Shaf Lurus dan Rapat

Edisi: 15 || Tahun 1439 H

Tema: FIKIH

TERMASUK KESEMPURNAAN SHALAT

Shalat merupakan salah satu rukun dari lima rukun Islam, bahkan menempati urutan kedua setelah mengucapkan dua kalimat syahadat rukun yang pertama. Oleh karenanya ibadah shalat ini memiliki kedudukan dan keutamaan yang tinggi dalam syariat Islam.

Di antara yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan shalat ini adalah shalat sebagai tolok ukur dari seluruh amalan lainnya, baik dan buruknya seluruh amalan itu tergantung pada ibadah shalatnya.

Pembaca rahimakumullah. Rasulullah menuturkan,

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ اْلعَبْدُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الصَّلاَةُ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Amalan hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baik pula seluruh amalannya dan jika shalatnya jelek, maka jelek pula seluruh amalannya.”(HR. at-Thabarani, lihat “ash-Shahihah” no. 1358)

Sehingga, mengerjakan shalat bukan sekedar untuk lepas dari kewajiban semata. Ternyata shalat itu di sisi Allah, ada yang dinilai baik dan ada yang dinilai jelek. Oleh karenanya Allah memerintahkan, “Tegakkanlah shalat!” Bukan kerjakanlah shalat!

Menegakkan shalat maksudnya mengerjakan syarat-syarat shalat, rukun-rukunnya dan segala yang terkait dengan ibadah shalat dengan penuh khusyuk karena Allah. Dalam banyak ayat-Nya, Allah menyatakan, “Dan tegakkanlah shalat.” (QS. al-Baqarah: 43)

Yang perlu untuk diketahui oleh setiap muslim, bahwa di antara bagian dari makna menegakkan shalat adalah menata shaf sampai menjadi sempurna sebelum shalat ditegakkan. Inilah tema yang kami angkat pada buletin kali ini. Sehingga, buletin ini kami beri judul, “Shaf Lurus dan Rapat, Termasuk Kesempurnaan Shalat.”

Siapa yang tidak ingin shalatnya sempurna? Kami yakin, segenap pembaca yang budiman ingin mendapatkan shalat yang sempurna. Maka, marilah kita ikuti pembahasan berikut, semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk memahami dan mengamalkannya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Menata shaf adalah bagian dari menegakkan shalat yang diperintahkan oleh Allah . Dasarnya adalah hadits dari Anas bin Malik , bahwa Rasulullah bersabda,

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk dari menegakkan shalat.” (HR. al-Bukhari no. 723)

Menjelaskan hadits di atas, Imam an-Nawawi asy-Syafi’i berkata, “Sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk menegakkan shalat, yaitu termasuk menegakkan shalat sebagaimana yang Allah perintahkan dalam ayat-Nya, “Tegakkanlah shalat!”(Syarhul Muhadzab 4/226)

Makna Tasfiyatush Shufuf

Taswiyatush shufuf adalah menata shaf hingga benar-benar lurus, sejajar dan rapat. Shaf dikatakan lurus jika seluruh anggota badan tampak sejajar dengan jamaah shalat yang lainnya. Rasulullah menata shaf sebelum beliau memulai shalatnya. Dari Nu’man bin Basyir , ia bercerita,

ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلاً بَادِيًا صَدْرَهُ مِنَ الصَّفِّ فَقَالَ: عِبَادَ اللّٰهِ ! لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللّٰهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“Pada suatu hari, beliau keluar (untuk mengimami shalat). Beliau berdiri sampai hampir bertakbir, namun tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya keluar dari shaf. Maka beliau bersabda, “Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan menjadikan kalian berselisih.” (HR. Muslim no. 436)

Tasfiyatush shufuf juga bermakna menyempurnakan shaf. Makna ini lebih luas dibandingkan makna pertama. Yaitu, menyempurnakan penataan shaf agar sesuai dengan aturan-aturan yang telah diletakkan oleh Rasulullah. (Lihat Syarhul Mumti’ 3/11)

Dengan demikian, makna tasfiyatush shufuf ini meliputi banyak hal. Di antaranya adalah mengatur kelurusan shaf dan kerapatannya, menata jarak antar shaf-shaf, menata posisi jama’ah laki-laki dan wanita, menata posisi imam dan makmum, menata shaf anak-anak, baik laki-laki atau perempuan, menata posisi shaf dalam shalat jenazah dan lain-lain.

Semua ini adalah bagian dari menegakkan shalat dan semuanya telah dijelaskan dan dipraktikkan secara langsung oleh sebaik-baik panutan kita, nabi Muhammad.

Bimbingan Rasulullah

Sebaik-baik teladan adalah Rasulullah. Sebagai imam shalat, beliau sangat memperhatikan masalah ini. Sebelum memulai takbirul ihram, beliau memberikan dua bimbingan.

Pertama, bimbingan secara lisan. Yaitu, beliau menghasung dan memerintahkan para jama’ah agar menyempurnakan shaf dengan redaksi yang cukup banyak. Berikut ini beberapa redaksi yang diucapkan Rasulullah saat menata shaf shalat:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kelurusan shaf termasuk dari menegakkan shalat.” (HR. al-Bukhari no. 723).

Beliau juga berkata,

وَأَقِيْمُوْا الصَّفَّ فِي الصَّلاَةِ٬فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَّفَّ مِنْ حُسْنِ الصَّلاَةِ

“Dan tegakkanlah shaf di dalam shalat, karena sesungguhnya menegakkan shaf termasuk diantara baiknya shalat.” (HR. al Bukhari no. 722 dan Muslim no. 435, dari sahabat Abu Hurairah )

Dalam kesempatan lain, Rasulullah juga mengucapkan,

أقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ٬ وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللّٰهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’iy dan lainnya, lihat ash-Shahihah no.743)

Makna, “Lembutilah tangan-tangan (lengan) saudara kalian” adalah apabila ada seorang yang datang menuju shaf, lalu ia berusaha masuk, maka seyogyanya setiap orang melunakkan bahunya, sehingga ia bisa masuk ke dalam shaf.” (Lihat Sunan Abu Dawud, hal. 110)

Kesimpulan dari riwayat-riwayat di atas bahwa meluruskan dan merapatkan shaf adalah perintah dari nabi Muhammad. Bahkan beliau mempertegas dengan teguran yang keras bagi yang mengabaikan bimbingannya. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah bersabda,

اِسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ

“Luruslah kalian dan jangan kalian berselisih. (Apabila kalian berselisih) maka hati-hati kalian akan berselisih.” (HR. Muslim no. 432).

Dalam riwayat lain,

لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللّٰهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ

“Luruskanlah shaf kalian dengan sungguh-sungguh. Jika tidak, Allah benar-benar akan menjadikan hati-hati kalian berselisih.” (HR. al-Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436)

Perhatikan, Nabi mengancam orang yang tidak meluruskan shaf, seperti ada yang maju sedikit dan ada lagi yang agak ke belakang. Inilah yang dimaksud berselisih dalam hadits ini.

Kedua, bimbingan secara praktik dari beliau. Al-Baraa’ bin ‘Azib, ia bercerita, bahwa Rasulullah biasa memeriksa shaf dari satu sisi ke sisi yang lainnya, seraya meratakan dada-dada dan bahu-bahu kami dan berkata, “(Luruslah kalian), jangan kalian berselisih. (Apabila kalian berselisih) maka hati-hati kalian akan berselisih.” (HR. Abu Dawud no. 664).

Nu’man bin Basyir juga menceritakan, Rasulullah meluruskan shaf kami seakan-akan beliau meluruskan anak panah sampai beliau menganggap kami telah memahaminya.”(HR. Muslim no. 436).

Para pembaca rahimakumullah, demikian bimbingan Rasulullah dalam menata shaf dalam shalat berjama’ah. Sungguh begitu perhatiannya beliau dalam masalah ini, maka sepatutnya kita meneladani beliau jika shalat kita ingin sempurna.

Wallahu a’lam bish-Shawab.

Penulis: Ustadz Arif

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.