Hikmah dan Pelajaran -Dari Musibah dan Bencana-

Edisi: 07 || 1440 H
Tema: Khusus

Semoga Allah ta’ala senatiasa menganugerahkan kesabaran dan ketabahan hati kepada saudara-saudara kita yang berada di Lombok, Donggala, Palu dan daerah lain yang sedang dilanda musibah dan bencana.

Semoga Allah ta’ala memberikan jalan keluar serta ganti yang lebih baik untuk mereka, Demikian pula kita berharap kepada-Nya agar memberikan petunjuk, hidayah, kekuatan serta pertolongan kepada pemerintah kita untuk dapat menyelesaikan segala permasalahan yang ada di negeri ini.

Tak lupa pula kita memohon kepada Allah, Rabbul ‘alamin, untuk menjauhkan kita dari segala macam fitnah, malapetaka, musibah dan bencana serta tidak menurunkan adzab-Nya karena dosa-dosa yang kita perbuat.

Para pembaca rahimakumullah. Ujian, cobaaan dan musibah tentu akan senantiasa mengiringi kehidupan setiap insan di muka bumi ini. Terlebih bagi seorang mukmin yang beriman kepada Allah ta’ala dan hari akhir. Namun tentunya sangat berbeda keadaan seorang mukmin dengan yang lainnya dalam bersikap, karena dia tahu dan yakin dengan apa yang telah Allah ta’ala sebutkan dalam sebuah alat-Nya,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)

Diapun benar-benar menyadari bahwa musibah dan bencana itu adalah kehendak dan takdir Allah, Dzat yang Mahakuasa.

Allah ta’ala berfirman,

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Tidak ada satu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)

Pelajaran dan Hikmah

Para pembaca rahimakumullah, sekian pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dan direnungi oleh setiap hamba dari musibah yang melanda, di antaranya:

1. Menyadarkan seorang hamba bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah.

Ini yang perlu kita sadari bersama, bahwa meskipun manusia merupakan makhluk yang memiliki banyak kelebihan dan kesempurnaan dibandingkan dengan makhluk lainnya, namun pada hakikatnya ia adalah makhluk yang lemah di hadapan Allah Sang Pencipta. Kekayaan, kekuatan, kekuasaan, kecerdasan bahkan kemudahan dan kemauan untuk beribadah merupakan anugerah Allah ta’ala. Bukan semata-mata daya dan upaya dari dirinya sendiri. Allah ta’ala berfirman,

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَاۗ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَآ اَنْ هَدٰىنَا اللّٰهُ ۚ

“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk’.” (al-A’raf: 43)

Dalam surat an-Nisa ayat 28 Allah ta’ala berfirman,

وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”

Juga firman-Nya (artinya),

“Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Ruum: 54)

Setelah menyadari akan hal ini, maka tidaklah pantas bagi seorang hamba untuk sombong dan berbangga diri. Apalagi jika kesombongannya justru melahirkan kedurhakaan dan penentangan dia kepada Allah ta’ala.

2. Musibah melanda sebagai akibat dari perbuatan tangan manusia.

Banyak manusia yang mengaitkan berbagai musibah yang menimpa dengan sebab-sebab (pelanggaran) yang bersifat zhahir/materi semata. Senyatanya, dibalik itu ada sebab-sebab (pelanggaran) syariat yang justru lebih kuat dan besar pengaruhnya. Bisa dalam bentuk kesyirikan kepada Allah, perdukunan, durhaka kepada orang tua, meninggalkan shalat, hati yang dipenuhi dengan penyakit seperti riya’, hasad dan ujub serta bentuk pelanggaran-pelanggaran lainnya.

Ketahuilah, dosa-dosa yang kita perbuat adalah penyebab utama datangnya bencana dan malapetaka. Allah ta’ala mengingatkan dalam al-Qur’an,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Ruum: 41)

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura’: 30)

Al-Imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Menangislah kalian atas orang-orang yang ditimpa bencana. Jika dosa-dosa kalian lebih besar dari dosa-dosa mereka yang ditimpa musibah, maka ada kemungkinan kalian akan dihukum atas dosa-dosa yang kalian telah perbuat, sebagaimana mereka telah mendapat hukumannya atau bahkan lebih dahsyat dari itu.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Fudhail bin Iyadh)

Maka sudah saatnya kita kembali kepada Allah ta’ala. Menyadari akan kesalahan diri lalu memohon ampunan kepada-Nya atas segala dosa-dosa yang kita perbuat.

3. Jangan merasa aman!

Para pembaca rahimakumullah, musibah benar-benar mengingatkan kita akan kekuasan Allah ta’ala. Suatu hal yang tidak boleh ada pada diri kita untuk merasa aman dari makar (adzab) Allah. Ingatlah, Allah Mahakuasa untuk menurunkan musibah (adzab) saat kita sedang terlelap tidur. Sebagaimana dalam firman-Nya,

اَفَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَّهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَۗ

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (al-A’raf: 97)

Bahkan Allah Mahakuasa pula untuk menurunkannya saat kita sedang bermain di waktu pagi. Allah ta’ala berfirman,

اَوَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَّهُمْ يَلْعَبُوْنَ

“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain?” (al-A’raf: 98)

Bahkan Allah ta’ala mengingatkan bahwa salah satu tanda kerugian suatu kaum adalah saat mereka merasa aman dari adzab Allah ta’ala. Sebagiamana dalam firman-Nya,

اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 99)

Masihkah kita merasa tenang dan aman saat kita bermaksiat kepada Allah? Adakah jaminan bahwa musibah yang melanda di daerah tertentu tidak akan menyapa tempat tinggal kita, dalam keadaan kita masih terlena dan lalai? Jangan pernah merasa aman dari turunnya adzab Allah!

Pentingnya Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Para pembaca rahimakumullah, musibah dan bencana yang melanda, tidak hanya Allah ta’ala khususkan bagi orang yang bermaksiat saja, namun adakalanya menimpa secara keumuman. Allah ta’ala berfirman,

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (al-Anfal: 25)

Atas dasar inilah, syariat Islam mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar, saling menasehati dan memberi masukan antara satu dengan lainnya.

Allah ta’ala menyebutkan di dalam al-Qur’an (artinya),

“Dan tetaplah engkau memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (adz-Dzariyat: 55)

“Dan saling menasehati supaya berpegang teguh dengan kebenaran dan saling menasehati supaya bersabar (dalam melakukan ketaatan kepada Allah).” (al-Ashr: 3)

Begitu urgennya perkara ini yang apabila umat terdiam dan meninggalkannya justru menjadi sebab becana secara umum, termasuk orang-orang yang shalih di antara mereka.

Baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

إنّ الناّس إذارأوا المنكر لايغيّرونه أوشك إن يعمّهم الله بعقابه

“Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran akan tetapi mereka tidak merubahnya (tidak mengingkarinya) maka sudah dekat saatnya Allah akan menimpakan adzab-Nya kepada mereka secara merata.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainya)

Perbanyaklah berdoa dan memohon kepada Allah ta’ala agar kita dijauhkan dari bencana dan musibah. Di antaranya sebagaimana doa termaktub dalam surat al-Baqarah ayat 286 (artinya),

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami, Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Wallahu a’lam bishshawab. Semoga bermanfaat.

Penulis: Ustadz Abdullah Imam hafidzhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *