CINTA DUNIA

Edisi: 29 || Tahun 1439H

Tema: Raqaiq

Kehidupan di dunia merupakan kehidupan sementara. Seorang dilahirkan, melalui masa kanak-kanak, lantas dewasa kemudian dipanggil oleh Dzat yang Maha Kuasa. Waktu yang dilalui begitu cepat dan singkat. Seolah baru kemarin dilahirkan, kini sudah menginjak usia senja, sudah mmemiliki ana cucu dan badan tidak sekuat dahulu. Pertanyaannya: apakah ia menyadari hal ini lalu mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah ta’ala?

Pembaca rahimakumullah,

Demikianlah kondisi yang akan dialami oleh seorang manusia. Semuanya akan ia lalui dan pastinya akan menemui ajal yang telah dipastikan untuknya. Allah ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوٓا۟ أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا۟ شُيُوخًا وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوٓا۟ أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Dialah yang menciptakan kalian dari tanah kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal darah. Kemudian kalian dilahirkan sebagai seorang anak, kemudian dibiarkan kalian sampai dewasa, lalu menjadi tua. Tetapi di antara kalian ada yang dimatikan sebelum itu, (Kami perbuat demikian) agar kalian sampai kepada kurun waktu yang ditentukan, agar kalian menerti.” (Ghafir: 67)

Allah ta’ala menceritakan proses kehidupan manusia di atas dengan tujuan sebagaimana disebutkan di akhir ayat. Yaitu, agar manusia mengerti. Mengerti tentang kehidupannya yang sementara dan kelak akan dibangkitkan ke hadapan Allah ta’ala.

Pembaca yang budiman. Kita sering mendengar berita kematian di sekitar kita. Tidak jarang di antara yang dipanggil oleh Allah ta’ala itu adalah kerabat dan orang-orang terdekat kita. Ada yang meniggal dalam usia senja karena sakit. Ada pula yang menghembuskan nafas terakhir pada usia muda. Bahkan di antara mereka ada yang masih bayi dan sebagiannya berada dalam kandungan ibunya.

Melihat hal ini, seorang yang berakal akan mengambil pelajaran dari nasihat. Bahwa dirinya juga akan mengalami hal yang sama sebagaimana dialami orang lain. Ia sadar bahwa dirinya akan meninggalkan dunia ini, cepat atau lambat.

Sekali lagi, Allah ta’ala memperlihatkan dan memperdengarkan itu semua agar kita berpikir. Supaya kita kembali merenungi firman Allah ta’ala (artinya),

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Agar kita juga mengingat lagi peringatan Allah ta’ala,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Apakah kalian mengira Kami menciptakan kalian dengan sia-sia tanpa tujuan dan kalian tidak dikembalikan kapada Kami?” (al-Mu’minun: 115)

Ya, supaya kita mengulang dan membaca lagi ayat-Nya.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Kemudian kalian akan disempurnakan pahalanya pada hari Kiamat. Barangsiapa yang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan perhiasan yang menipu.” (Ali Imran: 185)

Pembaca rahimakumullah, jika seseorang memahami semua ini, ia akan banyak beramal dan mencari bekal. Tidak lama lagi, ia akan mendapatkan giliran. Allah ta’ala akan memanggilnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Peringatan berulang

Ayat, hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan fenomena kematian merupakan peringatan berulang untuk kita. Namun, tidak sedikit yang masih saja lalai terhadapnya. Kemampuan seorang untuk mengambil pelajaran dari peringatan tersebut bertingkat-tingkat sesuai dengan keimanannya.

Benar, semakin tinggi keimanan dalam hati, semakin besar pelajaran yang ia ambil. Ia semakin takut dan khawatir terhadap dirinya. Semakin tinggi iman, kesadaran untuk berbekal diri juga semakin besar.

Sebaliknya, jika iman rendah, peringatan demi peringatan seolah tidak berarti. Baginya, ayat dan hadits hanya bacaan semata. Begitu juga dengan kematian, hanyalah peristiwa biasa. Tidak ada pengaruh sama sekali terhadap dirinnya.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim memperhatikan hatinya, ia isi hatinya dengan keimanan dan ilmu. Lalu diwujudkan dengan amalan anggota badan. Dengan menghadiri kajian ilmu atau membaca buku, insyaAllah hati terasa hidup.

Jika hati sudah hidup, mudah baginya untuk mengambil pelajaran dari setiap peringatan. Ia sadar hidupnya sementara dan wajib baginya untuk segera menyambut panggilan-Nya.

Uban dan Kelemahan Badan

Kalau diperhatikan, ternyata kondisi diri merupakan peringatan dari Allah ta’ala. Uban yang tumbuh di kepala. Kelemahan yang menjangkiti seluruh badan. Semua adalah peringatan dari Allah ta’ala . Allah ta’ala berfirman,

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً

“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah. Setelah kelemahan itu Dia membuat kalian menjadi kuat. Dan setelah kuat, Allah menjadikan kalian kembali lemah dan beruban.” (ar-Rum: 54)

Itulah fase lain dari kehidupan seorang manusia. Ia diciptakan dari keadaan lemah, kemudian menjadi kuat. Setelah itu, ia menjadi lemah dan beruban. Tak lama setelah itu, Allah ta’ala akan memanggilnya.

Panjang Angan dan Cinta Dunia

Bagi orang yang mengenal Allah ta’ala, semakin lemah badan, dirinya semakin dekat dengan-Nya. Ia tidak berpanjang angan dan tidak pula terlalu cinta terhadap dunia. Demikian keadaan manusia yang normal. Semakin tinggi usianya, semakin lemah badannya. Hal ini disertai dengan melemahnya keinginan terhadap dunia.

Namun, tidak sedikit yang kondisinya berlawanan. Semakin berusia, angannya semakin panjang dan dirinya bertambah cinta terhadap dunia. Hal ini seperti yang disyaratkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

لايزال قلب الكبير شا با في اثنتين:في حب الدنياوطول الأمل

“Hati orang tua senantiasa merasa muda pada dua perkara: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (HR. Al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah)

Dan inilah mayoritas manusia di masa ini. Sekalipun badan telah bungkuk, tulang benulang sudah rapuh, mata sudah menyempit namun ambisinya terhadap dunia tidak lantas surut. Justru, ia semakin tamak dan rakus untuk menambah pundi-pundi harta. Na’udzubillah.

Orang-orang shalih sebelum kita saling berwasiat untuk menjauh dari permasalahan ini. Agar lebih menyibukkan diri dalam ketaatan kepada Allah ta’ala. Mereka sendiri sangat menghawatirkan perjumpaan dengan-Nya. Sehingga, kecintaan kepada Allah ta’ala mengalahkan rasa cinta terhadap harta dunia.

Para salaf ingat betul kekhawatiran Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam terhadap umat ini akan dibukakannya pintu dunia sehingga saling berlomba untuk mendapatkannya. Mereka juga sadar sifat tamak manusia, sekalipun telah diberi harta sebanyak dua lembah, seorang manusia tidak akan merasa puas dengannya.

Sifat Manusia

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لوكان لابن آدم واديان من مال لابتغى ثالثا, ولايملأ جوف ابن آدم إلالتراب, ويتوب الله على من تاب

“Kalau saja anak Adam memiliki dua lembah harta, tentu ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Allah menerima taubat seorang hamba yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dari shahabat Ibnu Abbas)

Hadits di atas menggambarkan sifat dasar seorang manusia. Ia tidak akan merasa puas dengan dunia yang sudah digenggamnya.

Dalam salah satu ayat-Nya, Allah ta’ala juga menceritakan sifat manusia ini,

وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (al-Fajr: 20)

Pemberitahuan dari Allah ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di atas bertujuan agar manusia waspada. Bahwa dirinya memiliki salah satu sifat yang harus dikendalikan dan dijaga, yaitu cinta terhadap dunia.

Tabiat cinta terhadap dunia ini hanya bisa dikendalikan dengan ilmu dan takwa. Dengan ilmu dan takwa, sifat ini bisa diarahkan kepada hal yang positif dan bermanfaat, dan ini membutuhkan kesungguhan dan perjuangan.

Adalah wajar bila seseorang membutuhkan harta untuk menopang kehidupannya di dunia. Bahkan Allah ta’ala menjadikan harta sebagai sarana bagi manusia untuk mengarungi kehidupan dunia. Dengan harta pula, seseorang bisa melakukan berbagai amal kebaikan, seperti: zakat, infak dan sedekah.

Hanya saja, yang tercela adalah sikap berlebihan di dalam mencintai harta dunia. Ia lebih mendahulukan kecintaannya kepada dunia dibandingkan kecintaannya kepada Allah ta’ala dan negeri akhirat.

Rahmat Allah ta’ala kepada Hamba

Jika tidak dikendalikan, sifat ini akan menjadi tercela dan bermudharat bagi agamanya. Oleh karena itu, di akhir hadits di atas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ويتوب الله على من تاب

“Allah menerima tobat seorang hamba yang bertobat.” (HR. Al-Bukhari dari shahabat Ibnu Abbas)

Artinya, bisa saja seorang terbawa oleh sikap tamak terhadap dunia. Namun, manakala ia bertobat, Allah ta’ala akan mengampuni dan menerima tobatnya.

Tobatnya seorang yang rakus dan tamak terhadap dunia hendaknya dia beriman bahwa harta itu milik Allah ta’ala. Lalu ia gunakan harta tersebut untuk beramal shalih dan menempuh jalan hidayah. Dengan begitu, Allah ta’ala akan mengampuni dirinya.

Wallahu a’lam bishshawwab

Penulis: Ustadz Abdullah Imam hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *