Sepenggal Kejadian di Hari Kemudian

Edisi: 35 || 1439H

Tema: Akidah

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari cairan aspal dan wajah mereka ditutup oleh api mereka, agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat hisab-Nya.” (Ibrahim: 48-51)

Pembaca buletin al Ilmu yang semoga dimuliakan oleh Allah ta’ala. Hidup di dunia ini tidaklah kekal. Ada saatnya nanti berpisah, meninggalkan alam fana ini untuk selamanya. Dunia dengan segala isinya yang manis dan menggiurkan akan segera sirna. Hari akhir pun tiba. Alam berubah. Bumi berganti, langit pun juga demikian.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (Ibrahim: 48)

Itulah hari kiamat. Kedatangannya pasti, namun kapan waktunya, tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui. Setiap muslim wajib mengimani serta mempercayainya dengan sepenuh hati, tanpa ada keraguan sedikit pun.

Al-Imam Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa pada hari kiamat nanti, bumi akan terbentang rata, gunung dan segala yang ada di atasnya akan dilempar sehingga menjadi benar-benar datar, sedikitpun tidak terlihat pada bumi tersebut tempat yang rendah maupun yang tinggi.

Langit pun menjadi seperti luluhan perak, karena betapa dahsyatnya kengerian pada hari itu, hingga kemudian Allah melipat itu semua dengan Tangan Kanan-Nya. (Tafsir as-Sa’di).

Di Mana Manusia ketika Itu?

Terkait firman Allah ta’ala (artinya),

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit”, Ummul Mukminin Aisyah radhiallahuanha pernah bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihiwasallam, “Di mana manusia pada hari itu, wahai Rasulullah?” Beliau shalallahu ‘alaihiwasallam pun menjawab, “Mereka sedang berada di atas shirath (jembatan yang membentang di atas jahannam).” (HR. Muslim no. 4999)

Kemudian Dikumpulkan di Padang Mahsyar

Pada hari kiamat, seluruh manusia akan dibangkitkan dari kubur mereka, lalu dikumpulkan di padang mahsyar, guna menghadap Allah ta’ala, serta mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selama di dunia. Tidak ada satu mahluk pun yang luput dari pengawasan Allah. Allah ta’ala mengetahui mereka dan apa saja yang mereka lakukan selama di dunia.

Padang mahsyar adalah sebuah tempat yang digambarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam dalam sabdanya (artinya),

“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti di tanah lapang yang sangat putih, seperti roti yang sangat bersih. Tidak ada satupun di sana tanda-tanda penunjuk bagi siapapun.” (HR. Al-Bukhari no. 6040 dan Muslim no. 4998).

Manusia dikumpulkan dalam kondisi sebagaimana saat mereka dilahirkan, yaitu tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan. Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غرلا

Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan.” Ummul Mukminin Aisyah radhiallahuanha bertanya, “Wahai Rasulullah, tentu laki-laki dan wanita akan saling melihat aurat satu sama lain nantinya.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Urusan dan keadaan saat itu jauh lebih dahsyat daripada sekedar saling melihat satu dengan yang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 6046 dan Muslim no. 5102)

Yang Terjadi Kemudian …….

Seluruh manusia telah melihat apa yang diperbuatnya selama di dunia. Masing-masing telah merasakan dan mengetahui keadilan Allah ta’ala yang Mahasempurna.

Siapa yang menabur angin, ia akan menuai badai. Pelaku kejelekan, pasti akan merasakan buah pahit dari bibit kejelekan yang selama ini ia tanam.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari cairan aspal dan wajah mereka ditutup oleh api neraka, agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan.” (Ibrahim: 49-51)

Menurut al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, yang dimaksud dengan orang-orang yang berdosa dalam ayat ini adalah orang-orang yang berbuat dosa berupa kekufuran dan kerusakan yang mereka lakukan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Sedangkan al-Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan bahwa orang-orang yang berdosa pada ayat di atas adalah kaum musyrikin. (Tafsir al-Qurthubi).

Orang kafir dan musyrik merupakan kelompok peringkat pertama di dalam jajaran orang-orang yang berdosa. Mereka adalah seburuk-buruk manusia di muka bumi ini. Di akhirat, mereka kekal di dalam neraka, merasakan adzab yang terus menerus tiada henti. Na’udzubillahi min dzalik.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayyinah: 6)

Kesengsaraan Penduduk Neraka

Di neraka, tubuh orang-orang kafir akan membesar sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

انّ غلظ جلدالكافراثنان وأربعون ذراعا وإنّ ضرسة مثل أحدوإنّ مجلسه من جهنّم كما بين مكّة والمدينة

Sesungguhnya tebal kulit orang kafir seukuran 42 hasta dan sungguh gigi taringnya sebesar gunung Uhud dan besar tempat duduknya di jahannam seperti jarak antara Makkah dan Madinah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2500)

Penduduk neraka juga makan dan minum. Makanannya adalah zaqqum, yang keadaannya sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

لو أنّ قطرة من الزّقّوم قطرت في دارالدّنيا لأفسدت على أهل الدّنيا معايشهم فكيف بمن يكون طعامه

Kalau seandainya setetes zaqqum jatuh ke dunia, niscaya akan merusak penghidupan penduduknya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang makanannya zaqqum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi no. 2510)

Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa makanan penduduk neraka itu berduri dan munumannya dari sumber mata air yang sangat panas. Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (al-Ghasyiyah: 5-7)

Di antara minuman penduduk jahannam adalah nanah dan darah, sebagaimana dalam ayat (artinya),

“Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” (al-Haqqah: 36-37)

Penduduk neraka menangis. Bukan tangisan biasa. Namun tangisan yang digambarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalllam dalam sabdanya berikut,

انّ أهل النّارلينكون حتّى لوأجريت السّفن في دموعهم لجرت وأنّهم ليبكون الدّم يعني مكان الدّمع

Sesungguhnya penduduk neraka akan benar-benar menangis, hingga kalau seandainya perahu diletakkan di air matanya, niscaya bisa digunakan untuk berlayar. Dan mereka pasti akan menangis darah, yakni air mata mereka berupa darah.” (HR. al-Hakim no. 8791)

Adzab Neraka yang Paling Ringan

Kepedihan adzab di neraka sangatlah dahsyat. Yang paling ringan adzabnya adalah sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam (artinya),

“Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan adzabnya pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan bara api di kedua telapak kakinya, hingga mendidihlah otaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6076 dan Muslim no. 313)

Ya Allah, jauhkan kami dari adzab neraka, amiin.

Balasan yang Setimpal

Setiap amal perbuatan hamba tidaklah hilang begitu saja. Amal besar maupun kecil, sedikit maupun banyak, semuanya akan diperhitungkan, ditimbang dan diberikan balasannya.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat hisab-Nya.” (Ibrahim: 51)

Ketika Allah ta’ala mengadzab orang-orang yang berdosa dengan adzab yang pedih, maka bukan berarti Allah zhalim kepada hamba-Nya. Allah tidak pernah berbuat zhalim dan tidak adil sedikitpun! Mereka disiksa akibat perbuatan mereka sendiri.

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya, “Allah melakukan yang demikian itu (mengadzab orang-orang yang berdosa) sebagai bentuk balasan setimpal atas dosa-dosa yang mereka lakukan di dunia.

Allah ta’ala memberikan balasan kepada setiap jiwa sesuai dengan perbuatannya, baik dan buruk. Allah ta’ala berikan balasan kepada hamba-Nya yang berbuat baik kerena kebaikan si hamba tersebut dan juga memberikan balasan kepada hamba-Nya yang berbuat kejelekan karena kejelekan yang diperbuat hamba tersebut.” (Tafsir ath-Thabari)

Di akhirat kelak setiap orang pasti akan melihat hasil perbuatannya selama di dunia, sekecil apapun amalan itu. Tidak ada gerak-gerak hamba yang lepas dari pengawasan Allah ta’ala. Pengetahuan-Nya Mahasempurna. Hukum yang Dia putuskan untuk hamba-Nya benar-benar adil.

Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (az-Zalzalah: 7-8).

Pembaca, itulah sepenggal kejadian di hari kemudian, hari setelah sirnanya dunia ini. Semoga menjadi bahan pelajaran bagi kita semua.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *