Syafa’at, Secercah Harapan di Hari Kiamat (1)

Edisi: 06 || 1440 H
Tema: Akidah

Syafa’at bukanlah istilah yang asing di telinga. Sontak terlintas bayangan hari kiamat ketika disebutkan kata syafa’at. Benak kita pun spontan mengingat nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang penuh kasih sayang terhadap umat. Beliau akan memohonkan keselamatan bagi mereka dari neraka. Gambaran tersebut lumrah dan tidak salah, namun ada baiknya kita memperdalam pengetahuan mengenai syafa’at agar tidak sebatas di permukaan.

Definisi Syafa’at

Syafa’at secara bahasa maknanya adalah perantara. Diambil dari kata syaf’u yang maknanya genap. Adapun dalam pengertian syariat, syafa’at maknanya menjadi perantara bagi orang lain untuk membantunya mendapatkan manfaat atau selamat dari kemudharatan.

Jenis Syafa’at yang Dikhususkan Bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam

Syafa’at ada beberapa macam. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menyebutkan delapan macam syafa’at, tiga di antaranya adalah syafa’at yang dikhususkan bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam (Syarah al-Aqidah al-Washithiyyah, hal 203-205).

Berikut rincian ketiga jenis syafa’at tersebut:

1. Asy-Syafa’ah al-Udzma (syafa’at terbesar). Inilah yang disebut dengan al-Maqam al-Mahmud (kedudukan yang terpuji), yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

“Dan pada sebagian waktu malam bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke kedudukan yang terpuji” (al-Isra’: 79)

Syafa’at ini pula yang selalu disebut oleh kaum muslimin dalam doa mereka setiap kali adzan selesai berkumandang. Mereka meminta kepada Allah ta’ala untuk memberikan kepada Nabi maqam mahmud, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa setelah mendengarkan adzan mengucapkan,

اللهمّ ربّ هذه الدّعوة التّامّة, والصّلاة القائمة, آت محمّداالوسيلة والفضيلة, وابعثه مقاما محموداالّذي وعدته

‘Ya Allah, Rabb Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat yang didirikan. Berikanlah kepada Muhammad Al-Wasilah (derajat di Surga, yang dikhususkan bagi nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam) dan keutamaan dan bangkitkan beliau sehingga bisa menempati kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan. Niscaya ia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari no. 614 dari shahabat Jabir bin Abdillah radhiallahuanhu)

Yang dimaksud dengan syafa’at terbesar yaitu permohonan beliau kepada Allah ta’ala untuk memulai peradilan bagi hamba-hamba-Nya. Syafa’at tersebut akan beliau berikan ketika manusia telah lama menanti dalam kesengsaraan di padang mahsyar.

2. Syafa’at bagi orang-orang yang berhak masuk surga untuk dapat memasukinya.
Kaum mukminin yang akan memasuki surga, belum dapat memasukinya kecuali setelah nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan syafa’at kepada mereka. Hal tersebut karena pintu surga masih dalam keadaan tertutup ketika mereka mendatanginya. Pintu itu baru akan terbuka ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengetuknya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أنا أكثرالأنبياء تبعا يوم القيامة, وأنا أوّل من يقرع باب الجنّة

“Akulah nabi yang memiliki pengikut terbanyak pada hari kiamat dan akulah orang pertama yang mengetuk pintu surga.” (HR. Muslim no. 196 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahuanhu)

3. Syafa’at Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bagi Abu Thalib, paman beliau yang meninggal dalam keadaan kafir, agar diringankan adzabnya di neraka.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya oleh Paman beliau al-Abbas Ibnu Abdil Muththalib (artinya), “Wahai Rasulullah. Apakah engkau dapat memberikan manfaat kepada Abu Thalib, karena dahulu dia telah melindungimu dan merasa marah ketika engkau diganggu?”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Ya, dia berada di permukaan api neraka, kalau bukan karenaku sungguh ia akan berada di tingkatan terbawah dari neraka.” (HR. al-Bukhari no. 3883 dan Muslim no. 209 dari shahabat Abbas bin Abdil Muthalib radhiallahuanhu)

Syafa’at ini tidak menjadikan Abu Thalib keluar dari neraka, namun dengan syafa’at tersebut Abu Thalib dijadikan orang yang paling ringan siksaannya di neraka. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اهون أهل النّار عذابا أبو طالب, وهو منتعل بنعلين يغلي منهمادماغه

“Penduduk neraka yang paling ringan adzabnya adalah Abu Thalib, dia memakai dua sandal (dari api) yang dengan itu otaknya menjadi mendidih.” (HR. Muslim no. 212 dari shahabat Abudullah bin Abbas radhiallahuanhu)

Syafa’at yang Tidak Dikhususkan Bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam

Selain ketiga jenis syafa’at yang dikhususkan bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di atas, masih ada lima jenis syafa’at lainnya. Kelima jenis syafa’at ini bukan hanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang dapat memberikannya. Para nabi, malaikat, shiddiqin dan syuhada juga dapat memberikan kelima macam syafa’at ini. Berikut rinciannya:

1. Syafa’at Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bagi orang-orang yang bertauhid namun kemaksiatan yang dilakukannya menjadikannya layak masuk ke dalam neraka.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan syafa’at kepadanya agar ia tidak dimasukkan ke dalam neraka. Sebagian ulama berdalil dengan doa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bagi orang yang meninggal dari kalangan shahabat, beliau memintakan baginya ampunan. Maka yang menjadi konsekuensi dari ampunan Allah ta’ala kepada seorang hamba adalah ia diselamatkan dari api neraka. Syafa’at ini terjadi di dunia, tepatnya ketika seorang hamba meninggal dunia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما من رجل مسلم يموت, فيقوم على جنازته أربعون رجلا, لا يثركون باالله شيئا, إلّا شفّعهم الله فيه

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia kemudian jenazahnya dishalati oleh 40 orang yang sama sekali tidak berbuat kesyirikan kepada Allah kecuali Allah jadikan mereka sebagai pemberi syafa’at untuknya.” (HR. Muslim no. 948 dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiallahuanhu)

2. Syafa’at Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bagi orang-orang yang bertauhid kemudian masuk ke dalam neraka karena dosa besar yang dilakukannya, beliau memberikan syafa’at supaya ia dikeluarkan dari neraka.

Hadits yang menyebutkan tentang syafa’at ini sangat banyak. Di antaranya adalah hadits yang panjang di mana Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkisah tentang keadaan manusia pada hari kiamat. Mereka secara bergantian mendatangi nabi Adam, nabi Ibrahim, nabi Musa dan nabi Isa alahimussalam untuk meminta syafa’at. Namun mereka mendapatkan jawaban yang sama dari masing-masing nabi tersebut, “Aku tidak pantas untuk memberikannya”, lalu memerintahkan mereka meminta syafa’at kepada nabi yang lain. Sampai akhirnya mereka mendatangi nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau pun bersabda (artinya),

“Maka aku berkata, ‘Aku berhak untuk itu (yaitu memberikan syafa’at)’. Lalu aku pergi dan meminta izin kepada Rabb-ku maka aku diberi izin. Aku pun berdiri di hadapan-Nya serta memuji-Nya dengan pujian-pujian yang aku belum mampu untuk melakukannya sekarang, Allah ta’ala mengilhamkan puji-pujian tersebut kepadaku. Kemudian aku merunduk bersujud sampai dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad angkatlah kepalamu, katakan (apa yang ingin engkau katakan) pasti akan didengar, mintalah niscaya engkau akan diberi, dan berilah syafa’at niscaya engkau akan dikabulkan.’ Kemudian aku berkata, ‘Wahai Rabb-ku, umatku, umatku.’ Maka dikatakan, ‘Pergilah, siapapun yang (engkau dapati) di dalam hatinya ada keimanan seberat biji gandum atau biji syar’ir (sejenis biji-bijian yang lebih kecil dari biji gandum) maka keluarkan dia dari neraka.’ Maka akupun pergi kemudian melakukannya.”
Setelah itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kembali menghadap Allah ta’ala, memuji dan bersujud kepada-Nya. Lalu beliau shalallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk mengangkat kepalanya dan diizinkan untuk mengeluarkan dari neraka orang-orang yang masih memiliki keimanan seberat biji sawi dalam hatinya.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kembali menghadap Allah ta’ala untuk ketiga kalinya, memuji dan bersujud kepada-Nya. Kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk mengangkat kepalanya dan diizinkan untuk mengeluarkan dari neraka orang-orang yang dalam hatinya masih memiliki sedikit keimanan itu jauh lebih ringan dari biji sawi. Beliau pun pergi untuk melakukannya. (HR. al-Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahuanhu)

3. Syafa’at beliau shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menaikkan derajat sebagaian penduduk surga.
Para ulama menetapkan jenis syafa’at ini berdasarkan doa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang yang meninggal dari kalangan kaum mukminin. Selain memintakan rahmat dan ampunan, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam juga meminta supaya Allah ta’ala mengangkat derajat mereka. Telah lewat penyebutan dalilnya pada jenis syafa’at yang keempat.

4. Syafa’at beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bagi orang-orang yang seimbang antara amalan-amalan kebaikannya dengan amalan-amalan kejelekannya supaya mereka dimasukkan ke dalam surga. Merekalah yang diistilahkan dengan Ashabul A’raf dalam satu pendapat.

5. Syafa’at Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bagi beberapa orang di antara kaum mukminin supaya mereka dapat masuk ke dalam surga tanpa ada perhitungan amalan dan tanpa adzab.

Contohnya: syafa’at beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bagi shahabat Ukasyah bin Mihshan radhiallahuanhu, di mana beliau mendoakannya supaya digolongkan ke dalam 70.000 orang yang masuk ke dalam surga tanpa perhitungan amalan (hisab) dan tanpa adzab.

Jumlah manusia dari golongan ini banyak. Rasululllah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya),

“Rabb-ku telah menjanjikanku bahwa Ia akan memasukkan dari umatku ke dalam surga sebanyak 70.000 orang tanpa perhitungan amalan atas mereka dan tanpa adzab, setiap 1.000 orang ditambahkan bersama mereka 70.000 orang lagi dan tiga tangkup tangan dengan tangkupan tangan-Nya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2437 dan Ahmad no. 22303 dari shahabat Abu Umamah al-Bahily radhiallahuanhu dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah).

Semoga kita mendapatkan syafa’at-syafa’at tersebut di hari kiamat. Sehingga meraih secercah harapan untuk menuju kebahagiaan. Amiin

Wabillahi at-taufiq

Penulis: Ustadz Abu Ahmad hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *