Menjaga Kehormatan Muslimah (bagian 1)

Edisi: 16 || 1440 H

Tema: Keluarga

بسم الله لرّحمان الرّحيم

Tahukah Anda perhiasan dunia yang terbaik? Dia bukanlah emas, perak atau mutiara. Bukan pula rumah megah maupun mobil mewah. Akan tetapi sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah akan memberikan kegembiraan bagi suami. Ia sekaligus pendidik pertama bagi seorang anak. Darinyalah muncul generasi penerus agama, bangsa dan negara.

Pembaca rahimakumullah, bagaimanakah sifat-sifat seorang wanita sehingga dikatakan shalihah? Kami akan mengulasnya dalam rubik singkat kali ini, insyaAllah. Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan.

Wanita shalihah tidak terbatas pada seorang istri atau wanita yang telah menikah. Bukan pula pada wanita yang menghadapi pernikahan. Akan tetapi wanita shalihah juga mencakup seluruh wanita pada semua usia.

 

Sebuah Panggilan

Sehingga, tema ini ditujukan kepada semua pembaca, bahkan kepada para orang tua yang mendambakan putri shalihah. Demikian pula, kepada para pendidik dan pengajar yang sedang meletakkan pondasi bagi generasi penerus sejati.

Pembaca rahimakumullah, alangkah butuhnya kita semua terhadap pendidikan Islami bagi putri-putri kita. Terkhusus di zaman modern ini. Manakala kaum muslimah diserang dengan serangan yang belum pernah ada di masa-masa lalu. Serangan tersebut melalui majalah, media sosial, situs-situs internet, dan berbagai media lainnya.

Semua itu dalam rangka untuk menjauhkan kaum muslimah dari ajaran Islam, akhlak mulia, dan norma kesopanan. Sehingga, tidak sedikit dari kaum muslimah yang menanggalkan hijabnya, baik hijab luar maupun hijab berupa rasa malu. Bahkan, ada pula yang menanggalkan hijab keimanan.

Para orang tua dan pendidik yang kami hormati, apa yang kami sebutkan di atas adalah kenyataan. Kenyataan yang begitu memprihatinkan dan membuat kita mengelus dada. itu semua adalah tanggung jawab kita bersama.

Di Zaman dulu, ajakan atau pengaruh kejelekan tidak bisa dengan mudah mendatangi seorang wanita. Sebab, ia tinggal di dalam rumahnya kecuali jika ia bergaul dengan teman jelek atau hidup di lingkungan buruk.

Tapi sekarang, pengaruh buruk itu bisa datang kepada seorang wanita kapan saja dan di mana saja, sekalipun ia di dalam kamarnya. Pengaruh tersebut bisa masuk tanpa melaui pintu rumah dan tanpa diketahui anggota keluarga.

Pengaruh buruk itu bisa melalui alat komunikasi, media sosial, fasilitas internet, buku maupun majalah, serta fasilitas lain yang tidak mendidik. Tidak ada yang bisa membentengi kecuali Allah ta’ala kemudian bimbingan ilmu agama, amal shalih, dan benteng akhlak wanita shalihah.

 

Taufik dan Usaha

Pembaca rahimakumullah, kita semua, terkhusus para orang tua atau suami, bertanggung-jawab membentengi keluarga dari pengaruh tersebut. Ya, semuanya wajib berusaha menjadikan kaum wanita terjaga dan menjadi shalihah.

Keshalihan tidak datang begitu saja. Begitu pula tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Akan tetapi harus diupayakan dengan sungguh-sungguh.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka berusaha mengubah diri mereka sendiri.” (ar-Ra’d: 11)

Demikian juga, keshalihan tidak lepas dari taufik Allah ta’ala. Jika Allah memberikan hidayah dan pertolongan kepada seorang wanita, niscaya ia akan menjadi shalihah. Allah ta’ala yang memberikan petunjuk. Segala sesuatu di tangan Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman,

مَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيًّۭا مُّرْشِدًۭا

“Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka dia pasti akan mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, niscaya tidak ada yang bisa menolong dan membimbingnya.” (al-Kahfi: 17)

Dari dua ayat di atas, bisa kita simpulkan bahwa seorang hamba wajib berusaha, kemudian menggantungkan hasil usahanya kepada Dzat yang Maha Kuasa. Dengan kata lain, ikhtiar dan tawakal harus dilakukan oleh seorang hamba. Inilah yang diperintahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua,

احرص على ما ينفعك, واستعن باالله ولاتعجز

“Bersemangatlah pada segala yang bermanfaat untukmu. Minta tolongalah kepada Allah dan jangan merasa lemah!” (HR. Muslim no. 2664, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

 

Kriteria Shalihah

Sebelum dilanjutkan, perlu dipahami bersama bahwa makna shalihah adalah manakala sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Bukan didasarkan pada budaya Barat atau kebiasaan modern yang bertentangan dengan syariat.

Jika demikian, segala usaha untuk membentuk pribadi wanita shalihah harus didasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (al-Isra’: 9)

Dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تركت فيكم شيئين ما إن تمسّكتم بهما لن تضلّوا كتاب الله وسنّتي

“Aku tinggalkan dua hal yang jika kalian berpegang teguh dengannya, niscaya kalian tidak akan tersesat. Yaitu, kitabullah dan sunnahku.” (HR. Malik, lihat ash-Shahihah no. 1761)

Baiklah, kita akan memasuki penyebutan sifat-sifat wanita shalihah.  Sifat-sifat tersebut akan kita ambil dari al-Qur’an dan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Semoga kita diberi kemudahan untuk berhias dengan sifat-sifat tersebut.

Pembaca, Allah ta’ala menyebutkan sifat-sifat wanita shalihah di dalam al-Qur’an,

فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌۭ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ

“Wanita-wanita yang shalihah adalah yang taat kepada Allah dan menjaga apa yang diwajibkan Allah saat sendirian.” (an-Nisa’: 34)

Dalam ayat di atas, disebutkan dua sifat wanita shalihah. Satu sifat berkaitan dengan hak Allah dan sifat lainnya berkaitan dengan hak orang lain atas dirinya.

 

Taat kepada Allah ta’ala

Di awal ayat, Allah ta’ala menyebutkan sifat wanita shalihah yang pertama, yaitu:

قَٰنِتَٰتٌ

Maknanya adalah seorang wanita yang selalu taat kepada Allah ta’ala. Ia selalu beribadah kepada-Nya dan memperhatikan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba.

 

Menjaga Hak Suami

Sedangkan pada penggalan ayat selanjutnya, Allah ta’ala menyebutkan sifat seorang wanita shalihah dalam kaitannya dengan orang lain. Yaitu, menjaga hak suami saat suami tidak ada di sisinya. Lebih-lebih, saat suami ada.

Seorang wanita tetap menjaga dirinya walaupun suaminya tidak ada di sisinya.

Seorang wanita menjaga harta suami. Ia juga menjaga kepercayaan dan amanah suami. Seorang wanita shalihah tidak akan menghambur-hamburkan harta suami atau bahkan berkhianat terhadap janji sucinya.

Dua sifat di atas, yang terkait dengan hak Allah dan juga hak suami, akan menghantarkan seorang wanita menjadi pribadi shalihah. Dengan izin-Nya, akan dimasukkan ke dalam surga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذاصلّت المرأة خمسها وصامت شهرها وحصّنت فرجها وأطاعت بعلها دخلت من أيّ أبواب الجنّة شاءت

“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu dan berpuasa Ramadhan, lalu menjaga kehormantannya serta menaati suaminya, niscaya ia akan masuk ke dalam surga melalui pintu mana saja yang ia ianginkan.” (HR. Ibnu Hibban no. 4163, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Hadits di atas merupakan kabar gembira bagi wanita shalihah. Jaminan surga dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bagi yang melaksanakan empat amalan yang beliau sebutkan.

Dua amalan pertama terkait dengan hak Allah ta’ala dan dua amalan lainnya terkait dengan hak orang lain. Penggalan pertama merupakan perwujudan taat kepada Allah ta’ala. Sedangkan penggalan berikutnya terkait dengan perwujudan ketaatan kepada suami.

Dari sini bisa diambil kesimpulan, keshalihan seorang wanita harus dipenuhi dari dua sisi. Kaitannya dengan hak Allah, ini utama dan pertama. Dan kaitannya dengan hak suami, ini yang kedua dan tidak boleh ditinggalkan, terkhusus bagi wanita yang telah bersuami.

Sehingga, bagi para orang tua dan pendidik, hendaklah ditanamkan kepribadian mulia untuk menjaga kehormatan diri. Dengan dua hal ini, seorang wanita akan menjadi pribadi yang shalihah.

Sejak kecil, anak wanita diajari untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, dibiasakan untuk beribadah kepada-Nya, terkhusus kewajiban shalat dan puasa.

Sejak kecil pula, anak wanita ditanamkan untuk menutup auratnya, manjaga kehormatan dan harga dirinya. Dipilihkan untuknya teman-teman baik dalam bergaul. InsyaAllah, ke depan ia akan menjadi pribadi shalihah dengan izin Allah ta’ala.

Demikian, awal pembahasan rubik wanita shalihah kali ini. InsyaAllah pada edisi mendatang kita akan melanjutkan dengan pembahasan lebih rinci.

Wallahu a’la bishshawwab.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdy hafizhahullah

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.