Wahai Para Istri, Gapailah Rumah Tangga Bahagia dengan Menaati Suami!

Edisi: 30 || 1439H

Tema: Keluarga

Pemimpin rumah tangga adalah suami. Ia memiliki kedudukan tinggi di mata anak dan istri. Sebab, di atas pundaknya tanggung jawab keluarga. Suami-lah yang memberi nafkah, mendidik, mengambil keputusan dan berbagai posisi penting lainnya. Tugasnya tidak ringan. Oleh karena itu, seorang suami memiliki hak yang besar dalam keluarga. Hak-hak ini harus diketahui oleh keluarga, terutama sang istri. Agar ia lebih mengerti posisi suami dan lebih bisa menghormatinya sesuai syariat agama.

Pembaca, rahimakumullah

Rumah tangga bahagia adalah dambaan kita semua. Sakinah dan mawaddah (ketenangan dan rasa saling cinta) merupakan harapan semua. Namun, untuk mewujudkannya bukan sesuatu yang mudah. Dibutuhkan perjuangan dan upaya untuk itu.

Salah satu kunci menggapai keluarga bahagia adalah dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga. Setelah itu, menunaikannya dengan sebaik-baiknya. insyaAllah, keluarga tersebut akan menjadi harmonis dan bahagia.

Seorang suami memahami kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Ia tunaikan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya; menyayangi keluarga, menafkahi dan mendidik mereka dengan pendidikan islami.

Demikian pula dengan sang istri. Ia sangat sadar akan posisinya. Menghormati, menaati dan melayani suami, di samping mengurus rumah, mendidik, dan merawat anak-anak.

Jika demikian, sebuah keluarga akan dimudahkan untuk menggapai kehidupan yang harmonis. Kalaupun ada problem, dan itu wajar, akan segera dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan saling meridhai.

Oleh karena itu, melalui buletin singkat ini, kita akan menelaah hak suami dan kewajiban istri kepadanya dalam rumah tangga. Dengan harapan, para istri dapat memahaminya dan menunaikannya dengan sebaik-baiknya.

Hak Suami

Pembaca yang budiman, terlebih dahulu kita akan membahas hak suami atas istrinya. Melalui sabdanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan para istri tentang besarnya hak seorang suami,

لا آمر أحدا أن يسخد لأحد ولو أمرت أحدا يسجد لأحد لأمرت المر أن تسجد لزوجها

“Aku tidak memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain. Andaikan aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku telah memerintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Ath-Thabrani, lihat ash-Shahihah no. 3490)

Ini menunjukkan bahwa seorang istri berkewajiban menghormati dan memuliakan suaminya. Istri pun harus banyak berterima kasih kepada sang suami dan menaati perintahnya.

Bagaimana tidak! Suami telah banyak berjasa untuk keluarganya. Pengorbanan seorang suami sangatlah besar. Tanggung jawab terhadap keluarganya di hadapan Allah ta’ala juga berada di atas pundaknya.

Konsekuensi dari ini, seorang istri tidak boleh menyakiti suaminya, baik dengan lisan maupun perbuatan. Istri juga tidak boleh membelot dan menentang perintah sang kepala rumah tangga tersebut, selama perintahnya bukan maksiat kepada Allah.

Posisi Seorang Suami

Sekali lagi, suami adalah seorang pemimpin. Ia harus dihormati dan dimuliakan. Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Para suami adalah pemimpin bagi para istri.” (an-Nisa’: 34)

Menafsirkan ayat ini, al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Suami adalah pengatur istri, yang memimpinnya, mengambil keputusan dan mendidiknya tatkala ia menyimpang.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/292)

Dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman,

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“Para suami memiliki satu tingkatan kelebihan di atas para istri.” (al-Baqarah: 228)

Menjelaskan ayat di atas, al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan ucapan putri Said bin Musayyib rahimahullah, tokoh tabi’in, “Tidaklah kami mengajak bicara suami kami melainkan sebagaimana kalian berbicara dengan para pemimpin kalian.” (al-Usrah fil Islam, dinukil dalam Tuhfatul ‘Arus)

Oleh karena itu, seorang istri tidak boleh menyakiti suaminya, baik dengan tutur kata maupun dengan sikapnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan para istri yang menyakiti suaminya. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

لاتؤذي امرأةزوجها في الدنيا إلاّ قالت زوخته من الحور العين: لاتؤذيه قاتللك الله, فإنما هو عندك دخيل يوشك أن يفارقك إلينا

“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istri si suami dari kalangan bidadari (wanita penduduk surga) akan berkata, ‘Jangan kamu sakiti dia! Semoga Allah memerangimu, Dia hanya tamu dan sekedar singgah kepadamu. Tak lama lagi, dia akan berpisah denganmu lalu bertemu dengan kami.’” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, lihat ash-Shahihah no. 173)

Kewajiban Istri kepada Suami

Wahai para istri, ketahuilah semoga Allah ta’ala merahmatimu! Di antara sebab lurus dan tegaknya kehidupan seorang wanita adalah taat kepada suaminya. Oleh karena itu, banyak sekali keterangan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menghasung para istri untuk menaati dan memuliakan sang suami.

Renungilah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,

 إذا صلّت الملرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرخها وأطا عت زوجهاقبل لهاادخلي الجنّة من أيّ أبواب الجنّة شئت

“Jika seorang istri shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kesucian dirinya dan menaati suaminya maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad)

Perhatikanlah, ketaatan kepada suami menjadi salah satu sebab masukknya seorang istri ke dalam surga. Lebih jelas lagi, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada seorang wanita yang telah menikah, “Di mana posisimu di hadapan suamimu?”

Maka wanita itu menjawab, “Aku tidak meremehkan dan menyia-nyiakan baktiku kepadanya kecuali pada hal yang sudah tidak aku mampui”, lalu Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فكيف أنب له فإنّه جنّتك ونارك

“Kedudukanmu bergantung pada baktimu kepadanya. Sebab dia adalah surgamu atau nerakamu.” (HR. Ahmad dan an-Nasai)

Menaati suami merupakan kewajiban bagi istri. Hal tersebut berlaku pada perkara yang bukan maksiat. Dalam perkara mubah, jika suami memerintahkan sesuatu, maka wajib bagi istri untuk menaatinya. Seperti mencuci pakaian, memasak, menyapu dan lain-lain.

Terlebih apabila perintah suami itu berupa kebaikan, maka istri lebih wajib untuk menaatinya. Jika suami memerintahkan istrinya untuk menutup aurat dengan sempurna, maka wajib bagi istri untuk menaatinya. Demikian pula jika sang suami mengajaknya untuk belajar agama, istri wajib untuk menyambutnya.

Istri yang baik adalah yang sadar akan kadar dirinya. Jauh dari sikap melawan kepada suami, akan tetapi berterima kasih kepadanya atas jerih payahnya dalam mencari nafkah dan segenap perhatiannya. Manakala dibimbing untuk istiqamah di atas agama dan kebaikan, ia pun bersegera menyambut dan bersatu dengan sang suami dalam ketaatan. Jika ada seorang istri yang tidak sadar akan kadar dirinya maka hati-hatilah! Murka Allah amat dekat.

Pembaca, suami bagi istri termasuk manusia yang paling besar haknya. Pada suatu hari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahuanha pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang mempunyai hak paling besar atas seorang wanita? Beliau menjawab, “Suaminya!” (HR. Al-Bazzar)

Balasan Kebaikan

Suami telah mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk keluarga. Maka, dia amat berhak untuk mendapatkan balasan kebaikan. Ini bagian dari akhlak yang mulia. Sebab, kebaikan dibalas dengan kebaikan pula.

Renungilah wahai para istri! Persiapkanlah dirimu untuk senantiasa taat kepada suamimu dan sabarlah dalam menghadapinya. Karena anda sekarang sedang beribadah dan menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sekali lagi, kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan. Kalau Anda menaati suami, insyaAllah dia pun akan berbuat yang sama kepadamu. Bahkan dia akan memberikan apa yang Anda minta. Jiwa yang masih suci dan lurus tercipta untuk membalas sebuah kebaikan dengan kebaikan.

Hakikat Taat

Makna asal dari taat adalah menjalankan perintah dan meninggalkan larangannya. Anda adalah orang yang terdekat dengan suami; mengetahui seluk-beluk keinginannya. Maka, jangan menunggu sampai dia memerintahkan atau melarang.

Perhatikanlah kebersamaan Anda dengannya sepanjang hari. Bersegeralah memberikan apa yang ia suka dan menghindarkan apa yang ia benci. Jangan sampai Anda menunggu perintah atau larangannya. Bersegeralah bertindak sebelum ia memerintah atau melarang.

Satu sisi, ini adalah tanda kecerdasan dan ketangkasan Anda. Di sisi lain, ini adalah kemuliaan yang tersemat pada diri Anda. Yaitu, bersegera dalam kebaikan sebelum ia meminta.

Tidak Taat Dapat Laknat

Semakin menguatkan kewajiban istri untuk taat kepada suaminya, adanya ancaman laknat bagi istri yang tidak taat kepada suami dalam hal yang bersifat khusus. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذادعاالرّخل امرأته إلى فراشه فلم تأته فبات غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى تصبح

“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya namun dia tidak memenuhinya kemudian dia marah malam itu, maka para malaikat melaknat sang istri hingga waktu Subuh.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’I)

Andai saja seorang istri menaati suaminya, kekurangan yang ada pada dirinya akan tertutupi olehnya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk bisa membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Wabillahit-taufiq.

Penulis: Ustadz Abu Majdiy hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *