Akhir Perjalanan Orang yang Bertakwa

Edisi: 36 || 1439 H

Tema: Akidah

Orang yang bertakwa adalah gambaran sejati dari sosok pendamba surga. Ketika berada di dunia, ia selalu beramal shalih untuk menggapai tujuannya tersebut. Perbuatan-perbuatan dosa pun senantiasa dijauhi karena takut akan menyeretnya terjatuh ke dalam neraka.

Segala kesulitan, musibah dan bencana ia hadapi dengan penuh rasa sabar. Maka ketika di akhirat, Allah ta’ala pun membimbingnya untuk dapat meraih apa yang selama ini ia harapkan dan Allah menyelamatkannya dari apa yang selama ini ia takutkan.

Ketika banyak dari umat manusia berjatuhan dari atas sirath, Allah ta’ala menolong mereka untuk dapat terhindar dari adzab neraka dan Allah membawa mereka semakin dekat menuju surga.

Qantharah, Jembatan Menuju Surga

Di antara perkara yang akan didapati oleh kaum mukminin setelah melewati sirath adalah adanya qantharah. Secara bahasa, kata qantharah bermakna jembatan berbentuk melengkung yang melewati sungai. Di atas qantharah tersebut akan terjadi qishash (pembalasan) antar sesama kaum mukminin sebelum dimasukkan ke dalam surga.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya),

“Kaum mukminin selamat dari neraka (berhasil melewati sirath), maka mereka ditahan di atas jembatan antara surga dan neraka. Kemudian diadakan pembalasan bagi sebagian mereka kepada sebagian lainnya atas kezhaliman-kezhaliman yang terjadi di antara mereka ketika di dunia, sampai apabila mereka telah bersih (dari kezhaliman tersebut) mereka diizinkan untuk masuk ke dalam surga.” (HR. Al-Bukhari no. 2440 dari shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahuanhu)

Sebagian ulama menyatakan bahwa qantharah adalah bagian ujung dari sirath yang membentang di atas neraka. Sedangkan sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa qantharah adalah jembatan yang berbeda, hanya saja jembatan ini dikhususkan bagi kaum mukminin dan tidak ada yang akan terjatuh darinya ke dalam neraka.

Bagaimana Terjadinya Qishash?

Allah ta’ala akan mengambil pahala dari orang yang berbuat zhalim lalu diberikan kepada orang yang dizhalimi. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya),

“Barangsiapa yang memiliki satu kezhaliman kepada saudaranya maka hendaknya ia meminta maaf atasnya, kerena nanti tidak akan ada dinar ataupun dirham. (Minta maaflah) sebelum diambil pahala-pahala kebaikan untuk saudaranya (yang dizhalimi). Apabila dia sudah tidak memiliki kebaikan maka akan diambilkan dosa dari saudaranya (yang dizholimi) kemudian dibebankan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6534 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Namun qishash di atas qantharah tersebut dilakukan bagi kaum mukminin yang Allah ta’ala telah mengetahui bahwa amal kebaikan mereka tidak akan habis apabila diambil untuk membalas kezhaliman mereka, sebagaimana pemukilan al-Hafizh Ibnu Hajar dari al-Imam al-Qurthuby rahimahullah.

Dengan kata lain, mereka adalah kaum mukminin yang kebaikannya lebih banyak dibandingkan dosa dan kezhaliman yang mereka lakukan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Dan bisa jadi ashabul a’raf (orang-orang yang kebaikannya sama banyak dengan dosa dan kezhalimannya) termasuk di antara mereka (yang mengalami qishash).”

Adapun kaum mukminin yang dosa dan kezhalimannya lebih banyak daripada kebaikkannya maka mereka tidak akan sampai ke qantharah. Mereka telah terjatuh ketika meniti sirath dan terjerumus ke dalam neraka, walaupun pada akhirnya mereka akan keluar insyaAllah dengan adanya syafa’at para malaikat, para nabi serta orang-orang shalih dan juga karena rahmat Allah ta’ala kepada mereka.

Demikian pula orang-orang yang telah dijamin masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa adzab, mereka juga tidak akan mengalami qishash di atas qantharah. (lihat Fathul Bari 11/485)

Qishash di atas qantharah ini menunjukkan betapa sempurnanya keadilan Allah ta’ala, di mana seorang mukmin yang sudah ditetapkan bahwa ia berhak masuk ke dalam surga sekali pun masih harus “membayar” atas kezhaliman yang telah dilakukannya. Qishash ini adalah qishash kedua.

Adapun qishash pertama maka telah berlalu dalam pembahasan mengenai keadaan manusia di padang mahsyar. Qishash di atas qantharah tidaklah sepeti qishash di padang mahsyar yang dapat menjadi penentu apakah seseorang diadzab di neraka ataukah tidak.

Namun qishash yang kedua ini lebih bertujuan untuk menghilangkan rasa amarah, dengki dan dendam yang ada di dalam hati-hati manusia disebabkan adanya kezhaliman yang terjadi di antara mereka selama di dunia, yang pada akhirnya orang yang diqishash akan tetap masuk ke dalam surga tanpa diadzab.

Maka qishash ini merupakan proses pensucian terhadap hati manusia sebelum mereka dimasukkan ke dalam surga. Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (al-Hijr: 47, lihat Syarah al-Aqidah al-Washitiyyah karya asy-Syaikh al-Utsaimin 2/163-164)

Setelah dilakukan qishash, maka Allah ta’ala akan membawa mereka semakin dekat menuju surga.

Surga Memiliki Delapan Pintu

Surga yang di dalamnya terdapat berbagai kenikmatan, telah Allah ta’ala ciptakan delapan pintu untuk masuk ke dalamnya. Masing-masing pintu tersebut akan dimasuki oleh orang-orang yang berhak memasukinya sesuai denga jenis amal shalih yang telah dilakukannya ketika di dunia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya),

“Surga memiliki delapan pintu, salah satu pintu tersebut dinamakan ar-Rayyan. Tidak akan masuk melewatinya melainkan orang-orang yang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari 3084 dan Muslim 1152 dari shahabat Sahl bin Sa’ad radhiallahuanhu)

Dalam hadits yang lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya),

“Barangsiapa yang berinfak dengan dua perkara apapun di jalan Allah maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, inilah kebaikan. Maka barangsiapa yang termasuk orang-orang yang banyak menegakkan shalat maka dia akan dipanggil dari pintu jihad, dan barangsiapa yang gemar bersedekah maka dia akan dipanggil dari pintu shadaqah, dan barangsiapa yang rajin berpuasa maka akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan. Maka shahabat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahuanhu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak ada kesulitan bagi orang yang dipanggil dari pintu-pintu tersebut. Maka apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu-pintu tersebut?’, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab, ‘Ya. Dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka’.” (HR. Al-Bukhari no. 3666 dan Muslim no. 1027 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Pintu-pintu surga adalah pintu-pintu yang sangat lebar. Lebar pintu surga dapat tergambar dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berikut (artinya).

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh jarak antara dua sisi salah satu dari pintu-pintu surga adalah seperti jarak dari Mekah ke Hajar atau Hajar ke Mekah.” (HR. Al-Bukhari no. 4435 dan Muslim no. 194 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa Hajar adalah nama suatu kota besar yang merupakan bagian dari negeri Bahrain pada zaman tersebut (lihat Syarah Shahih Muslim 3/69). Suatu rentang jarak yang sangat jauh yang apabila diukur maka mencapai 1600 km lebih.

Di Hadapan Pintu Surga

Setelah melaui perjalanan panjang dan berbagai macam peristiwa, akhirnya kaum mukminin dihadapkan kepada negeri keselamatan yang menjadi tujuan mereka yaitu surga. Mereka datang dengan berkelompok-kelompok sebagaimana dalam firman Allah ta’ala,

وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka akan dibawa ke dalam surga dengan berkelompok-kelompok.” (az-Zumar: 73)

Namun ketika mereka telah sampai di depan surga, bukan berarti mereka dapat langsung memasukinya. Mereka mendapati pintu surga masih tertutup di hadapan mereka. Pintu-pintu tersebut hanya dapat terbuka dengan syafa’at dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam akan datang lalu meminta malaikat penjaga untuk membukanya. Itulah salah satu jenis syafa’at yang dikhususkan bagi beliau. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

آتي باب الجنّة يوم القيامة فأستفتح, فيقول الخازن: من أنت؟ فأقول: محمّد, فيقول: بك أمرت لاأفتح لأحد قبلك

Aku akan mendatangi pintu surga pada hari kiamat kemudian aku meminta untuk dibukakan (pintu tersebut). Maka malaikat penjaga bertanya, ‘Siapa engkau?’, Aku menjawab, ‘Muhammad’, dia pun berkata, ‘Untukmu aku diperintahkan agar tidak membukakan pintu bagi siapapun sebelummu.” (HR. Muslim no. 197 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahuanhu)

Hal ini sebagai salah satu bentuk pemuliaan Allah ta’ala bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pada hari kiamat.

Demikian pula umat beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, Allah memuliakan mereka dengan dipersilahkan untuk memasuki surga sebelum umat-umat yang lainnya. Hal ini disebutkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya (artinya),

“Kita adalah umat yang terakhir, (namun menjadi) umat pertama pada hari kiamat. Serta kita adalah umat yang pertama masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim no. 855 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Setelah terbukanya pintu surga maka ia akan tetap terbuka selama-lamanya, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah ketika menjelaskan firman Allah ta’ala,

جَنّٰتِ عَدْنٍ مُّفَتَّحَةً لَّهُمُ الْاَبْوَابُۚ

Surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.” (Shad: 49)

Lebih lanjut Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa keadaan pintu surga yang selalu terbuka menunjukkan beberapa perkara, di antaranya:

  1. Para malaikat masuk menemui mereka di setiap waktu dengan membawa hadiah dan pemberian dari Allah ta’ala. Demikian pula perkara-perkara yang menyenangkan hati mereka didatangkan kepada mereka setiap waktu.

  2. Surga adalah negeri yang aman sehingga mereka tidak butuh untuk menutup pintu di sana, seperti yang biasa mereka lakukan ketika di dunia. (Hadil Arwah hal. 106)

Semoga Allah ta’ala memasukkan kita dalam surga-Nya. Amiin.

Penulis: Ustadz Abu Ahmad hafizhohullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *