Aqidah

Beriman kepada Hari Akhir – bagian 1

Beriman kepada Hari Akhir merupakan salah satu dari enam Rukun Iman. Makna beriman kepada Hari Akhir adalah, “Meyakini dengan pasti segala yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang Fitnah Kubur, Nikmat dan Adzab Kubur, Hari Kiamat, Hari Berbangkit (Al-Ba’ts), Hari Perhitungan (Al-Hisab), Surga dan Neraka, serta semua peristiwa yang terjadi padanya.”

Beriman kepada Hari Akhir merupakan bagian keimanan yang sangat penting. Di samping iman kepada Allah, iman kepada Hari Akhir juga yang paling sering disinggung pada ayat-ayat Makkiyah yang turun pada awal-awal dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beriman kepada Allah dan beriman kepada Hari Akhir merupakan motivator terkuat pada seseorang untuk mau beramal. Karena manakala seseorang beriman bahwa kelak akan ada hari perhitungan dan pembalasan atas semua amal perbuatan yang dilakukan di dunia ini, maka tentu dia akan termotivasi untuk beramal. Demikian pula, manakala dia beriman kepada Allah yang akan membalas segala amal dengan penuh keadilan, yang baik dibalas dengan kebaikan berlipat ganda, dan yang jelek dibalas dengan yang setimpal, maka tentu dia akan mengamalkan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Oleh karena itu, iman kepada Allah sering disebutkan di dalam Al-Qur`an secara beriringan dengan iman kepada Hari Akhir, terutama ketika menyebutkan tentang amal dan ketentuan-ketentuan hukum syari’at. Di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya):

“Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Ath-Thalaq: 2)

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 48)

Allah subhanahu wa ta’ala juga memerintahkan agar takut terhadap hari tersebut (yang artinya):

“Dan takutlah kalian terhadap hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah (yakni Hari Kiamat), kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-Baqarah: 281)

Adapun orang yang ingkar terhadap Hari Akhir, maka dalam keyakinannya kehidupan hanyalah di dunia ini saja. Sehingga dia akan berbuat semaunya di dunia ini karena tidak meyakini adanya balasan atas amal perbuatannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka (yang artinya):

“Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain waktu,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al-Jatsiyah: 24)

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi-Nya untuk membantah orang-orang yang mengingkari Hari Akhir dan menyatakannya sebagai kafir, sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya):

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Rabbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (At-Taghabun: 7)

Pembaca yang budiman. Dahulu, kita sering mendengar dongengan orang-orang tua tentang kisah orang yang sudah mati, bahwa dia akan didatangi oleh dua malaikat dan akan ditanya, kalau tidak bisa menjawab akan diadzab. Benarkah demikian?

Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh orang yang sudah mati di alam kuburnya bukan sekedar dongengan biasa. Bahkan, beriman dengan segala yang terjadi setelah kematian, yaitu: Fitnah Kubur, Nikmat dan Adzab Kubur, dan semua yang terkait dengannya sebagaimana dirinci dalam dalil-dalil yang shahih merupakan bagian dari iman kepada Hari Akhir.

Yang dimaksud Fitnah Kubur adalah Fitnah (ujian) terhadap mayit di alam kubur berupa pertanyaan Dua Malaikat tentang ‘Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?’ Apabila dia mukmin maka dia akan menjawab dengan jawaban yang benar. Sementara orang munafiq tidak akan mampu menjawab dengan benar. Fitnah Kubur merupakan fitnah yang sangat besar (dahsyat). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh benar-benar telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji di kubur (dengan ujian) yang serupa (kedahsyatannya) – atau mendekati – fitnah Dajjal.” (HR. al-Bukhari no. 86 dan Muslim no. 903).

Sementara kita tahu bahwa sejak diciptakannya Adam q hingga Hari Kiamat nanti fitnah yang paling besar (dahsyat) adalah Fitnah Dajjal, sebagaimana penegasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, “Tidak ada antara (penciptaan) Adam hingga terjadinya Kiamat perkara yang lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim 2946). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa Fitnah Kubur kedahsyatannya sebanding atau mendekati Fitnah Dajjal. Menunjukkan betapa dahsyatnya Fitnah Kubur. Karena seorang hamba harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan di alam kubur, yang dia tidak akan bisa menjawab dengan benar kecuali apabila berbekal dengan aqidah yang lurus nan kokoh dan amal shalih selama hidupnya di dunia.

Hadits-hadits yang memberitakan tentang fitnah kubur mencapai derajat mutawatir, diriwayatkan dari banyak shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya Abu Hurairah, Anas bin Malik, Al-Barra` bin ‘Azib, ‘Aisyah, Asma bintu Abi Bakr g, dll. Di antara hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisahkan fitnah kubur secara detail adalah hadits dari shahabat Al-Barra` bin ‘Azib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba mukmin apabila telah selesai hidupnya di dunia ini dan menuju alam akhirat, maka turunlah padanya sejumlah malaikat dari langit. Wajah mereka putih seperti Matahari. Mereka membawa kain kafan yang berasal dari kafan-kafan di jannah (Surga) dan wewangian dari jannah. Kemudian mereka (para malaikat tersebut) duduk dekat dengannya. Kemudian datanglah malakul maut (malaikat pencabut nyawa) duduk di sisi kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah kamu menuju ampunan dan keridhaan-Nya. Maka keluarlah ruh tersebut dengan mengalir seperti mengalirnya air dari ghirbah (sejenis tempat air). Maka malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Seketika itu pula, para malaikat lainnya (yang hadir saat itu) tidak membiarkan ruh tersebut berada di tangan malaikat maut sekejap matapun, namun mereka segera mengambil ruh tersebut dan meletakkannya dalam kain kafan dan wewangian yang mereka bawa tadi. Keluarlah dari ruh tersebut aroma wangi seperti misk (minyak wangi) paling harum di muka bumi. Kemudian para malaikat tersebut naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati serombongan malaikat lainnya kecuali rombongan tersebut bertanya, “Siapakah ruh yang wangi ini?” Mereka menjawab, “Fulan bin Fulan” dengan nama terbaik yang diberikan kepadanya ketika di dunia. Hingga sampailah mereka ke langit dunia dan merekapun minta dibukakan (pintu langit) untuk ruh tersebut. Maka di tiap-tiap langit disambutlah ruh tersebut seraya diantar hingga mendekati langit (yang berada di tingkat) atasnya. Demikian terus hingga tiba di langit ketujuh. Lalu Allah berfirman, “Tulislah catatan (amal) hamba-Ku di ‘Illiyyin dan kembalikanlah dia ke bumi, karena sesungguhnya Aku menciptakan mereka darinya (tanah), kepadanya Ku-kembalikan mereka, dan darinya pula Aku keluarkan (bangkitkan) lagi mereka.” Maka dikembalikanlah ruh tersebut kepada jasadnya (yang sedang berada di alam kubur/barzakh guna bersiap menghadapi pertanyaan, pen). Dua malaikat kemudian mendatanginya seraya mendudukkan hamba tersebut, lalu kedua malaikat itu bertanya kepadanya, “Siapakah Rabb-mu?” Maka dia (hamba mukmin tersebut) menjawab, “Rabb-ku adalah Allah.” “Apa agamamu?” Maka dia menjawab, “Agamaku adalah Islam.” “Siapakah pria ini yang diutus kepada kalian?” dia menjawab, “Dia adalah Rasulullah.” Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Apa landasan ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca Kitabullah, maka aku pun beriman kepadanya dan membenarkannya.” Seketika itu penyeru dari langit berseru, bahwa hamba-Ku telah benar. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari Surga, kenakanlah padanya pakaian dari Surga, dan bukakanlah untuknya pintu menuju Surga. Maka angin sepoi-sepoi dan semerbak wangi Surga datang menerpanya. Kemudian diluaskanlah untuknya di kuburnya sejauh mata memandang. Lalu ada seorang pria mendatanginya, pria yang tampan wajahnya, indahnya pakaiannya, wangi aromanya, berkata kepadanya, “Bergembiralah dengan kenikmatan yang menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dijanjikan untukmu.” Sang hamba mukmin itu pun berkata kepada pria tersebut, “Siapakah kamu? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.” Pria itu menjawab, “Aku adalah amal-amalmu yang shalih.” Sang hamba mukmin lantas berkata, “Ya Rabbi, segerakanlah Hari Kiamat, agar aku bisa bertemu dengan keluargaku (dari kalangan bidadari) dan hartaku (berupa istana, kebun-kebun di Surga, dll).”

            “Adapun seorang hamba kafir apabila telah selesai hidupnya di dunia ini dan menuju alam akhirat, maka turunlah padanya sejumlah malaikat dari langit. Wajah mereka hitam, membawa kain-kain yang kasar. Kemudian mereka (para malaikat tersebut) duduk dekat dengannya. Kemudian datanglah malakul maut (malaikat pencabut nyawa) duduk di sisi kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa (ruh) yang jelek keluarlah menuju kemarahan dan kemurkaan Allah. Maka jiwa (ruh) tersebut menyebar dalam jasadnya (yakni untuk bersembunyi karena tidak mau keluar). Malakul Maut pun menarik ruh tersebut dengan paksa dan kasar seperti ditariknya besi berduri dari kain wol yang basah (tentunya ketika besi berduri tersebut ditarik ada bagian dari kain wol tersebut yang ikut tertarik. Ruh dan jasad tersebut akan tercabik-cabik sedemikian rupa. Hal itu semakin menambah kepedihan dan rasa sakit, pen). Maka malaikat maut pun mengambil ruh tersebut. Seketika itu pula, para malaikat lainnya (yang hadir ketika itu) tidak membiarkan ruh tersebut berada di tangan malaikat maut sekejap matapun, namun mereka segera mengambil ruh tersebut dan meletakkannya dalam kain kasar yang mereka bawa tadi. Maka terciumlah bau busuk darinya seperti bau bangkai yang paling busuk di muka bumi. Kemudian para malaikat tersebut naik membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati serombongan malaikat lainnya kecuali rombongan tersebut bertanya, “Siapakah ruh yang busuk ini?” mereka menjawab, “Fulan bin Fulan” dengan nama terjelek yang disandangnya ketika di dunia. Hingga sampailah ke langit dunia dan minta dibukakan (pintu langit) untuk ruh tersebut, namun tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat (yang artinya): “Tidak dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk jannah sampai ada onta yang bisa masuk ke lubang jarum” Kemudian Allah berfirman, “Tulislah catatan (amal)-nya di ‘Sijjin! Di bumi paling bawah” Lalu dilemparlah ruh tersebut sejauh-jauhnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali membaca ayat (yang artinya): “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” Kemudian ruh si kafir tersebut dikembalikan ke jasadnya (yang sedang berada di alam kubur/barzakh guna bersiap menghadapi pertanyaan, pen). Dua malaikat kemudian mendatanginya seraya mendudukkan hamba tersebut, lalu kedua malaikat itu bertanya kepadanya, “Siapakah Rabb-mu?” Maka dia (hamba kafir tersebut) menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu.” “Apa agamamu?” Maka dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu.” “Siapakah pria ini yang diutus kepada kalian?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu.”

            Seketika itu penyeru dari langit berseru bahwa dia telah berdusta. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari Neraka, dan bukakanlah untuknya pintu menuju Neraka. Maka panas dan hawa busuknya datang menerpanya. Kemudian disempitkanlah kuburnya hingga menghimpit tulang-tulang rusuknya. Lalu datang kepadanya seorang pria yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Pria tersebut berkata, “Bergembiralah dengan adzab yang menyedihkanmu. Ini adalah hari yang dijanjikan untukmu.” Maka si hamba kafir itu bertanya kepadanya, “Siapa kamu? Sungguh wajahmu adalah wajah yang datang membawa kejelekan!” Pria tersebut menjawab, “Aku adalah amal-amalmu yang jelek.” Si hamba kafir itu lalu berkata, “Wahai Rabbku, jangan engkau jadikan kiamat.” (HR. Ahmad I/287)

Dalam hadits lain, “Apa yang engkau ketahui tentang laki-laki ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)?” Adapun seorang mukmin akan menjawab, “Dia adalah Muhammad Rasulullah. Dia datang membawa keterangan dan hidayah, maka kami menyambutnya, mengimaninya, dan mengikutinya.” Maka dikatakan kepadanya, “Tidurlah dengan tenang. Sungguh Kami telah tahu bahwa engkau benar-benar seorang mukmin.” Adapun orang munafiq atau orang yang ragu (dalam keimanannya) dia akan menjawab, “Aku tidak tahu. Aku hanya mendengar manusia mengatakan sesuatu maka aku pun ikut mengatakannya.” (HR. al-Bukhari no. 184)

Bersambung insya Allah…

Penulis: Ustadz Ahmad Alfian hafizhahullahu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Back to top button