Bersiap Menghadapi Hari Perpisahan

Edisi: 23 || 1439H

Tema: Tafsir

Allah ta’ala berfirman,

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (an-Nahl: 96)

Dalam tafsirnya, al-Imam ath-Thabari rahimahullah menyatakan (artinya), “Apa yang ada di sisi kalian, wahai sekalian manusia, berupa segala perbendaharaan yang kalian miliki di dunia ini, walaupun banyak dan melimpah, pasti akan lenyap!

Adapun yang ada di sisi Allah (berupa pahala dan anugerah kenikmatan hidup) bagi orang yang memenuhi janji kepada-Nya dan menaati-Nya dengan amal kebaikan, pasti akan kekal, tidak akan pernah sirna sedikitpun.

Maka beramallah kalian demi meraih apa yang ada di sisi-Nya, dan bersemangatlah untuk mendapatkan sesuatu yang kekal abadi tersebut.” (Tafsir ath-Thabari)

Al-Qur’an Mengingatkan

Salah satu hikmah diturunkannya al-Qur’an adalah sebagai peringatan. Peringatan agar hamba ini tidak lupa kepada Allah ta’ala, tidak lalai dari syariat-Nya, dan tidak berpaling dari tuntunan agama-Nya. Al-Qur’an juga mengingatkan manusia akan adanya negeri akhirat.

Ayat yang menjadi pembahasan dalam buletin kali ini adalah salah satunya. Satu ayat yang mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini tidak kekal. Segala materi duniawi, harta, kekayaan, pangkat, dan jabatan tidak selamanya terus dalam genggaman pemiliknya.

Ada saatnya hilang, sirna, tiada berbekas sedikitpun, berpisah untuk selamanya. Itulah dunia yang fana. Setiap hamba harus bersiap-siap menghadapi hari perpisahan itu. Berpisah dengan dunia beserta segala kenikmatan, kesenangan, dan harta benda yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah.

Yang Ada di Sisi Allah ta’ala Itu Kekal Abadi

Yang kekal dan abadi adalah apa yang ada di sisi Allah ta’ala. Apa itu? Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa yang di sisi Allah ta’ala adalah pahala dan ganjaran yang Allah berikan di surga. Inilah yang kekal.

Lantas, bagaimana bisa meraih pahala di surga tersebut? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah (artinya),

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (an-Nisa’: 124)

Amal shalih inilah yang akan terus dirasakan buah manisnya, sejak seorang hamba meninggalkan dunia hingga hidup kembali di akhirat nanti. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يتبع الميّت ثلاثة فيرجع اثنان ويبفى معه واحد. يتبعه أهله وماله وعمله فير جع أهله وماله ويبقى عمله

“Ada tiga hal yang mengiringi jenazah ke tempat pemakamannya, dua di antaranya akan kembali pulang, dan yang satu akan tetap menyertainya. Tiga hal yang mengiringi jenazah itu adalah keluarga, harta, dan amalannya. Keluarga dan hartanya akan kembali pulang dan amalannya yang akan terus menemaninya.” (HR. Al-Bukhari no. 6033 dan Muslim no. 5260)

Harta yang melimpah tidak akan dibawa ke liang kubur. Pangkat dan jabatannya yang tinggi tidak kuasa memberikan pembelaan saat dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Beramal shalih merupakan kebutuhan, karena manfaatnya akan kembali kepada pelakunya. Allah ta’ala menceritakan tentang manusia yang ditimpa penyesalan setelah kematiannya (artinya),

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan’.” (al-Mu’minun: 99-100)

Ketika ajal tiba, mereka menyesal, dan mohon agar dikembalikan hidup di dunia. Untuk apa? Apakah untuk bersenang-senang dengan kelezatan dunia? Tidak. Mereka ingin dikembalikan ke dunia untuk beramal shalih yang selama ini mereka sia-siakan.

Beramal shalih itu penting. Selama hayat masih di kandung badan, manfaatkan untuk kebajikan, memperbaiki diri dan berbuat untuk meraih ridha Ilahi.

Waktu hidup di dunia ini jangan disia-siakan. Habiskan umur dengan keshalihan. Setiap ucapan dan tindakan manusia pasti akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Penguasa jagad raya ini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاتزول قدما عبديوم القيامة حتّى يسأل عن عمره فيماأفناه, وعن علمه فيم فعل, وعن ماله من أين اكتسبه وقيم انفقه, وعن جسمه فيم أبلاه

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang ilmunya diamalkan untuk apa, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang badannya digunakan untuk apa (selama hidupnya di dunia).” (HR. At-Tirmidzi no. 2417)

Harta yang Bermanfaat di Akhirat

Harta kekayaan duniawi tidak selamanya tercela. Adakalanya harta dunia menjadi sebab kebahagiaan pemiliknya di akhirat. Yaitu ketika hartanya digunakan untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah ta’ala, seperti infak di jalan-Nya. Rasullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يقول العبد: مالي, مالي, إنّما له من ماله ثلاث: ما أكل قأفنى, أو لبس فأبلى, أو أعطى فاقتنى, وما سوى ذلك فهو ذاهب, وتار كه للنّاس

“Seorang hamba mengatakan, ‘Hartaku, hartaku!’Sesungguhnya harta ia miliki hanya akan termanfaatkan untuk tiga hal, yaitu: untuk dimakan kemudian habis, untuk berpakaian yang kemudian usang, atau untuk diberikan (disedekahkan) yang pahalanya akan tetap di sisi Allah. Selain dari tiga hal tersebut, hartanya akan pergi dan menjadi peniggalan (warisan) untuk orang lain?” (HR. Muslim no. 2959)

Makna hadits ini adalah apabila seseorang bersedekah, maka pahalanya akan tetap kekal untuknya. Terlebih lagi bila sedekah tersebut berupa sedekah jariyah seperti wakaf. Dimanfaatkan oleh orang yang masih hidup, maka pemilik harta itu akan terus mendapatkan pahalanya walaupun ia sudah meninggal dunia.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalllam bersabda,

إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلاّ من ثلاثة: إلاّ من صدقة جارية, أوعلم ينتفع به, أو ولد صالح يدعوله

“Apabila seseorang meninggal, terputuslah amalan darinya kecuali dari tiga jenis amalan darinya kecuali dari tiga jenis amalan, yaitu sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.” (HR. Muslim no. 1631)

Orang yang meninggal dunia, amalannya terputus. Terputus pula baginya kesempatan untuk menambah pahala. Dikecualikan dalam hal ini adalah tiga jenis amalan, yang pahalanya akan terus mengalir walaupun ia sudah meniggal dunia. Di antara tiga amalan tersebut adalah sedekah jariyah.

Di dalam al-Qur’an, Allah ta’ala juga telah menggambarkan penyesalan orang-orang yang selama hidupnya mengabaikan infak dan sedekah. Allah ta’ala berfirman (artinya),

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian; lalu ia berkata, ‘Ya Rabbku, mengapa engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?” (al-Munafiqun: 10)

Oleh karena itulah, mari kita berusaha semaksimal kemampuan untuk membelanjakan dari sedikit yang kita miliki ini untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah ta’ala, seperti infak dan sedekah. Agar kita bisa memetik pahalanya di akhirat kelak.

Rasa Nikmatnya Dunia Tidak Ada Bekasnya di Akhirat

Hal ini nampak dari berita yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berikut (artinya),

“Pada hari kiamat nanti, akan didatangkan seorang penduduk neraka yang ia dahulu adalah penduduk bumi yang paling banyak merasakan lezat dan nikmatnya dunia. Kemudian, ia dimasukkan ke dalam neraka barang sejenak, lalu ditanya, ‘Wahai manusia, apakah kamu melihat kebaikan sedikitpun? Apakah pernah ada kenikmatan yang engkau rasakan? ’Ia menjawab, ‘Demi Allah, tidak, wahai Rabbku, aku tidak pernah merasakan kenikmatan sedikitpun!’ Didatangkan pula seorang penduduk surga yang dulunya ia adalah orang yang paling merasakan kesusahan hidup di dunia. Kemudian, ia dimasukkan ke dalam surga barang sejenak, lalu ditanya, ‘Wahai manusia, apakah kamu melihat kesusahan sedikitpun? Apakah pernah ada kesusahan yang engkau rasakan? ‘Ia menjawab, ‘Demi Allah, tidak wahai Rabbku, aku tidak pernah merasakan kesusahan sedikitpun, aku tidak pernah melihat kesusahan sedikitpun!’.” (HR. Muslim no. 5021)

Pada pembaca rahimakumullah. Pelajaran dari hadits ini, bahwa kesengsaraan hidup di neraka benar-benar menjadikan penghuninya lupa, seakan-akan belum pernah merasakan kesenangan dan kelezatan hidup di dunia. Ia tidak ingat lagi, bahwa dulunya ia adalah orang yang bergelimang dengan harta.

Bukan lagi kekayaan yang menjadi teman hidupnya, namun kobaran adzab-lah yang justru menyelimutinya. Na’udzubillah min dzalik. Maha Benar Allah dalam firman-Nya,

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (an-Nahl: 96)

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *