Telaga Nabi dan Qishash di Atas Qantharah

Edisi: 32 || 1439H

Tema: Akidah

Betapa beratnya penderitaan yang dirasakan manusia pada hari kiamat. Hari tersebut adalah masa penantian yang begitu panjang. Panas yang menyengat menjadikan keringat mereka mengucur deras dan tergenang, kerongkongan pun merasakan dahaga hebat.

Dalam keadaan seperti itu Allah menunjukkan kasih sayangnya. Kaum mukminin banyak mendapatkan keringanan dari kesengsaraan yang dirasakan oleh manusia yang lain.

Di antara keringanan tersebut adalah mereka menjumpai telaga Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, di saat mereka benar-benar membutuhkan air untuk menghilangkan dahaga mereka. Haudh, demikianlah istilah syar’i untuk menyebut telaga.

Telaga tersebut Allah ta’ala anugerahkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai bentuk pemuliaan, dengannya Allah menunjukkan keutamaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di hadapan umat manusia.

Telaga Nabi, Kebenaran Tak Terbantahkan

Para ulama menyebutkan bahwa hadits-hadits yang memberitakan tentang adanya telaga Nabi dengan berbagai redaksinya tergolong hadits mutawatir (sangat banyak jalur periwayatannya).

Sampai-sampai disebutkan oleh Abul Abbas Ahmad bin Umar al-Qurthuby rahimahullah bahwa shahabat yang meriwayatkan hadits mengenai haudh mencapai tiga puluhan orang. Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim saja ada dua puluhan shahabat yang meriwayatkan hadits mengenai haudh.

Ini menunjukkan bahwa keabsahan hadits tentang adanya haudh merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi, maka mengimani keberadaan haudh tersebut adalah wajib.

Telaga Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam Sangat Luas dan Indah

Telaga Nabi adalah telaga yang sangat luas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan tentangnya dalam sabda beliau,

“Telagaku (lebarnya) perjalanan satu bulan, panjang sisi-sisinya sama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin Amr radhiallahuanhu)

Perjalanan satu bulan yang dimaksud dihitung dengan keumuman jarak tempuh perjalanan pada waktu itu dengan segala keterbatasannya, bukan dengan alat transportasi modern yang kita kenal sekarang.

Dalam hadits yang lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa panjang sisi telaganya kurang lebih sejauh jarak perjalanan dari kota Sana’a di negeri Yaman ke kota Madinah. Subhanallah.

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang air telaga itu, bagaimana keadaannya, maka beliau bersabda,

“Lebih putih dari susu, dan lebih manis dari madu.” (HR. Muslim dari shahabat Tsauban radhiallahuanhu)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

“Dan aromanya lebih harum dari misik.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr radhiallahuanhu)

Dengan meminum air dari telaga Nabi, hilanglah rasa dahaga yang dirasakan kaum mukminin. Bukan hanya untuk sementara, namun rasa dahaga itu akan hilang untuk selamanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang minum darinya niscaya tidak akan merasakan dahaga setelahnya untuk selamanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Telaga besar tersebut selalu terisi dengan air yang selalu mengalir dari sungai surga, tepatnya dari sungai al-Kautsar, sungai di surga yang Allah ta’ala anugerahkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu telaga Nabi juga disebut al-Kautsar karena memang airnya berasal dari sungai al-Kautsar.

Sungai inilah yang disebutkan dalam firman Allah ta’ala (artinya),

“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu al-Kautsar.” (al-Kautsar: 1)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

“Dan Allah memberikan kepadaku al-Kautsar, yaitu sungai di surga yang mengalir ke telaga.” (HR. Ahmad dari shahabat Hudzaifah Ibnul Yaman, dihasankan oleh Ibnu Katsir rahimahullah)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjelasakan bagaimana air sungai tersebut sampai ke telaga beliau,

“(Airnya) dituangkan oleh dua saluran air yang mengalir dari surga, salah satunya dari emas dan yang lainnya dari perak.” (HR. Muslim dari shahabat Tsauban radhiallahuanhu)

Di sekitar haudh terdapat bejana yang sangat banyak dan indah, disiapkan bagi kaum mukminin yang berhak meminum airnya. Rasululllah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bejananya lebih banyak dari jumlah bintang di angkasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu Umar radhiallahuanhu).

Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa indahnya akan didapati kaum mukminin di telaga Nabi.

Sungguh seorang yang benar-benar beriman terhadap perkara ghaib yang diberitakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan tergugah keinginannya untuk bisa hadir di sana dan melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa agungnya ciptaan Allah berupa telaga yang dianugerahkan kepada Nabi ini.

Pertemuan dengan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di Telaga

Telaga Nabi akan dijumpai kaum mukminin setelah melewati sirath (titian di atas neraka). Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh al-Imam al-Bukhari, al-Qodhi Iyadh, dan selain keduannya.

Mereka berdalil dengan Hadits Anas bin Malik radhiallahuanhu, di mana ia pernah meminta kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk memberinya syafa’at pada hari kiamat maka beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyanggupinya.

Anas lantas bertanya,

“Di mana aku bisa mencari engkau?”,

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab

“Pertama-tama carilah aku di atas sirath”,

Anas bertanya lagi,

“Apabila aku tidak mendapatkan engkau di atas sirath?”,

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Maka carilah aku di samping mizan (timbangan amalan)”,

Anas bertanya lagi,

“Apabila aku tidak mendapatkan engkau di samping Mizan?”

Beliau shalallahu ‘alaihi wasalllam menjawab,

“Carilah aku di samping telaga, karena sesungguhnya aku tidak akan luput dari ketiga tempat ini”. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah)

Hanyalah orang-orang yang beriman yang akan mencapai telaga Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Adapun orang-orang kafir maka telah berjatuhan ke dalam neraka sebelum itu. Yaitu ketika Allah ta’ala mengumpulkan mereka di Padang Mahsyar, mereka meminta air untuk menghilangkan dahaga mereka.

Lalu Allah ta’ala jadikan neraka bagai fatamorgana, maka mereka pun mendatanginya dan berjatuhan ke dalamnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahuanhu.

Ketika mendatangi telaga Nabi maka kaum mukminin akan mendapati beliau telah berada di sana dan siap untuk memberi minum kepada mereka secara langsung dengan tangan beliau yang mulia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Aku adalah farath bagi kalian ke telaga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahuanhu)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafidzhahullah menjelaskan bahwa makna farath yaitu orang yang pergi mendahului kaumnya ke tempat yang terdapat air padanya untuk bersiap memberi minum kepada mereka. (Syarah Fadhlul Islam hal. 120)

Namun ada di antara mereka yang berusaha mendatangi haudh, justru dihalangi darinya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam lanjutan hadits di atas,

“Sungguh akan didatangkan kepadaku beberapa orang dari kalian (umat beliau), sampai ketika aku hendak memberikan air kepada mereka, tiba-tiba mereka ditarik menjauh dariku, maka aku berkata, ‘Wahai Rabb-ku, mereka adalah shahabatku’, Dia pun berkata, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’.”

Dalam hadits yang lain beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ketahuilah bahwa akan ada sebagian manusia yang dihalangi dari telagaku sebagaimana dihalanginya hewan ternak tersesat, aku pun memanggil mereka, ‘Kemarilah’, maka dikatakan ‘Sesungguhnya mereka telah mengubah-ubah (agama) sepeniggalmu’, lantas aku berkata, ‘Menjauhlah, menjauhlah’.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Para ulama berbeda pendapat mengenai siapakah orang-orang yang dihalangi dari telaga Nabi itu. Sebagian menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang munafik, sebagian lagi menafsirkan bahwa mereka adalah para pelaku bid’ah dan dosa.

Tentunya umat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang di dalam hatinya tertanam kecintaan terhadap beliau akan merasakan kerinduan yang begitu mendalam untuk dapat bertemu beliau.

Apalagi kita, umat Rasulullah yang sama sekali belum pernah bertemu dengan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, sudah sepantasnya memiliki keinginan yang besar untuk bertemu beliau, sebagaimana beliau pun ingin bertemu dengan kita.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Aku berharap kita telah berjumpa dengan saudara-saudara kita”. Para shahabat lalu menimpali, “Bukankah kami ini saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”,

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Kalian adalah shahabatku, saudara-saudaraku yaitu mereka yang belum ada sekarang,” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu).

Yang beliau maksudkan adalah orang-orang yang datang sepeninggal beliau, beriman dan mengikuti petunjuk beliau, padahal belum pernah bertemu dengan beliau. Itulah saudara-saudara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang beliau merindukan perjuampaan dengan mereka.

Telaga Nabi-Nabi yang Lain

Telaga nabi shalallahu ‘alaihi wasallam akan didatangi oleh orang-orang yang beriman dari umat beliau. Bagaimana dengan umat-umat sebelum beliau?

Ternyata setiap nabi akan memiliki telaga masing-masing pada hari kiamat. Orang-orang yang beriman dari umat sebelum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan mendatangi telaga nabi mereka masing-masing.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya setiap nabi memiliki telaga, mereka saling membanggakan (telaga) siapa di antara mereka yang paling banyak pengunjungnya, dan aku berharap bahwa telagakulah yang paling banyak pendatangnya di antara mereka.” (HR. Tirmidzi dari shahabat Samurah radhiallahuanhu, berkata al-Albani rahimahullah: hadits ini, dengan mengumpulkan segenat riwayatnya, derajatnya hasan atau shahih).

Hanya saja hadits-hadits yang telah kita sebutkan hanyalah menyebutkan tentang keadaan telaga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja. Adapun mengenai sifat dan keadaan telaga-telaga para nabi selain beliau maka tidak ada hadits yang menjelaskan dengan rinci.

Maka dibandingkan dengan telaga-telaga para nabi, telaga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah telaga terbesar dan paling banyak pengunjungnya, karena umat beliau merupakan setengah dari penduduk surga berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalllam,

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya aku berharap kalian akan menjadi setengah dari penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahuanhu).

(Lihat Fahtul Rabbil ‘Ibad hal. 433-440, Mu’jamut Ta’rifat hal. 184)

Penulis: al-Ustadz Abu Ahmad hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *