Kisah-Kisah Ulama di Bulan Ramadhan

Edisi: 25 || 1440H
Tema: Ramadhan

Para pembaca rahumakumullah. Sungguh telah tertulis dengan goresan tinta emas dalam kitab-kitab hadits dan biografi tokoh-tokoh umat sepanjang masa tentang kesungguhan dan semangat para ulama yang luar biasa di dalam mengisi waktu-waktu di bulan Ramadhan dengan berbagai amalan shalih. Dalam tulisan kali ini kami akan memaparkan secara ringkas kesungguhan sebagian mereka dalam beramal di bulan Ramadhan. Harapannya semoga kisah-kisah mereka akan memberikan semangat dan kesungguhan kepada diri kita dalam beramal di bulan Ramadhan.
Semangat Para Ulama dalam Membaca al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam telah menerangkan dalam banyak haditsnya tentang keutamaan membaca al-Qur’an, antara lain sebagai berikut (artinya), “Permisalan orang beriman yang membaca al-Qur’an adalah seperti buah Utrujah (jeruk sukade) yaitu aromanya harum dan rasanya manis. Dan permisalan orang yang beriman yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah kurma yaitu tidak ada aromanya dan rasanya manis.” (HR. al-Bukhari no. 5020 dan Muslim no. 797 dari shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiallahuanhu)

“Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan memberikan syafaat (pembelaan) kepada para pembacanya.” (HR. Muslim no. 804 dari shahabat Abu Umamah al-Bahili radhiallahuanhu)

Pada ulama pendahulu kita, mereka memperbanyak membaca al-Qur’an pada bulan Ramadhan baik dibaca dalam shalat maupun di luar shalat.

Al-Aswad bin Yazid rahimahullah
Beliau mengkhatamkan al-Qur’an di bulan Ramadhan pada setiap 2 malam sementara pada saat di luar bulan Ramadhan beliau biasa mengkhatamkan al-Qur’an pada setiap 6 malam. Adapun waktu istirahat beliau untuk tidur hanya pada waktu antara maghrib dan isya. (Siyar A’lamin Nubala, [4/51])

Al-Walid bin Abdil Malik rahimahullah
Beliau biasa menghatamkan al-Qur’an pada setiap 3 hari di luar bulan Ramadhan. Adapun tatkala berada di bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 17 kali. (Siyar A’lamin Nubala, [4/347])

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah
Ar-Rabi’ bin Sulaiman menceritakan, “Dahulu asy-Syafi’i biasa mengkhatamkan al-Qur’an pada bulan Ramadhan sebanyak 06 kali selain yang dibaca dalam shalat. Sementara di luar bulan Ramadhan, pada setiap bulannya beliau biasa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 30 kali.” (Tahdzibul Kamal, [1/335])

Qatadah bin Di’amah as-Sadusi rahimahullah
Beliau biasa mengkhatamkan al-Qur’an di luar bulan Ramadhan pada setiap 7 hari. Dan tatkala memasuki bulan Ramadhan pada setiap 7 hari. Dan tatkala memasuki bulan Ramadhan, beliau menghatamkan al-Qur’an pada setiap 3 hari. Kemudian apabila memasuki 10 hari terakhir dari Ramadhan, beliau mengkhatamkan al-Qur’an pada setiap harinya. (Siyar A’lamin Nubala, [5/276])

Sa’id bin Jubair rahimahullah
Beliau juga biasa mengkhatamkan al-Qur’an di bulan Ramadhan pada setiap 2 malam. (Siyar A’lamin Nubala, [4/325])

Zabid al-Yami al-Kufi rahimahullah
Apabila memasuki bulan Ramadhan maka beliau menghadirkan al-Qur’an dan para shahabatnya berkumpul di sekitar beliau. (Bughyatul Insan fi Wazhaif Ramadhan li Ibni Rajab, hal. 46)

Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah
Beliau biasa membaca al-Qur’an pada malam harinya di bulan Ramadhan dengan 1 kali khatam (30 juz) dan sepertiga al-Qur’an (10 juz), kemudian di siang harinya melakukan shalat dhuha sebanyak 12 rakaat. (Siyar A’lamin Nubala, [12/109])

Abul Qosim Ibnu Asakir rahimahullah
Al-Qosim bin Ali – tatkala menyifati sang ayah yaitu Ibnu Asakir – mengatakan, “Beliau dahulu adalah orang yang tekun melaksanakan shalat berjama’ah dan membaca al-Qur’an, beliau biasa mengkhatamkan al-Qur’an pada setiap Jum’at dan mengkhatamkan al-Qur’an di bulan Ramadhan pada setiap harinya.” (Siyar A’lamin Nubala, [20/562])

Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah
Beliu biasa mengkhatamkan al-Qur’an di bulan Ramadhan pada setiap 3 malam. Dan ketika memasuki 10 hari yang terakhir, maka beliau mengkhatamkannya setiap 2 malam. (Lathaif al-Ma’arif li Ibni Rajab al-Hanbali, hal. 318)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah
Abdurrazaq rahimahullah berkata, “Dahulu Sufyan ats-Tsauri apabila memasuki bulan Ramadhan maka beliau meninggalkan manusia dan konsentrasi untuk membaca al-Qur’an.” (Bughyatul Insan fi Wazhaif Ramadhan li Ibni Rajab, hal. 46)

Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah
Pada saat bulan Ramadhan, beliau biasa menkhatamkan al-Qur’an setiap hari pada sat siang hari dan mengkhatamkan al-Qur’an setiap 3 malam yang dilakukan setelah melaksanakan shalat tarawih. (Siyar A’lamin Nubala, [12/439])

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Adapun terkait dengan larangan dari Rasulullah tentang tidak bolehnya mengkhatamkan al-Qur’an kurang dari 3 hari maka demikian maksudnya adalah apabila dilakukan secara terus menerus kurang dari 3 hari. Namun apabila yang demikian ini dilakukan sesekali pada waktu-waktu yang memiliki sesekali pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan seperti bulan Ramadhan terkhusus pada saat malam-malam yang diharapkan padanya lailatul qadr atau pada tempat-tempat yang utama seperti Mekkah bagi orang yang memasukinya dan bukan merupakan penduduk Mekkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an untuk mengambil kesempatan meraup pahala yang terkait dengan waktu. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad dan Ishaq serta para ulama lainnya.” (Lahtif al-Ma’arif li Ibni Rajab al-Hanbali, hal. 183)

Semangat Para Ulama dalam Menegakkan Shalat Malam di Bulan Ramadhan
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam telah menerangkan tentang keutamaan menegakkan shalat malam di bulan Ramadhan antara lain dalam sabdanya (artinya), “Barangsiapa menegakkan shalat malam di bulan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari no. 2009 dan Muslim no. 759 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Mari kita lihat bagaimana semangat pada ulama yang luar biasa di dalam melakukan shalat malam.
As-Saib bin Yazid rahimahullah berkata, “Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka’b dan Tamim ad-Dari untuk mengimami kaum muslimin pada shalat malam di bulan Ramadhan. Imam membaca al-Qur’an sampai 200 ayat (dalam 1 rakaat) sampai-sampai kami bertelekan pada sebuah tongkat karena lamanya berdiri dan tidaklah kami selesai dari shalat melainkan selesai saat menjelang subuh.” (Muwatha’, [1/341] dan Ma’rifah Sunan wal Atsar, [4/208])

Abdullah bin Abi Bakr rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku mengatakan, ‘Kami dahulu begitu selesai dari melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan, para pelayan pun segera mempersiapkan makanan sahur karena khawatir akan masuk waktu subuh’.” (Syu’abul Iman, [3/177])
Nafi’ bin Umar bin Abdillah rahimahullah berkata, “Aku mendengar Ibnu Abi Mulaikah mengatakan, ‘Dahulu aku mengimami manusia pada bulan Ramadhan, maka akupun membaca surat Fathir dan yang semisalnya pada 1 rakaat. Tidak ada berita yang sampai kepadaku bahwa ada satu orang jamaah merasa keberatan dengan yang demikian’.” (Mushannaf Ibni Abi Syaibah, [2/392])

Abul Asyhab rahimahullah mengatakan, “Dahulu Abu Raja’ mengkhatamkan al-Qur’an bersama kami dalam shalat malam di bulan Ramadhan pada setiap 10 malam.” (Hilyatul Auliya, [2/306])
Imran bin Hudair rahimahullah mengatakan, “Dahulu Abu Mijlas melaksanakan shalat malam di sebuah perkapungan di bulan Ramadhan dengan mengkhatamkan al-Qur’an pada setiap 7 malam.” (Mushannaf Ibni Abi Syaibah, [2/162])

Abdurrahman bin Hurmuz rahimahullah berkata, “Dahulu para imam shalat tarawih biasa membaca surat al-Baqarah untuk 8 rakaat. Ketika para imam tersebut menjadikan surat al-Baqarah untuk 12 rakaat maka manusia pun menilai bahwa pada imam telah meringankan untuk mereka.” (Mushnnaf Abdirrazaq ash-Shan’ani, [4/262])
Kedermawanan dan Kemurahan Para Ulama di Bulan Ramadhan

Shahabat Ibnu Abbas radhiallahuanhu berkata, “Dahulu Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan dan pemurah dalam memberikan kebaikan dan beliau lebih pemurah dan dermawan lagi tatkala di bulan Ramadhan. Sesungguhnya malaikat Jibril menemui beliau pada setiap tahunnya di bulan Ramadhan sampai selesai bulan Ramadhan maka Rasulullah membacakan al-Qur’an kepada Jiabril, Ketika bertemu dengan Jibril, Rasulullah semakin pemurah dan dermawan dalam kebaikan melebihi angi yang berhembus.” (HR. al-Bukhari no. 5 dan Muslim no. 4268 dari shahabat Ibnu Abbas radhiallahuanhu)

Abdullah bin Umar rahimahullah
Beliau selalu menyiapkan makanan berbuka untuk orang-orang miskin dan anak-anak yatim dan berbuka puasa bersama mereka. Apabila keluarganya melarang Ibnu Umar untuk berbuka bersama mereka, maka Ibnu Umar pun tidak makan pada malam itu. Apabila datang seorang peminta-minta dalam keadaan beliau maka beliau memberikan makanannya tersebut kepada si peminta-minta. Hingga pernah suatu hari seperti itu, kemudian ketika beliau kembali lagi (untuk makan) ternyata keluarganya telah memakan makanan yang tersisa. Maka beliau pun berpuasa pada keesokan harinya dalam keadaan tidak memakan makanan apapun. (Lathaif al-Ma’arif li Ibni Rajab al-Hanbali, hal. 168)

Ibnu Syihad az-Zuhri rahimahullah
Apabila memasuki bulah Ramadhan beliau mengatakan, “Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan untuk membaca al-Qur’an dan memberi makanan.” (Lathaif al-Ma’arif li ibni Rajab al-Hanbali, hal. 318)

Hammad bin Abi Sulaiman rahimahullah
Pada bulan Ramadhan, setiap hari beliau memberi makanan buka puasa untuk 50 orang. Kemudian pada saat malam ‘Idul Fithri beliau memberi hadiah pakaian kepada orang-orang tersebut. (Tahdzibul Kamal, [7/277])

Wallahu a’lam bishshawwab. Semoga bermanfaat.

Penulis: Ustadz Muhammad Rifqi hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *