahnya .” (HR. Muslim no. 1724 dari shahabat Abdullah bin ‘Umar)

Hadits ini merupakan ancaman keras kepada orang yang suka meminta-minta dan menunjukkan akan keharaman perbuatan tersebut.

Para ulama mengatakan, “Tidak halal bagi seseorang untuk meminta-minta sesuatu (kepada orang lain) kecuali tatkala dalam keadaan darurat (sangat membutuhkan sekali).”

Rasulullah bersabda,

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

“Barangsiapa yang meminta harta kepada manusia dalam rangka memperbanyak harta maka hakekatnya dia sedang meminta bara api, tergantung yang dia minta sedikit atau banyak.” (HR. Muslim no. 1726 dari shahabat Abu Hurairah)

Rasulullah bersabda,

إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ

“Sesungguhnya meminta-minta adalah sebuah cakaran yang mana seorang (yang meminta-minta) mencakar wajahnya sendiri kecuali seorang yang meminta kepada pemimpin atau pada perkara yang memang dia harus meminta.”(HR. at-Tirmidzi no. 617 dari shahabat Samurah bin Jundub)

Kesimpulan

Para pembaca rahimakumullah, setelah kita membaca paparan di atas, hendaknya masing-masing kita berusaha dan bekerja untuk menutupi kebutuhan, serta mengharap hanya kepada Allah agar kita hidup mulia, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia. Sebaliknya, masing-masing kita menghindarkan diri dari sikap meminta-minta dan mengharap apa yang ada pada orang lain agar kita terhindar dari kehinaan.

Dalam kita berusaha atau bekerja, jangan lupa disertai dengan doa dan tawakal kepada Allah. Rasulullah bersabda,

لَوْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Kalau seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, sungguh Dia akan memberi rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rizki kepada seekor burung, ia pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan pulang di waktu sore dalam keadaan kenyang. (HR. Abu Dawud no. 51 dari shahabat Umar bin al-Khaththab).

Wallahu a’lam bishshawwab.

Penulis: Ustadz Muhammad Rifki

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.