Akidah Umat Islam Tentang Kedudukan al-Masih Isa bin Maryam alaihissalam

Edisi: 20 || 1440H
Tema: Tafsir

Allah ta’ala berfirman,

ذٰلِكَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚقَوْلَ الْحَقِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَمْتَرُوْنَ

“Itulah Isa putera Maryam, yang mengtakan perkataan yang benar, yang mereka ragukan tentang kebenarannya.” (Maryam: 34)

Nabi Isa putra Maryam alaihissalam adalah seorang nabi dan rasul yang mulia. Ibundanya bernama Maryam bintu Imran, seorang wanita shalihah, suci, dan yang memenuhi hari-harinya dengan ibadah kepada Allah ta’ala.

Pada suatu ketika, atas perintah Allah, malaikat Jibril alaihissalam menjumpai Maryam dengan menjelma sebagai manusia yang sempurna, kemudian menyampaikan kepadanya bahwa dia hanyalah utusan Allah yang hendak menganugerahkan kepada Maryam seorang anak laki-laki yang suci.

Begitu mendengar ucapan Jibril tersebut, Maryam lantas berkata (artinya), “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” (Maryam: 20)

Lalu Jibril menegaskan bahwa hal itu adalah mudah bagi Allah ta’ala. Allah berkehendak untuk menjadikan Isa putra Maryam sebagai tanda kekuasaan Allah dan rahmat dari-Nya.

Akhirnya Maryam pun mengandung, lalu ia mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Setelah ia melahirkan bayi yang penuh berkah tersebut, Maryam lalu membawa sang bayi kepada kaumnya dengan menggendongnya.

Kaumnya berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya kemu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (Maryam: 27-28)

Maryam tidak menjawab sepatah kata pun. Dia justru menunjuk kepada anaknya, mengisyaratkan bahwa bayi itulah yang akan menjelaskan hakekat sebenarnya. Kaumnya berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (Maryam: 29)

Atas kebesaran dan kekuasaan Allah ta’ala, Nabi Isa yang masih bayi dalam gendongan bisa bicara (artinya), “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (untuk mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejateraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari ini aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam: 30-33)

Dijuluki Al-Masih

Ada beberapa pendapat tentang sebab julukan ini diberikan kepada Nabi Isa:

1. Karena beliau tidaklah mengusap seseorang yang memiliki cacat kecuali pasti sembuh dengan izin Allah ta’ala.

2. Karena beliau mengusap bumi, maksudnya banyak menempuh jarak yang jauh di muka bumi ini dalam rangka berdakwah. Wallahu a’lam. (lihat Fatawa Lajnah Daimah, [3/130])

Nabi Isa bin Maryam dalam Pandangan Yahudi

Orang-orang Yahudi mendustakan Nabi Isa alaihissalam. Bahkan mereka mengatakan bahwa beliau adalah anak zina dan ibunya seorang pelacur. Beliau bukanlah seorang nabi menurut mereka.

Dalam syariat Yahudi, membunuh Nabi Isa alaihissalam dinilai sebagai perbuatan yang sesuai dengan syariat Allah. Bahkan mereka mengklaim berhasil membunuh beliau sebagaimana yang Allah beritakan dalam al-Qur’an tentang ucapan mereka, (artinya), “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam.” (an-Nisa’: 157)

Orang-orang Yahudi sendiri sebenarnya tidak yakin bahwa yang mereka bunuh adalah Nabi Isa. Sehingga pengakuan mereka telah berhasil membunuh Nabi Isa adalah pengakuan dusta.

Memang Nabi Isa tidaklah terbunuh, namun beliau diangkat ke langit oleh Allah. Sebenarnya yang mereka bunuh dan mereka salib adalah orang yang diserupakan oleh Allah dengan Nabi Isa alaihissalam. (Lihat al-Qaul al-Mufid, [1/72])

Allah ta’ala berfirman (artinya), “Dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Tetapi Allah mengangkat Isa ke hadirat-Nya.” (an-Nisa’: 157-158)

Nabi Isa bin Maryam dalam Pandangan nasrani

Orang-orang Nasrani mengatakan bahwa beliau adalah anak Allah, beliau adalah salah satu dari tiga unsur ketuhanan (trinitas dalam istilah mereka).

Dari sinilah kemudian orang-orang Nasrani menjadikan beliau sebagai sesembahan yang berhak diibadahi. Sungguh dusta ucapan mereka ini. (Lihat al-Qaul al-Mufid, [1/72]).

Allah ta’ala berfirman (artinya), “Sesungguhnya kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga (trinitas).” (al-Maidah: 73)

Nabi Isa bin Maryam dalam Pandangan Islam

Beliau adalah salah seorang nabi dan rasul pilihan Allah yang wajib diyakini oleh setiap muslim.

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda (artinya), “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang Allah lemparkan kepada Maryam dan ruh yang Allah tiupkan kepadanya, dan juga bersaksi bahwa surga itu benar adanya, maka Allah masukkan dia ke dalam surga sesuai kadar amalannya.” (HR. al-Bukhari no. 3180 dan Muslim no. 41)

Nabi Isa adalah hamba Allah, manusia biasa, yang tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, sehingga tidak dibenarkan bagi seorang pun menjadikan beliau sebagai sesembahan layaknya Tuhan yang disembah.

Beliau sendiri tidak pernah sekali pun mengajak umatnya untuk menyembah dirinya. Beliau tidak rela dirinya diibadahi.

Allah ta’ala berfirman (artinya), Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?” Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau. tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya)’…” (al-Maidah: 116)

Sebagai rasul pilihan Allah, beliau berhak untuk mendapatkan hak-haknya sebagai seorang rasul. Seorang rasul harus dicintai dan diimani kerasulannya. Seorang rasul tidak boleh dihinakan maupun dilecehkan, serta tidak boleh diberi julukan-julukan rendah, apalagi bila dibumbui dengan kedustaan, seperti anak zina, dan sebagainya.

Dengan demikian, sikap umat Islam terhadap Nabi Isa alaihissalam adalah sikap yang tepat. TIdak sebagaimana orang Nasrani yang berlebihan dalam mengkultuskan beliau hingga mengangkat posisi beliau pada derajat ketuhanan, dan tidak pula sebagaimana sikap orang Yahudi yang merendahkan dan menghinakan beliau hingga mereka bertekad untuk membunuhnya.

Setiap muslim juga harus berkeyakinan bahwa syariat dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa berlaku bagi umatnya saja. nabi Isa juga pernah memberitakan bahwa kelak sepeninggal beliau akan muncul seorang nabi yang harus diikuti dan diimani, yaitu Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam.

Setiap pemeluk agama Nasrani, yang mengaku pengikut Nabi Isa, wajib untuk beriman terhadap kerasulah Nabi Muhammad dan menjalankan syariat yang beliau bawa. Apabila enggan, maka dia kafir dan kana menjadi penghuni neraka.

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda (artinya), “Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang risalahku, kemudian dia meninggal dalam keadaan belum beriman kepadaku, melainkan pasti dia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 218)

Nabi Isa Wafat Disalib?

Seorang muslim harus menyatakan dengan tegas, “Bukan Nabi Isa bin Maryam yang disalib, tapi seseorang yang diserupakan dengan beliau! Beliau diangkat oleh Allah ke langit, untuk kemudian turun kembali ke dunia di akhir zaman nanti sebagai seorang muslim, pengikut Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam.”

Kisahnya adalah ketika orang-orang Yahudi mengepung Nabi Isa bersama sejumlah shahabatnya di sebuah rumah, saat itu hari Jum’at, sesudah waktu Ashar, beliau merasa bahwa mereka pasti dapat memasuki rumah itu atau ia (terpaksa) keluar rumah dan akhirnya pasti berjumpa dengan mereka.

Dalam kondisi seperti itulah, beliau berkata kepada para shahabatnya, “Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan dengan diriku? Kelak ia akan menjadi temanku di surga.”

Ada seorang pemuda yang bersedia, namun Nabi Isa memandang pemuda itu masiuh terlalu kecil untuk melakukannya. Sehingga beliau pun mengulangi permintaannya sebanyak dua atau tiga kali. Namun setiap kali beliau mengulangi perkataannya, tidak ada seorang pun yang bersedian kecuali pemuda itu.

Akhirnya Nabi Isa berkata (artinya), “(Kalau memang demikian), kamulah orangnya.”

Maka Allah pun menjadikan pemuda tersebut mirip seperti Nabi Isa alaihissalam.

Setelah itu, Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit melalui salah satu celah lubang yang ada di rumah itu.

Ketika orang-orang Yahudi meliah pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tersebut, mereka menyangka ia adalah Nabi Isa alaihissalam. Mereka membunuhnya lalu menyalibnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, [1/788])
Kelak ketika turun ke muka buni ini, Nabi Isa akan berjuang bersama kaum muslimin untuk menegakkan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan memerangi kekufuran dan syiar-syiarnya.

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda (artinya), “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Demi Allah), sungguh telah dekat saatnya Isa putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil (yang menjalakan syariat ini), ia akan menhancurkan salib, membunuh babi, meletakkan (tidak memberlakukan) jizyah, dan harta akan melimpah sampai-sampai tidak ada seorangpun yang mau menerimanya.” (HR. al-Bukhari no. 2070 dan Muslim no. 220)

Wallahu a’lam bish shawwab.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *