Linangan Air Mata Melepas Kepergian si Buah Hati

Edisi: 34 || 1439H

Tema: Hadits

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

انّ العين تدمع و القلب يحزن ولا نقول إلاّ ما يرضى ربّنا وإنّا بفراقك ياإبراهيم لمحزونون

“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih dan tidaklah kami mengatakan sesuatu melainkan perkataan yang diridhai oleh Allah dan sungguh kami bersedih berpisah denganmu, wahai Ibrahim.” (HR. Al-Bukhari no. 1220 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahuanhu)

Para pembaca yang berbahagia. Kesedihan karena meninggalnya orang-orang yang tercinta merupakan fitrah dan tabiat manusia. Tak terasa air mata pun berlinang membasahi pipi tatkala menyaksikan jasad orang yang kita kasihi telah terbujur kaku di hadapan kita. Allah ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 155)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan,

والأنفس أي:ذهاب الأحباب من الأولاد, والأقارب,والأصحاب

“(Dan kekurangan) jiwa maksudnya adalah meninggalnya orang-orang yang dicintai baik anak-anak, kerabat dan teman dekat.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 75)

Apabila hal ini pernah menimpa Anda wahai pembaca, apakah karena meninggalnya kedua orang tua, kakek, paman, istri ataukah anak, maka ketahuilah, sebelum kita semua mengalaminya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengalami hal itu semuanya.

Ayah beliau yang bernama Abdullah meninggal tatkala beliau masih dalam kandungan ibunya. Ibu beliau yang bernama Aminah meninggal tatkala beliau berusia 6 tahun. Sang Kakek yang bernama Abdul Muththallib yang mengasuh beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sepeninggal ibunya pun meninggal saat beliau beriusia 8 tahun.

Maka waktupun berlalu hingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tumbuh dewasa di bawah pengasuhan pamannya yang bernama Abu Thalib sepeninggal sang kakek hingga kemudian menikah dengan Khadijah dan memiliki beberapa anak, di antaranya adalah Abdullah, Qosim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fathimah.

Namun kesedihan kembali mendera beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan 2 putra beliau yaitu Abdullah dan Qosim meninggal dalam usia kecil. Hingga tidak menyisakan anak pada diri beliau melainkan 4 anak perempuan.

Hingga Allah ta’ala menganugerahkan kepada Rasulullah seorang anak laki-laki (yang terlahir dari rahim istri beliau yang bernama Mariyah al-Qibthiyah) yang kemudian diberi nama Ibrahim. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ولدلي اللّيلة غلام فسمّيته باسم أبي إبراهيم

“Pada malam ini aku dikaruniai seorang putra yang aku beri nama dengan nama ayahku yaitu Ibrahim.” (HR. Muslim no. 4279 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahuanhu)

Sungguh betapa bahagianya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan seorang anak laki-laki kembali setelah sebelumnya dua anak laki-laki beliau meninggal semuanya dan sebagaimana kebiasaan bangsa Arab apabila terlahir anak di kalangan mereka maka akan dicarikan ibu susuan untuk anak-anak mereka.

Ibrahim disusui oleh seorang wanita yang bernama Ummu Saif Khaulah bintu al-Mundzir. Betapa sayangnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada si kecil Ibrahim sampai-sampai beliau jauh-jauh mendatangi rumah ibu susuan putranya tersebut hanya sekedar untuk bertemu dan mencium Ibrahim untuk kemudian kembali pulang.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Anas bin Malik radhiallahuanhu,

ما رأيت أحدا كان أرحم بالعيال من رسول الله صلّى الله عليه وسلّم

“Aku belum pernah melihat seorangpun yang paling sayang kepada keluarga dibandingkan Rasulullah.” (HR. Muslim no. 2316 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahuanhu)

Namun kebahagiaan tersebut tidaklah berlangsung lama. Pada usia 6 atau 7 bulan Ibrahim meninggal dunia karena sakit.

Kesedihan mendalam nampak sekali pada wajah beliau dengan menetesnya air mata melepas kepergian si buah hati tersayang. Sampai-sampai shahabat Abdurrahman bin Auf radhiallahuanhu merasa heran dengan kesedihan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

وأنت يارسول الله؟

“Engkau menangis wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

يا ابن عوف إنّما رحمة

“Wahai Inbu Auf sungguh ini adalah rahmat.” (HR. Al-Bukhari no. 1220 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahuanhu)

Sungguh betapa berat ujian demi ujian bertubi-tubi menimpa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, anak-anak beliau meninggal satu demi satu hingga menyisakan putri beliau yaitu Fatimah. Semua anak beliau meninggal dunia di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup kecuali Fatimah yang meninggal setelah beliau wafat.

Kesabaran yang luar biasa dalam menyaksikan kematian orang-orang yang dicintainya yang dialami oleh beliau semenjak kecil hingga dewasa.

Kabar Gembira kepada Kedua Orang Tua

Kepada ayah dan bunda, jadikanlah kisah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di atas sebagai teladan bagi diri kita di dalam menerima musibah dan jangan sampai larut dalam kesedihan yang tiada guna.

Sesungguhnya di dalam musibah yang menimpa kedua orang tua dengan meninggalnya anak mereka terdapat keutamaan yang besar apabila Anda bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah ta’ala atas musibah tersebut. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذامات ولد العبد قال الله لملا ئكته قبضتم ولد عبدي فيقولون نعم فيقول قيبضتم ثمرة فؤاده فيقولون نعم فيقول ماذا قال عبدي فيقولون حمدك واسترجع فيقول الله ابنوا لعبدي بيتا في الجنّة وسمّوه بيت الحمد

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia maka Allah akan berfirman kepada para malaikat (pencabut nyawa), ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak seorang hamba-Ku?’, maka para malaikat menjawab, ‘Benar’. Allah bertanya,’Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku (tatkala anaknya meninggal)?’, para malaikat menjawab,’Dia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun)’. Allah berfirman,’Bangunkan untuk hamba-Ku sebuah rumah di Surga dan namailah rumah tersebut dengan Baitul Hamd (Rumah Pujian)’,” (HR. At-Tirmidzi no. 942 dari shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiallahuanhu)

Hadits ini menerangkan tentang bersarnya keutamaan yang akan diperoleh bagi seorang yang mendapatkan musibah dengan kematian anaknya akan digantikan oleh Allah ta’ala dengan surga. Namun dengan syarat apabila dia memuji Allah, mengucapkan kalimat istirja’ yaitu ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun dan bersabar atas musibah tersebut. (Syarh Riyadhus Shalihin, hal, 1049)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,

ياأمّ سليم ما من مسلمين يموت لهما ثلاثة أولادإلاّ أدجلهما الله الجنّة بفضل رحمته إياّ هم قلت واثنان قال واثنان

“Wahai Ummu Sulaim, tidaklah dari kaum muslimin yang tiga orang anaknya meninggal dunia melainkan Allah akan masukkan kedua orang tuanya ke dalam surga dengan sebab keutamaan rahmat Allah kepada mereka. Maka aku (Ummu Sulaim) bertanya,’Bagaimana dengan dua orang anak (meninggal)?’ Maka beliau menjawab, ‘Dua anak juga’.” (HR. Al-Bukhari no.149 dalam kitab Al-Adabul Mufrad dari shahabat Ummu Sulaim radhiallahuanha)

Hadits di atas menunjukkan tentang besarnya pahala kesabaran dan mengharap kebaikan atas musibah yang menimpanya. Haram hukumnya berkeluh kesah, meratap, menampar-nampar pipi, merobek-robek baju dan lain sebagainya.

Yang demikian ini merupakan perbuatan kaum jahiliyah dan orang-orang yang meniru sifat-sifat mereka. Barangsiapa yang melakukan perbuatan tersebut ketika tertimpa musibah maka dia tidak akan mendapatkan pahala atas musibah yang menimpanya.

Sehingga siapa saja yang mendapatkan ujian atau musibah maka wajib baginya untuk bersabar, menerima ketentuan takdir Allah ta’ala dan mengharapkan pahala atas musibah yang menimpanya. Ingatlah akan firman Allah ta’ala,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (Ali Imran: 185)

Setiap manusia pasti akan mengalami kematian baik yang kecil maupun yang besar. Apabila seorang mengalami ujian dengan kematian anaknya baik laki-laki atau perempuan, hendaklah ia mengharap pahala di sisi Allah ta’ala.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan jaminan kepadanya dengan pahala yang besar yaitu dimasukkan ke dalam surga dengan keutamaan dan rahmat dari Allah ta’ala. Tentunya dengan syarat yaitu orang tua tersebut harus sabar, mengharap pahala atas musibah yang terjadi, beriman kepada takdir dan menerima ketentuan Allah ta’ala tersebut.

Kabar gembira yang besar juga diperuntukkan bagi kedua orang tua yang ditimpa musibah tersebut, bahwa anak-anak yang meninggal dunia akan memberikan syafaat kelak kepada kedua orang tuanya.

Wallahu a’lam bishshawwab

Penulis: Ustadz Muhammad Rifki hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *