Menyayangi Buah Hati Ciri Utama Pendidikan Islami

Edisi: 17 || Tahun 1439 H

Tema: RAQAIQ

Sekali lagi, anak yang bisa menjadi penyejuk mata hanyalah anak-anak yang shalih dan shalihah. Mereka mengetahui hak orangtua yang harus mereka tunaikan. Mereka meringankan beban kedua orangtua. Pekerjaan orangtua terbantu. Orangtua dilayani dan dihormati.

Semoga Allah menjadikan putra-putri kita sebagai anak-anak yang shalih dan shalihah. Semoga Allah menjauhkan mereka dari akhlak dan perilaku anak durhaka.

Anak Shalih, Buah Usaha Keras

Pembaca rahimakumullah, mendidik anak menjadi shalih dan shalihah tidaklah mudah. Apalagi di zaman sekarang, zaman yang dipenuhi godaan syubhat dan syahwat. Sehingga, diperlukan usaha keras dan serius untuk mewujudkannya. Yaitu, dengan memberikan pendidikan Islami bagi mereka.

Pendidikan yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi di atas bimbingan para ulama salaf. Bukan pendidikan yang diadopsi dari barat atau ilmu filsafat.

Baiklah, sebelum melanjutkan pembahasan ini, kami akan menyampaikan ringkasan dan intisari nasihat Luqman al-Hakim yang diabadikan Allah dalam al-Qur’an. Berikut kesimpulannya:

Pertama, disyariatkan memberikan wasiat dan pendidikan Islami kepada anak. Wasiat yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat.

Kedua, memulai pendidikan anak dengan pendidikan tauhid dan membentengi mereka dari bahaya kesyirikan. Sebab, kesyirikan akan menghapuskan segala amal kebaikan.

Ketiga, kewajiban bersyukur kepada Allah, berterima kasih kepada kedua orang tua, berbakti kepada keduanya dan menyambung tali silaturahmi dengan mereka.

Keempat, kewajiban menaati perintah kedua orang tua dalam hal kebaikan. Adapun perintah yang mengandung kemaksiatan kepada Allah , maka tidak boleh ditunaikan. Rasulullah bersabda,

لَا طَاعَةَ لِبَشَرٍ فِي مَعْصِيَةِ اللّٰهِ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Tidak ada ketaatan kepada manusia pada perintah yang berisi kemaksiatan kepada Allah. Kewajiban menaati perintah itu hanya pada perkara kebaikan saja.”(HR. al-Bukhari)

Kelima, kewajiban mengikuti teladan dan bimbingan orang-orang shalih. Tidak boleh mengikuti perilaku orang-orang yang tidak baik, akhlak maupun muamalahnya.

Keenam, menanamkan sikap muraqabah pada diri anak maupun diri orang tua sendiri. Yaitu, merasa diawasi oleh Allah, baik ketika sendirian maupun di depan khalayak.

Ketujuh, tidak boleh meremehkan perbuatan dosa sekalipun nampak kecil.

Kedelapan, kewajiban menegakkan shalat dengan sempurna, yaitu melaksanakan sesuai syarat, rukun, kewajiban dan sunnah-sunnahnya. Shalat juga harus dikerjakan secara khusyuk penuh dengan perenungan dan penghayatan, serta berjama’ah di masjid bagi kaum pria.

Kesembilan, menghidupkan sikap amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang hikmah sesuai dengan bimbingan syari’at. Rasulullah bersabda (artinya), “Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah kemungkaran tersebut dengan tangannya. Jika ia tidak mampu dengan tangannya, maka dengan lisannya. Jika ia belum mampu dengan lisannya, maka ubahlah dengan hatinya (mengingkari dan menjauh darinya). Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no.49)

Kesepuluh, bersabar menghadapi setiap rintangan dan gangguan saat menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab, setiap yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran pasti akan mendapatkan perlawanan dan permusuhan.

Kesebelas, tidak boleh bersikap sombong dalam segala hal; penampilan, cara berbicara, gaya berjalan maupun sikap.

Kedua belas, bersikap pertengahan saat berjalan, yaitu tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.

Ketiga belas, tidak boleh mengeluarkan suara secara berlebihan dan di luar kebutuhan. Sebab, kebiasaan seperti ini disamakan dengan suara keledai.

Pembaca yang budiman, demikianlah ringkasan dari pendidikan Islami yang disampaikan oleh Luqman al-Hakim yang diabadikan dalam al-Qur’an. Secara teori memang tampak mudah, namun dalam prakteknya membutuhkan perjuangan dari setiap orang tua.

Semoga Allah mencurahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk bisa mengamalkan bimbingan di atas. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Bimbingan Kenabian

Selanjutnya, kita akan menyebutkan salah satu bimbingan yang disampaikan oleh Rasulullah kepada anak-anak. Sebagaimana dikisahkan oleh shahabat Abdullah bin Abbas .

Ketika itu, saat masih kecil, ia dibonceng oleh Rasulullah. Saat itulah, beliau menyampaikan pesan mendalam kepada Abdullah kecil,

يَا غُلَامُ احْفَظِ اللّٰهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللّٰهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللّٰهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأقلام وجفَّت الصُّحُف

“Wahai anak kecil, jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, engkau pasti akan mendapati Allah ada di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah hanya kepada Allah. Ketahuilah, kalau seluruh manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak mampu memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan bisa memberi manfaat kepadamu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, maka mereka tidak mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang Allah telah takdirkan bisa mencelakakanmu. Pena pencatat takdir telah diangkat dan lembaran catatan takdir telah kering.” (HR. at-Tirmidzi dan selainnya, lihat al-Misykah: 5302)

Sayang Terhadap Anak-anak

Sebelum memasuki pembahasan hadits di atas, ada beberapa poin penting yang perlu kami sampaikan terlebih dahulu. Yaitu, hadits ini menunjukkan kasih sayang Rasulullah kepada anak-anak. Status sebagai nabi tidak menghalangi beliau untuk dekat dengan anak-anak.

Kasih sayang Rasulullah tersebut dibuktikan dengan membonceng Abdullah bin Abbas di belakang beliau. Sekalipun umur terpaut jauh dan status yang berbeda, Rasulullah tidak segan untuk melakukan hal tersebut.

Kedekatan Rasulullah terhadap anak-anak menjadi salah satu sebab diterimanya nasehat yang beliau berikan kepada mereka. Anak-anak merasa disayang. Mereka merasa dekat dengan beliau .

Maka, Anda wahai orang tua, pendidik atau pengajar, bangunlah kedekatan dengan mereka. Kedekatan yang tetap menjaga kewibawaan dan kehormatan diri. Dengan sebab itu, bi idznillah, mereka akan dengan senang hati menerima nasehat kita.

Tidak jarang, nasehat orang tua diabaikan oleh anak disebabkan hubungan yang tidak harmonis antara anak dengan orang tua atau anak didik dengan pengajar. Jangankan mendengar, kadang bertatap muka saja mereka enggan. Atau bahkan mendengar nama saja sudah tidak suka.

Oleh karena itu, dekatilah anak-anak! Sayangilah mereka! Bangunlah setiap nasehat dan bimbingan di atas sikap rahmat dan kasih sayang. Semoga hal ini menjadi salah satu sebab nasehat Anda diterima oleh mereka.

Panggil mereka dengan lembut!

Hal lain yang menunjukkan kasih sayang Rasulullah kepada anak-anak adalah memanggil mereka dengan panggilan kasih sayang. Salah satunya, ketika memanggil Abdullah bin Abbas untuk diberi nasehat, beliau mengatakan,

! يَا غُلَامُ

“Wahai anak kecil!”

Anak akan merasa disayangi, sehingga memberikan perhatian terhadap nasehat yang disampaikan kepadanya.

Jangan Anda membentak mereka. Jangan Anda menghardik mereka. Kecuali memang pada kondisi yang mengharuskan untuk bersikap tegas.

Bukankah, Luqman al-Hakim ketika memberikan nasehat kepada putranya, ia memulai nasihatnya,

! يَا بُنَيَّ

“Wahai putra kesayanganku!”

Simak kembali nasehat Luqman yang tertuang dalam surah Luqman ayat 14-17.

Dengarkan pula bimbingan Nabi Ya’qub kepada nabi Yusuf ! Beliau memanggil sang putra dengan panggilan kasih sayang,

“Wahai putra kesayanganku, jangan kamu ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu!” (Yusuf: 5)

Ketika membimbing sang putra, Ismail, nabi Ibrahim juga memulainya dengan panggilan rahmat. Supaya bimbingan tersebut diterima olehnya. Nabi Ibrahim berkata,

“Wahai putraku kesayanganku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” (ash-Shaaffat: 102)

Dan masih banyak lagi contoh panggilan para orang tua dan para pendidik teladan yang menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak.

Ini hukum asal ketika memberikan bimbingan kepada anak-anak. Namun demikian, sikap tegas harus diberikan kepada anak jika memang hal tersebut dibutuhkan. Tidak jarang Nabi juga menunjukkan sikap tegas, terutama saat mengingkari kemungkaran.

Kesimpulannya, pendidikan Islami harus dibangun di atas sikap lembut dan ada kalanya dibutuhkan sikap tegas sesuai dengan kondisi. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Wabillahi at-taufiq.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdy

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.