Fathimah bintu Muhammad shalallahu’alaihi wasallam Sosok Wanita Tangguh dalam Menghadapi Berbagai Ujian

Edisi: 02 || 1441H
Tema: Siroh

بسم الله الرّحمان الرّحيم

Para pembaca rahimakumullah. Romantika kehidupan keluarga besar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam (ahlul bait) begitu menarik dan indah untuk kita simak satu demi satu kisah-kisahnya.

Banyak sekali pelajaran dan manfaat yang bisa kita petik dari kisah-kisah tersebut untuk kita amalkan dalam kehidupan rumah tangga kita.

Satu diantara sekian kisah kehidupan keluarga besar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam adalah kisah seorang putri beliau sang wanita tangguh Fathimah bintu Muhammad shalallahu’alaihi wasallam.

Profil Singkat

Nama lengkapnya adalah Fathimah bintu Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim radhiallahuanha. Ayahnya merupakan manusia terbaik dan rasul paling utama yaitu nabi Muhammad bin Abdillah shalallahu’alaihi wasallam dan ibunya dikenal sebagai wanita bangsawan dan saudagar Quraisy yaitu Khadijah bintu Khuawilid radhiallahuanha.

Ada perbedaan riwayat yang menyebutkan tentang waktu kelahirannya. Sebagian ulama seperti ad-Daulabi rahimahullah dalam kitabnya adz-Dzuriyyah ath-Thahirah (hal. 111) mengatakan bahwa Fathimah radhiallahuanha dilahirkan di kota Makkah lima tahun sebelum ayahnya diangkat sebagai nabi, tepatnya pada peristiwa renovasi Ka’bah.

Kala itu, setelah selesainya renovasi Ka’bah, banyak orang yang berebut untuk bisa meletakkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya. Sang ayah yang ketika itu dijuluki oleh orang-orang Quraisy dengan sebutan al-Amin (orang yang dapat dipercaya) akhirnya terpilih sebagai orang yang berhak untuk meletakkan Hajar Aswad.

Namun beliau memberikan keputusan yang bijaksana yaitu meminta kepada masing-masing kabilah (suku) yang hadir waktu itu untuk menunjuk seorang wakil untuk kemudian bersama-sama membawa Hajar Aswad yang ditaruh pada sebuah kain untuk diletakkan pada tempatnya.

Sementara al-Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah dalam kitab al-Isti’ab [4/374] dan al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak [3/176] mengatakan bahwa Fathimah dilahirkan di kota Makkah satu tahun setelah ayahnya diangkat sebagai nabi atau tatkala sang ayah berusia 41 tahun.

Fathimah radhiallahuanha memiliki beberapa saudara dan saudari kandung yaitu al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Adapun al-Qasim dan Abdullah meninggal dalam keadaan masih kecil.

Fathimah dipersunting oleh shahabat Ali bin Abi Thalib pada bulan Dzulqa’dah tahun kedua Hijriyah seusai perang Uhud. Dari pernikahan tersebut, lahirlah putra dan putri yang bernama al-Hasan, al-Husein, Muhsin, Ummu Kultsum dan Zainab.

Fathimah radhiallahuanha meninggal dunia sekitar lima bulan setelah meninggalnya sang ayah pada usia sekitar 25 tahun. (lihat Siyar A’lamin Nubala’)

Kesabaran dalam Menghadapi Tantangan Dakwah

Di masa awal pertumbuhannya sebagai seorang gadis, Fathimah radhiallahuanha telah terjun membantu merinngankan beratnya ujian yang dialami oleh sang ayah di masa awal perjuangan dakwah menyampaikan Islam kepada orang-orang Quraisy.

Di antara cobaan tersebut adalah apa yang dilakukan oleh sang paman yang jahat yaitu Abu Lahab dan istrinya yang bernama Ummu Jamil dengan meletakkan kotoran di depan rumah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Menyaksikan keadaan yang demikian, Fathimah radhiallahuanha membuang kotoran tersebut dan membersihkannya.

Demikian pula tatkala Uqbah bin Abi Mu’ith meletakkan kotoran hewan ke punggung Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam tatkala sedang sujud di depan Ka’bah, belaiu shalallahu’alaihi wasallam tetap bersujud hingga datang Fathimah membuang koktoran yang melekat di punggung sang ayah.

Ujian lain yang dialami oleh Fathimah radhiallahuanha yaitu pernah mengalami masa-masa pahit pemboikotan dan embargo yang dilakukan orang-orang Quraisy terhadap kaum muslimin dan keluarga Bani Hasyim yang berlangsung selama tiga tahun.

Selama masa pemboikotan dan embargo tersebut pihak Quraisy melarang masyarakat untuk melakukan jual beli apapun dan segala bentuk hubungan dengan pihak kaum muslimin dan keluarga Bani Hasyim. Ketika itu keadaaan kaum muslimin dan Bani Hasyim benar-benar mengalami penderitaan yang sangat.

Sampai-sampai diceritakan karena ketiadaan bahan makanan sebagai dampak dari embargo tersebut kaum muslimin dan Bani Hasyim memakan dedaunan demi menyambung hidup.

Ujian demi ujian dilalui Fathimah radhiallahuanha dengan kesabaran. Hingga datang ujian yang tak kalah beratnya yaitu dengan wafatnya ibunda tercinta Khadijah bintu Khuwailid. Ada kesedihan yang begitu mendalam di wajah sang putri tercinta.

Bagaimana tidak?! Keberadaan ibunda di masa hidupnya telah banyak membantu perjuangan dakwah sang ayah dalam menegakkan kalimat tauhid

لاإله إلّاالله

dan memberantas kesyirikan. Dengan wafatnya Khadijah dan sebelumnya sang paman Nabi yaitu Abu Thalib, orang-orang Quraisy semakin berani secara terang-terangan menyakiti Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Kesabaran dalam Menerima Takdir Allah ta’ala

Ummul mukminin Aisyah radhiallahuanha mengisahkan, “Suatu hari istri-istri Nabi shalallahu’alaihi wasallam sedang berkumpul di dekat beliau. TIdak lama kemudian datanglah Fathimah berjalan (menuju Rasulullah) dengan cara berjalan yang persis sama seperti cara berjalannya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Tatkala melihat kedatangan sang putri, beliau pun menyambutnya dengan senang dan bahagian seraya berkata, ‘Selamat datang wahai putriku’, kemudian Rasulullah mendudukan Fathimah di sebelah kanan atau di sebelah kiri beliau.

Kemudian Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam membisikkan sesuatu ke telinga Fathimah maka Fathimah pun menangis berurai air mata. Tatkala Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam melihat kesedihan yang sangat pada raut muka putrinya, beliaupun kembali membisikkan sesuatu ke telinga Fathimah, maka Fathimah pun tertawa.

Aku (‘Asiyah) pun bertanya kepada Fathimah,’Rasulullah memberikan kekhususan kepadamu dibandingkan istri-istri beliau, dengan bisikan sesuatu kemudian engkau menangis. Maka tatkala Rasulullah telah beranjak pergi, akupun bertanya kepada Fathimah, ‘Apa yang dikatakan oleh Rasulullah kepadamu?’, Fathimah menjawab,’Aku tidak akan membeberkan rahasia Rasulullah.’

Ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam telah wafat, aku mengatakan kepada Fathimah, ‘Aku meminta kepadamu dengan hakku atas dirimu pada apa yang pernah aku sampaikan kepadamu, apa yang dikatakan oleh Rasulullah kepadamu?’ Maka Fathimah radhiallahuanha mengatakan, ‘Adapun sekarang aku akan menjawabnya, ketika Rasulullah membisikkan kepadaku dengan bisikan yang pertama, beliau memberitahukan kepadaku, ‘Bahwasannya malaikat Jibril membacakan al-Qur’an pada setiap tahun sebanyak satu kali atau dua kali, namun sekarang malaikat Jibril membacakan al-Qur’an sebanyak dua kali.

Dan aku berpandangan bahwa kematianku telah dekat maka bertakwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah karena sebaik-baik pendahulu bagimu adalah aku.’ maka akupun menangis sebagaimana yang engkau lihat.

Tatkala Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam melihat kesedihanku maka beliau pun membisikkan dengan bisikan yang kedua, ‘Wahai Fathimah , tidakkah engkau senang bahwasannya engkau merupakan tokoh wanita yang beriman atau tokoh wanita dari umat ini?’ Maka akupun tertawa sebagaimana yang engkau lihat’.” (HR. al-Bukhari no. 3623 dan Muslim no. 98 dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahuanha)

Suatu hari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengalami sakit yang cukup keras. Hingga tatkala sakit yang dirasakan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam semakin bertambah parah, Fathimah menyampaikan kesedihannya kepada sang ayah seraya berkata, “Alangkah beratnya penderitaanmu, wahai ayah”.

Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengatakan, “Tidak ada lagi penderitaan atas ayahmu setelah hari ini”. Tidak berapa lama kemudian wafatlah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Melepas kepergian sang ayah, Fathimah menyatakan dengan kesediahannya, “Wahai ayahku, engkau telah memenuhi panggilan-Nya.

Wahai ayahku, surga Firdaus adalah tempatmu. Wahai ayahku, kepada Jibril aku menyampaikan berita duka ini.” (HR. al-Bukhari no. 4462 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahuanhu)

Hadits-Hadits tentang Keutamaan Fathimah radhiallahuanha

1. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

أفضل نساء أهل الجنّة خديجة بنت خويلد وفاطمة بنت محمّد ومريم بنت عمران وآسية بنت مزاحم امرأة فرعون

“Seutama-utama wanita penduduk surga adalah Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad, Maryam bintu ‘Imran dan Asiyah bintu Muzahim istri Fir’aun.” (HR. Ahmad no. 2668 dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiallahuanhu, lihat ash-Shahihah no. 1508)

2. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

حسبك من نساء العالمين مريم بنت عمران وخديجة بنت خويلد وفاطمة بنت محمّد وآسية امرأة فرعون

“Cukuplah bagimu (keutamaan) dari wanita di dunia yaitu Maryam bintu “Imran, Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad dan Asiyah istri Fir’aun.” (HR. at-Tirmidzi no. 3053 dari shahabat Anas bin Malik, lihat Misykatul Mashabih no. 6181)

3. Ummul Mukminin Aisyah radhiallahuanha berkata,

ما رأيت أحدا أشبه سمتا وهديا ودلّا برسول الله صلى الله عليه وسلم في قيامهاوقعودها من فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت:إذا دخلت على النّبيّ صلى الله عليه وسلم إذا دخل عليها قامت من مجلسها فقبّلته وأجلسته في مجلسها

“Belum pernah aku melihat orang yang paling mirip dalam hal budi pekerti, akhlak dan ketenangan sikap dengan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam daripada Fathimah binti Rasulillah shalallahu’alaihi wasallam. Dia (Aisyah radhiallahuanha) berkata, “Dahulu apabial Fathimah menemui Nabi shalallahu’alaihi wasallam maka beliau menyambutnya, menciumnya dan mendudukan di tempat duduknya. Dan apabila Nabi shalallahu’alaihi wasallam menemui Fathimah maka Fathimah menyambutnya, menciumnya dan mendudukkan di tempat duduknya.” (HR. Tirmidzi no. 2872)

Wallahu a’lam bishshawab.

Penulis: Ustadz Muhammad Rifki hafizhahullah

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.