MELIHAT ALLAH DI HARI KIAMAT & MENITI SHIRATH

(Jembatan yang diletakkan di atas Neraka Jahannam)

Edisi: 22 || 1439H

Tema: Akidah

Salah satu nama yang termasuk dalam Asmaul Husna (nama-nama Allah yang Indah) adalah al-Jamil, Yang Maha Indah. Keindahan Allah ta’ala tidaklah dapat tergambarkan oleh akal pikiran manusia, tidak pula dapat diungkapkan dengan kata-kata. Suatu keindahan yang tiada bandingannya.

Tidak seorang pun manusia yang dapat melihat keindahan Allah ta’ala semasa di dunia, namun di akhirat kelak setiap orang beriman pasti akan melihat-Nya. Inilah peritiwa yang disebutkan oleh para ulama dengan isltilah ru’yatullah (melihat Allah ta’ala).

Peristiwa melihat Allah ta’ala di hari Kiamat oleh kaum mukminin terjadi di dua tempat. Pertama, ketika di padang mahsyar dan yang kedua, ketika di surga. Untuk edisi kali ini pembahasan kita hanya terbatas pada peristiwa kedua akan datang pembahasannya pada edisi mendatang insyaAllah.

Hanya Kaum Mukminin yang Dapat Melihat Allah ta’ala

Allah ta’ala telah menetapkan kebenaran peristiwa ru’yatullah ini dalam firman-Nya (artinya),

“wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (al-Qiyamah: 23-24)

Adapun orang-orang kafir maka tidak akan dapat melihat Allah ta’ala, berdasarkan firman-Nya (artinya),

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (melihat) Rabb mereka.” (al-Muthaffifin: 15)

Berkata al-Husain bin al-Fadhl rahimahullah, “Sebagaimana Allah telah menutupi mereka dari cahaya tauhid-Nya di dunia, demikian pula Allah menutupi mereka dari melihat-Nya di akhirat.” (lihat Tafsir al-Qurthubi)

Penyebutan Ru’yatullah di Dalam Hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam

Adapun hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ru’yatullah sangatlah banyak. Sampai-sampai para ulama ahli hadits menggolongkannya sebagai hadits mutawatir, suatu derajat hadits tertinggi dilihat dari sisi banyaknya jalur periwayatan.

Anehnya, walaupun terdapat sekian banyak dalil yang menetepkan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah ta’ala pada hari Kiamat namun ternyata ada di antara manusia yang mengingkarinya. Mereka adalah kelompok Jahmiyah dan Mu’tazilah.

Berikut ini kami sebutkan beberapa hadits tentang ru’yatullah dari hadits-hadits yang banyak jumlahnya itu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya),

“Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat, kemudian Dia berfirman, ‘Barangsiapa yang dahulu beribadah kepada sesuatu maka hendaklah dia mengikuti apa yang dia ibadahi’, maka orang-orang yang dahulu menyembah matahari pergi mengikuti matahari, orang-orang yang dahulu menyembah bulan pergi mengikuti bulan, dan orang-orang yang dahulu menyembah thaghut pergi mengikuti thaghut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu).

Thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dalam keadaan dia ridha.

Sampai ketika tidak tersisa kecuali manusia yang beribadah kapada Allah ta’ala, dari kalangan orang baik ataupun jahat, Allah lalu menampakkan diri dalam wujud yang sesuai dengan ciri-ciri dan sifat-sifat Allah yang mereka ketahui dari wahyu yang dibawa nabi-nabi mereka. Allah ta’ala berfirman kepada mereka,

“Akulah Rabb kalian”,

maka mereka pun menjawab “Na’udzu billah minka (kami memohon perlindungan kepada Allah darimu). sedikit pun kami tidak akan mempersekutukan Allah’, mereka mengucapkan dua atau tiga kali. Maka Dia berkata,

“Apakah antara kalian dengan-Nya ada suatu pertanda yang kalian dapat mengenali-Nya dengan tanda tersebut?”

Mereka menjawab “Ya.” Kemudian disingkaplah betis Allah ta’ala (sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, tidak serupa dengan sesuatupun), maka tidak seorang pun yang dahulu taat bersujud kepada Allah ta’ala selama di dunia, kecuali mereka bersujud kepada-Nya.

Sedangkan orang-orang munafik yang di dunia bersujud kepada Allah ta’ala karena riya’, ingin melindungi diri dan harta mereka dari kaum muslimin, Allah ta’ala jadikan tulang-tulang punggung mereka menyatu, tidak dapat merunduk untuk bersujud kepada-Nya. Setiap kali ia berusaha untuk bersujud maka ia pun terjungkal jatuh di atas ubun-ubunnya.

Ketika kaum mukminin mengangkat kepala dari sujudnya, pada saat itulah mereka melihat Allah ta’ala dalam wujud yang telah mereka kenali sebelumnya, berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an serta hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman,

“Akulah Rabb kalian”,

mereka pun berseru “Engkaulah Rabb kami”. (diterjemahkan secara bebas dari HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Said al-Khudri radhiallahuanhu beserta penjelasan ulama tentang hadits tersebut)

Demikianlah runtutan peristiwa di mana kaum mukminin melihat Allah ta’ala untuk pertama kalinya.

Titian di Atas Neraka

Setelah itu dibentangkanlah sirath, suatu jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam ini adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk menuju surga. Setiap orang yang beriman pasti akan melewatinya, sebagaimana tersirat dalam firman Allah ta’ala (artinya),

“Dan tidak ada seorangpun dari kalian, melainkan pasti akan mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Maryam: 71)

Yang dimaksud dengan mendatangi neraka dalam ayat ini menurut pendapat terkuat para ahli tafsir adalah melewati sirath yang terbentang di atas neraka jahannam. Ini bagi kaum muslimin. Adapun orang kafir maka tidak akan melewati sirath. Mereka digiring secara langsung untuk masuk ke dalam neraka sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Siapa yang Paling Pertama Melintasi Sirath?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang keadaan ketika itu (artinya),

“Kemudian dibentangkan jembatan di atas neraka jahannam, maka aku dan umatkulah yang paing pertama akan melewatinya. Ketika itu tidaklah ada yang dapat berbicara kecuali para rasul. Doa para rasul ketika itu adalah:

اللّهمّ سلّم سلّم

“Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.” (HR. al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Perhatikanlah betapa para rasul sangat mengasihi umat mereka. Tidak hanya di dunia mereka senantiasa berdakwah untuk menyelamatkan manusia dari api neraka, di akhirat pun mereka memohon kepada Allah ta’ala agar menyelamatkan kaum mukminin darinya. Mereka khawatir umat mereka akan terjatuh dari jembatan dan terjerembab ke daalm neraka Jahannam.

Keadaan Sirath

Kekhawatiran para rasul tersebut sangatlah beralasan, melihat kenyataan bahwa segala rintangan yang ada pada titian tersebut membuatnya sangat sulit dilalui. Hanya dengan pertolongan dan kemudahan dari Allah ta’ala seseorang dapat melaluinya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang sirath (artinya),

“Licin lagi menggelincirkan. Padanya ada kait-kait penyambar, dan duri.” (Muttafaqun ‘alaihi dari shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahuanhu)

Dalam hadits lain disebutkan (artinya),

“Padanya terdapat kait-kait seperti duri tumbuhan sa’dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui seberapa besarnya (kait-kait itu) kecuali Allah saja.” (Muttafaqun ‘alaihi dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu).

Sa’dan adalah nama suatu jenis tumbuhan rambat yang hidup di padang pasir dan memiliki banyak duri.

Ditambah lagi jembatan ini tidaklah selebar jembatan pada umumnya. Tidak hanya sempit. Tipis dan tajam, justru itulah dua kata yang paling tepat untuk menyifati sirath, sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Dan neraka memiliki suatu jembatan yang lebih tipis dari rambut, lebih tajam dari pedang.” (HR. Ahmad dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahuanha)

Keadaan Manusia ketika Melewati Sirath

Meskipun sirath dengan segala rintangan yang ada seakan-akan tidak mungkin dilewati, namun ternyata hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan dengan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa. Akan ada orang yang berhasil melewati sirath tersebut.

Konsidi mereka ketika meniti sirath berbeda-beda sesuai amal perbuatan mereka. Ada yang dapat melauinya dengan bersusah payah. Hal ini dikisahkan secara terperinci oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang panjang. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya),

“Mereka pun diberikan cahaya sesuai dengan kadar amalan mereka”.

Sampai pada sabda Beliau,

“Di antara mereka ada yang diberikan cahaya di depannya sebesar gunung, di antara mereka ada yang diberikan cahaya yang lebih besar lagi, di antara mereka ada yang diberikan cahaya seperti lebah di sebelah kanannya, di antara mereka ada yang diberikan cahaya lebih kecil dari itu di arah kanannya. Sampai orang yang paling akhir diberikan cahaya di atas ibu jari kakinya, terkadang menyala dan terkadang padam, apabila menyala ia langkahkan kakinya, ketika padam ia berhenti.”

Sampai pada sabda Beliau,

“Maka diperintahkan kepada mereka: majulah kalian seuai kadar cahaya kalian, maka di antara mereka ada yang melaluinya seperti jatuhnya bintang, di antara mereka ada yang melaluinya seperti angin, di antara mereka ada yang melaluinya seperti kejapan mata, di antara mereka ada yang melaluinya seperti pengendara tunggangan, yakni berlari-lari kecil, masing-masing melaui sesuai kadar amalnya. Sampai ketika orang yang mendapatkan cahaya di atas ibu jari kakinya berusaha lewat, terkadang tangannya terjatuh, namun tangan lainnya masih dapat berpegangan, terkadang kakinya terpeleset, namun kaki satunya masih dapat bergelantungan. Sisi-sisi badannya terjilat api neraka. Akhirnya mereka pun selamat. Ketika telah selamat mereka berkata. ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami darimu setelah Dia memperlihatkan engkau kepada kami. Sungguh Allah telah memberikan kepada kami suatu pemberian yang sama sekali belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumnya.” (HR. Ath_Thabarani dan al_Baihaqi, dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah)

Manusia yang Tergelincir dari Sirath

Selain orang-orang yang selamat dan berhasil melewati sirath yang telah kita bahas, ternyata ada pula di antara kaum muslimin yang gagal melaluinya. Mereka terjatuh ke dalam neraka karena kemaksiatan yang dilakukannya. Mereka tidak kekal abadi di dalamnya selama masih ada keimanan yang terhujam di dalam hati. Semoga Allah ta’ala menyelamatkan kita semua dari api neraka. Amin.

Wallahu a’lam bishshawwab

Penulis: Ustadz Abu Ahmad hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *