Seputar Puasa 6 Hari Bulan Syawal

Edisi: 31 || 1439H

Tema: Hadits

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من صام رمضان ثمّ أتبعه ستاّ من شوّال كان كصيام الدّهر

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkan dengan berpuasa 6 hari Syawwal maka seakan-akan seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim no.1984 dari shahabat Abu Ayyub al-Anshori)

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah ta’ala. Berdasarkan hadits tersebut maka mayoritas para ulama seperti Ibnu Abbas, Thawus, asy-Sya’bi, Maimun bin Mihran, Ibnul Mubarak, asy-Syafi’I, Ahmad, Ishaq bin Rahuyah dan yang lainnya mengatakan disunnahkan untuk melakukan puasa 6 hari Syawal, (Lathaif al-Ma’arif juz 1 hal.244)

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’I rahimahullah berkata,

“Disunnahkan untuk melaksanakan puasa 6 hari Syawal berdasarkan hadits tersebut.” (Al-Majmu:6/227)

Ibnu Muflih rahimahullah berkata,

“Dan disunnahkan untuk melanjutkan puasa Ramadhan dengan puasa 6 hari Syawal.” (Al-Furu:5/84)

Tata Cara Puasa 6 Hari Syawal

Adapun dalam tata cara pelaksanaan kapan dimulainya puasa 6 hari Syawal adalah sebagaimana penjelasan para ulama berikut:

  • Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’I rahimahullah berkata, “Dan disunnahkan untuk melakukan puasa (6 hari) secara berurutan harinya pada bulan Syawal. Dan boleh melakukannya tidak berurutan harinya (terpisah harinya) atau melakukannya pada akhir Syawal.” (al-Majmu:6/227)

 

  • Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Bolehkah melakukan puasa 6 hari Syawal tidak berurutan harinya? Dan manakah yang lebih utama, apakah dilakukan secara berurutan harinya atau terpisah harinya?”

Beliau rahimahullah menjawab:

“Yang lebih utama adalah melakukan puasa 6 hari Syawal secara berurutan harinya dan dilakukan secara langsung setelah ‘Idul Fitri (tanggal 1 Syawal) karena perbuatan yang demikian merupakan bersegera menuju kebaikan. Jadi tidak mengapa untuk memulai puasa 6 hari Syawal sejak tanggal 2 Syawal dan tidak mengapa pula puasa 6 hari Syawal tidak berurutan harinya hingga akhir bulan Syawal berdasarkan keumuman hadits, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkan dengan berpuasa 6 hari Syawal maka seakan-akan seperti berpuasa sepanjang tahun”. Dan dalam hadits tersebut Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mempersyaratkan puasanya harus dilakukan secara berurutan dan tidak pula harus dilakukan langsung setelah Ramadhan selesai (2 Syawal).” (Fatawa Nur’ala Darb, juz 25 hal 210)

  • Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya: “Apakah boleh bagi seorang untuk memilih waktu puasa 6 hari pada bulan Syawal? Apakah puasa 6 hari tersebut memiliki waktu-waktu tertentu? Dan apakah apabila seorang melaksanakan puasa tersebut maka akan jatuh kewajiban kepadanya?”

Beliau rahimahullah menjawab:

“Telah datang riwayat dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkan dengan berpuasa 6 hari Syawal maka seakan-akan seperti berpuasa sepanjang tahun’ (Shahih Muslim).

6 hari puasa tersebut tidak memiliki waktu-waktu tertentu dari bulan Syawal. Bahkan seorang mukmin bisa memilih kapan waktunya pada bulan Syawal tersebut. Apabila dia mau, bisa berpuasa pada awal bulan atau pertengahan bulan atau akhir bulan dan kalau dia mau, puasanya bisa dilakukan secara terpisah atau berurutan harinya.

Dalam hal ini sifatnya fleksibel – segala puji bagi Allah. Apabila dia bersegera berpuasa dan dilakukan secara berurutan di awal bulan maka ini adalah lebih utama dikarenakan yang demikian ini termasuk bersegera dalam kebaikan.

Puasa 6 hari Syawal tidak akan menjadi wajib baginya. Bahkan boleh untuk meninggalkannya pada tahun kapanpun.

Akan tetapi rutin melaksanakan puasa 6 hari Syawal setiap tahun adalah lebih utama dan lebih sempurna berdasarkan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang rutin dilakukan walaupun sedikit.’ dan Allah-lah yang memberi taufik.” (Majmu’ Fatawa wa Malaqat Mutanawi’ah li Ibn Baz, juz 15 hal. 390)

Hukum Melaksanakan Puasa 6 Hari Syawal Sebelum Membayar Hutang Puasa Ramadhan

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya:

“Apakah boleh melaksanakan puasa 6 hari Syawal sebelum membayar hutang puasa Ramadhan?”

Beliu rahimahullah menjawab:

“Para ulama telah berselisih pendapat dalam hal ini. Dan pendapat yang benar bahwasannya yang disyariatkan adalah mendahulukan untuk membayar hutang puasa Ramadhan dari puasa 6 hari Syawal dan puasa-puasa sunnah lainnya. Berdasarkan hadits nabi shalallahu ‘alaihi wasallam , ‘Barangsiapa yang berpuasa ramadhan kemudian melanjutkan dengan berpuasa 6 hari Syawal maka seakan-akan seperti berpuasa sepanjang tahun.’ (Shahih Muslim).

Barangsiapa yang mendahulukan puasa 6 hari Syawal daripada hutang puasa Ramadhan maka dia tidak dikatakan -sebagaimana dalam hadits di atas- ‘-berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkan dengan 6 hari Syawal.’

Akan tetapi dikatakan ‘-berpuasa sebagian Ramadhan kemudian melanjutkan dengan berpuasa 6 hari Syawal.’

Hutang puasa Ramadhan hukumnya adalah wajib sementara puasa 6 hari Syawal hukumnya sunnah. Perkara yang wajib adalah yang lebih utama untuk dipentingkan dan diperhatikan. Wabillahi taufik. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawi’ah li Ibn Baz, juz 15 hal. 392)

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Apa keutamaan puasa 6 hari Syawal? Dan apakah puasa tersebut dilakukan secara terpisah harinya atau berurutan?”

Beliau rahimahullah menjawab:

“Iya. Di sana terdapat keutamaan berpuasa 6 hari Syawal, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkan dengan berpuasa 6 hari Syawal maka seakan-akan seperti berpuasa sepanjang tahun.’ (HR Muslim Kitab Puasa dengan penjelasan dari an-Nawawi juz 8, hal. 56).

Keutamaannya adalah seperti berpuasa setahun penuh.

Hendaklan seorang benar-benar memperhatikan bahwasanya keutamaan yang demikan ini tidak akan bisa diraih oleh seseorang melainkan apabila telah sempurna melaksanakan puasa Ramadhan.

Oleh karena itu, apabila seorang memiliki hutang puasa Ramadhan hendaklah dia menyelesaikan hutang puasa Ramadhan terlebih dahulu barulah setelah itu berpuasa 6 hari Syawal dan apabila dia berpuasa 6 hari Syawal terlebih dahulu dan belum menyelesaikan hutang puasa Ramadhannya maka dia tidak akan mendapatkan keutamaan tersebut. Sama saja apakah kita berpegang dengan pendapat sahnya puasa sunnah yang dilakukan sebelum menunaikan hutang puasa wajib atau tidak berpegang dengan pendapat tersebut.

Karena nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‘Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkan..’,

dan orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan dikatakan sebagai orang yang berpuasa pada sebagian Ramadhan dan tidak dikatakan sebagai orang yang telah berpuasa Ramadhan.

Puasa 6 hari Syawal boleh dilakukan secara terpisah harinya atau secara berurutan. Akan tetapi dilakukan secara berurutan adalah lebih utama dikarenakan yang demikian ini merupakan bersegera kepada kebaikan dan menghindarkan diri dari perbuatan menunda-nunda yang akhirnya tidak jadi berpuasa.” (Fatawa Ibnu Utsaimin, kitab Ad-Da’wah juz 1, hal. 52-53)

Hikmah Puasa 6 Hari Syawal

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah di dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif (juz1, hal. 244-251) telah menyebutkan beberapa hikmah puasa 6 hari Syawal, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Bahwasannya dengan puasa 6 hari Syawal maka akan menyempurnakan pahala seperti puasa sepanjang tahun.
  2. Bahwasannya dengan puasa 6 hari Syawal dan puasa Sya’ban adalah seperti shalat sunnah rawatib yang dilakukan sebelum dan setelah shalat wajib. Yang dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib tersebut akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada shalat wajib yang dilaksanakan.
  3. Bahwasannya kembali berpuasa (puasa 6 hari Syawal) setelah selesai melaksanakan puasa Ramadhan maka yang demikian merupakan pertanda diterimanya amalan puasa Ramadhan (oleh Allah ta’ala). Karena sesungguhnya apabila Allah ta’ala menerima amalan seseorang hamba maka Allah akan memberikan taufik kepadanya untuk beramal shalih kembali setelahnya. Sebagaimana dikatakan: Pahala sebuah kebaikan adalah mengamalkan kebaikan lagi setelahnya.

Sehingga barangsiapa yang beramal kebaikan kemudian dia melanjutkan setelahnya dengan amalan kebaikan lagi maka yang demikian ini menunjukkan diterimanya amalan kebaikan yang pertama (oleh Allah ta’ala).

Sebagaimnana pula seorang yang beramal kebaikan kemudian setelahnya melakukan amal kejelekan maka yang demikian ini menunjukkan tertolaknya kebaikan tersebut dan tidak diterimanya amalan kebaikan tersebut (oleh Allah ta’ala).

  1. Bahwasannya dengan puasa Ramadhan, dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya akan dimapuni (oleh Allah ta’ala) dan seorang berpuasa Ramadhan akan disempurnakan pahala-pahala mereka pada Idul Fitri yaitu hari diperbolehkannya perkara-perkara yang sebelumnya dilarang. Maka dengan melaksanakan puasa (6 hari Syawal) setelah Idul Fitri merupakan bentuk syukur terhadap nikmat ini (diampuni dosa-dosanya). Tidak ada nikmat yang lebih besar dibandingkan nikmat diampuni dosa-dosanya.

Penulis: Ustadz Muhammad Rifki hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *