Penyempurna Pahala Shalat

Edisi: 21 || 1439H

Tema: Adab

Baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menggambarkan realita yang terjadi pada diri sebagian orang yang mengerjakan shalat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasalllam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang mengerjakan shalat, tidaklah tercatat baginya pahala shalat kecuali hanya sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya dan setengahnya.” (HR. Ahmad no. 18.894 dari shahabat Ammar bin Yasir radhiallahuanhu)

Para pembaca rahimakumullah, tidak sempurnanya pahala shalat yang disebutkan dalam hadits di atas, bisa jadi karena kurang hadirnya hati dan rasa khusyuk di saat mengerjakannya atau mungkin pula karena banyak hal dalam shalat yang belum sesuai dengan tata cara yang dibimbingkan syariat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Lalu bagaimana solusinya? Tentunya yang utama dan wajib kita lakukan adalah berusaha menghilangkan penyebab tidak sempurnanya pahala shalat tersebut. Di samping itu, penting pula bagi kita untuk menutupi kekurangan dan ketidaksempurnaan tersebut dengan cara memperbanyak mengerjakan shalat-shalat sunnah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

إنّ أوّ ل ما يحاسب الناّس به يوم القيامة من أعمالهم الصلاة, قال: يقول ربّنا خلّ وعزّ لملائكته وهو أعلم: انظروا في صلاة عبدي أتمها أم نقصها؟ فإن كانت تامّة كتبت له تامّة, وإن كان انتقص منها شيئا, قال: انظروا هل لعبدي فريضته من يطوّعه

“Sesungguhnya amalan manusia yang akan dihisab pertama kali pada hari kiamat adalah shalat. Allah –azza wa jalla– berfirman kepada malaikat, -dan Dia lebih mengetahui-, ‘Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang? Jika sempurna maka dicatat sempurna. Namun jika ada sesuatu yang kurang maka lihatlah apakah hamba-Ku mengerjakan shalt sunnah? Jika dia mengerjakan shalat sunnah maka sempurnakan bagi hamba-Ku shalat wajibnya yang kurang dengan shalat sunnahnya’.” (HR. Ahmad no. 9494, Abu Dawud no. 864, at-Tirmidzi no. 413 dan yang lainnya dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu).

Para pembaca rahimakumullah, pada edisi kali ini kami membahas keutamaan beberapa shalat sunnah. Meskipun hal ini sudah sering dibahas, tapi semoga menjadi pengingat bagi yang sudah mengetahuinya atau tambahan ilmu bagi yang belum pernah mendapatkannya. Dengan suatu harapan agar kita semua lebih bersemangat dalam mengerjakan shalat-shalat sunnah tersebut sehingga menjadi sebab bagi kesempurnaan pahala shalat kita.

Keutamaan Beberapa Shalat Sunnah

Para pembaca rahimakumullah, shalat sunnah sering juga diistilahkan dengan shalat tathawwu’ dan shalat nafilah. Banyak hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan shalat-shalat sunnah. Hadits-hadits yang dimaksud antara lain:

  1. Keutamaan shalat malam

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عليكم بقيام اللّيل فإنّه دأب الصالحين قبلكم, وهو قربة إلى ربّكم, ومكفرة للسّيّئات, ومنهاة للإثم

“Hendaklah kalian mengerjakan shalat malam, karena ia merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ia adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Rabb kalian, penghapus kejelekan dan pencegah dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 3549 dari shahabat Abu Umamah al-Bahili radhiallahuanhu)

  1. Keutamaan shalat rawatib

Yang simaksud dengan shalat rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu, baik yang dikerjakan sebelum maupun sedudahnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من ثابرعلى ثنتي عشرة من السّنّة بنى الله له بيتا في الجنّة: أربع ركعات قبل الظّهر, وركعتين بعد العشاء, وركعتين قبل الفجر

“Barangsiapa yang senantiasa mengerjakan shalat sunnah 12 raka’at maka Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga. (12 raka’at yang dimaksud adalah) empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelah zhuhur, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya’ dan dua raka’at sebelum shubuh.” (HR. At-Tirmidzi no. 414 dari ummul mukminin Aisyah radhiallahuanha)

Shalat rawatib sebelum shalat shubuh mempunyai keutamaan yang besar. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ركعتاالفجر خير من الدّ نيا ومافيها

“Dua raka’at sebelum shalat shubuh lebih baik daripada dunia dan seluruh yang ada padanya.” (HR. Muslim no. 1721 dari ummul mukminin Aisyah radhiallahuanha)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menjaga dan melaksanakan shalat rawatib dua raka’at sebelum shalat shubuh, baik ketika mukim maupun ketika sedang safar. Istri beliau, ummul mikminin Aisyah radhiallahuanha pernah menuturkan (artinya), “Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam belum pernah memperhatikan dan menjaga shalat sunnah melebihi perhatian dan penjagaan beliau terhadap dua raka’at shalat sunnah sebelum shalat shubuh.” (HR. Al-Bukhari no. 1116 dan Muslim no. 1719)

Terkhusus shalat jum’at, sebatas yang kami ketahui, tidak ada shalat sunnah qabliyyah jum’at. Seseorang yang datang ke masjid, cukup baginya mengerjakan shalat sunnah tahiyyatul masjid dua raka’at. Diperkenankan pula untuk mengerjakan shalat sunnah mutlak dua raka’at dua raka’at dan berhenti ketika khatib naik mimbar. Rasulullah shalallah ‘alaihi wasallam bersabda,

من اغتسل ثمّ أتى الجمعة, فصلّى ماقدّرله, ثمّ أنصت حتّى يفرغ من خطبتة, ثمّ يصلّي معه, غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى, وفضل ثلاثة أيّام

“Barangsiapa mandi lalu mendatangi shalat jum’at kemudian mengerjakan shalat sunnah semampu dia. Setelah itu diam mendengarkan khutbah hingga selesai kemudian shalat jum’at berjama’ah, maka akan diampuni dosa-dosanya antara jum’at tersebut ke jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim no. 857 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Adapun shalat sunnah setelah shalat jum’at maka boleh dikerjakan dua raka’at. Shahabat Abdullah bin Umar radhiallahuanhu berkata (artinya), “Beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) shalat dua raka’at setelah shalat jum’at.” (HR. Al-Bukhari no. 895 dan Muslim no. 2077)

Boleh juga dikerjakan empat raka’at (dua raka’at salam, dua raka’at salam).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من كان منكم مصلّيا بعد الجمعة فليصلّ اربعا

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin mengerjakan shalat setelah shalat jum’at maka shalatlah empat raka’at.” (HR. Muslim no. 2075 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

  1. Keutamaan shalat Isyraq

Shalat Isyraq adalah shalat sunnah yang dikerjakan setelah matahari terbit setinggi tombak (kurang lebih 15 menit setelah terbitnya matahari), dimana waktu tersebut merupakan awal waktu shalat dhuha. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من صلى الغداة في جماعة ثمّ قعد يذكرالله حتّى يطلع الشمس, ثمّ صلّى ركعتين كانت له كأجر حجّة وعمرة, قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: تامّة تامّة

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh secara berjama’ah kemudian duduk sambil berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit kemudian shalat dua raka’at maka baginya pahala sempurna sekali berhaji dan umrah.” (HR. At-Tirmidzi no. 586 dari shahabat Anas bin Malik radhilallahuanhu)

  1. Keutamaan shalat Dhuha

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يصبح على كلّ سلامى من أحدكم صدقة, فكلّ تسبيحة صدقة, وكلّ تحميدة صدقة, وكلّ تمليلة صدقة, وكلّ تكبيرة صدقة, وأمر بالمعروف صدقة, ونهي عن المنكر صدقة, ويجزئ من ذ لك ركعتان يركعهما من الضّحى

“Setiap persendian kalian ada kewajiban untuk disedekahi setiap harinya. Setiap ucapan tasbih adalah sedekah. Setiap ucapan tahmid adalah sedekah. Setiap ucapan tahlil adalah sedekah. Setiap ucapan takbir adalah sedekah. Amar ma’ruf nahi munkar juga sedekah. Tercukupkan semua itu dengan mengerjakan dua raka’at shalat Dhuha.” (HR. Muslim no. 720 dari shahabat Abu Dzar radhiallahuanhu)

  1. Keutamaan shalat setelah berwudhu

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما من مسلم يتوضّأ فيحسن وضوءه, ثمّ يقوم فيصلّي ركعتين, مقبل عليهما بقلبه ووجهه, إلّا وجبت له الجنّة

“Tidaklah seorang muslim berwudhu dengan sempurna lalu mengerjakan shalat dua raka’at, dikerjakan dengan tenang dan khusyuk, melainkan baginya balasan Surga.” (HR. Muslim no. 234 dari shahabat Uqbah bin Amir radhiallahuanhu)

  1. Keutamaan shalat ketika masuk dan keluar rumah

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalllam bersabda,

إذا خرجت من منزلك فصلّ ركعتين تمنعانك محرج السّوء, فإذا دخلت منزلك فصلّ ركعتين تمنعانك مدخل السّوء

“Jika kamu hendak keluar rumah maka shalatlah dua raka’at, niscaya keduanya akan mencegahmu dari tempat keluar yang jelek. Demikian pula jika kamu masuk rumah maka shalatlah dua raka’at, niscaya keduanya akan mencegahnya dari tempat masuk yang jelek.” (HR. Al-Bazzar no. 746 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Para pembaca rahimakumullah, demikian beberapa keutamaan shalat-shalat sunnah. Di sana masih terdapat sekian banyak shalat-shalat sunnah yang tidak memungkinkan untuk kami sampaikan di sini. Namun, semoga yang sedikit ini bisa kita amalkan dan menjadi bagian dari rutinitas ibadah kita setiap hari.

Allahu a’lam bish shawab.

Semoga bermanfaat.

Penulis: Ustadz Abdullah Imam hafizhahullah

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *